Strategi BPKH Kelola Dana Haji Tetap Aman & Bermanfaat Bagi Jemaah

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
29 September 2026 18:05
Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah (Kanan) saat menghadiri Cuap-Cuap Cuan di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Maikel Jefriando)
Foto: Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah (Kanan) saat menghadiri Cuap-Cuap Cuan di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Maikel Jefriando)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) membuktikan komitmen dalam pengelolaan dana agar pelaksanaan haji bisa berjalan lancar. Salah satunya dalam penempatan dana pada setiap instrumen investasi.

Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah mengatakan, dalam kondisi pasar saat ini, instrumen berpendapatan tetap dengan risiko relatif rendah menjadi pilihan dalam pengelolaan dana haji.

Untuk instrumen yang memenuhi prinsip syariah, salah satu yang menjadi perhatian adalah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

"Kalau saya melihatnya di ekonomi sekarang, yang paling aman itu justru risk-free investment, Surat Berharga Negara. Di kita karena harus ada syariahnya, jadi SBN-nya ditambah SBSN," kata Fadlul saat berbincang dengan CNBC Indonesia.

Menurutnya, tingkat imbal hasil yang tersedia di pasar menjadi menarik bagi pengelola dana haji.

Fadlul menyebut strategi pengelolaan investasi BPKH dalam kondisi pasar yang bergejolak dapat dilihat dari perspektif kontrarian atau berlawanan dengan pasar karena memiliki daya tawar yang besar.

Ketika sebagian pelaku pasar cenderung berhati-hati akibat volatilitas, kondisi tersebut justru dapat menciptakan peluang untuk mendapatkan instrumen dengan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

"Kalau kita bicara sebagai kontrarian, time deposit sekarang juga bisa di atas 6%," kata Fadlul.

Bagi pengelola dana dengan horizon investasi panjang dan kebutuhan likuiditas yang terukur, kondisi tersebut memberikan ruang untuk melakukan penempatan dana pada instrumen dengan karakter pendapatan yang lebih pasti.

Fadlul menjelaskan, salah satu karakteristik dana haji adalah adanya arus dana yang terus masuk seiring masyarakat melakukan pendaftaran haji.

Menurut dia, motivasi masyarakat untuk menunaikan ibadah haji membuat pendaftaran haji menjadi kebutuhan jangka panjang bagi umat Muslim.

"Orang yang belum daftar haji, ultimate goal-nya sebagai Muslim kan harus haji. Jadi bagaimana caranya saya harus berangkat haji, mengumpulkan uang dan sebagainya," ujarnya.

Arus dana yang terus terakumulasi tersebut kemudian memberikan ruang bagi pengelola untuk melakukan pengelolaan portofolio dalam skala besar.

Semakin besar dana yang dikelola, menurut Fadlul, semakin besar pula daya tawar dalam melakukan penempatan dana, termasuk ketika bernegosiasi dengan perbankan untuk mendapatkan tingkat imbal hasil yang kompetitif.

"Cashflow yang menguntungkan dari sisi pengelolaan, dengan dana yang terakumulasi besar kita masuk ke deposito, kita punya bargaining power untuk meminta rate yang lebih baik," katanya.

Strategi tersebut juga berlaku ketika terjadi perubahan harga di pasar surat berharga.

Fadlul mengatakan, ketika pasar mengalami tekanan dan tingkat yield meningkat, kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk masuk ke instrumen tertentu.

"Pada saat ada market agak sedikit batuk-batuk, itu kesempatan buat kami. Misalnya, wah ini yield-nya 7,3%, 7,2%. Kita bisa beli nggak nih?" ujarnya.

"Kapan lagi dapat yield di atas 7%? Jadi ibaratnya tidak ngapa-ngapain, beli Surat Berharga Syariah Negara dapat 7%," ujarnya.

Perlu diketahui, harga surat berharga dan yield bergerak berlawanan arah. Ketika harga surat berharga turun, yield yang ditawarkan kepada investor dapat meningkat.

Bagi investor dengan dana besar dan horizon investasi yang sesuai, kenaikan yield dapat membuat instrumen tersebut menjadi lebih menarik untuk dipertimbangkan.

Namun, peluang tersebut tidak selalu mudah dieksekusi. Fadlul mengungkapkan tantangan lain yang dihadapi dalam investasi syariah bukan semata-mata mencari instrumen dengan yield menarik, tetapi juga ketersediaan surat berharga di pasar.

"Saya selalu menyampaikan ke teman-teman, ini kita bisa beli nggak nih? Walaupun ada kekhususan tertentu di market-nya syariah," kata Fadlul.

Menurut dia, keterbatasan penerbitan surat berharga syariah membuat jumlah instrumen yang tersedia di pasar tidak selalu sebanding dengan permintaan investor.

"Likuiditas bukan isu. Kenapa? Karena surat berharganya sendiri memang secara issuance-nya itu tidak terlalu banyak. Sementara permintaannya semakin banyak," ujarnya.

Akibatnya, ketika ada investor yang melepas kepemilikan SBSN dengan yield menarik, investor lain dapat langsung berebut untuk menyerapnya.

(ras/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BI: RI Jangan Cuma Jadi Pasar, Harus Jadi Produsen Halal Dunia


Most Popular
Features