Kenapa Al-Qur'an Dianggap sebagai Mukjizat Terbesar? ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam tradisi Islam, mukjizat dipahami sebagai peristiwa luar biasa yang melampaui kemampuan manusia. Para nabi terdahulu memiliki mukjizat fisik yang spektakuler, seperti Nabi Musa AS membelah laut atau Nabi Isa AS berbicara sejak bayi.
Namun mukjizat tersebut umumnya bersifat situasional dan terbatas pada zamannya, berbeda dengan Al-Qur'an yang diyakini bersifat universal, abadi, dan tetap relevan hingga kini.
Mukjizat yang Bersifat Abadi
Dalam kajian ilmu tafsir dan ulumul Qur'an, mukjizat para nabi sebelumnya sering disebut bersifat indrawi atau material, sehingga tidak lagi dapat disaksikan secara langsung oleh generasi setelahnya.
Berbeda dengan mukjizat fisik nabi sebelumnya, Al-Qur'an dipandang sebagai mukjizat yang kekal. Banyak ulama dan kajian akademik menyebut kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada sifatnya yang universal dan berlaku sepanjang zaman, sehingga tidak terbatas pada satu peristiwa sejarah saja.
Selain itu, kitab suci ini terus menjadi pedoman hidup umat Islam hingga saat ini, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun etika kehidupan. Hal inilah yang membuat sebagian umat Islam melihat Al-Qur'an bukan hanya sebagai mukjizat sesaat, melainkan sebagai referensi berkelanjutan dalam kehidupan manusia.
Keunikan Bahasa dan Sastra
Salah satu aspek yang sering dibahas dalam literatur akademik adalah keunikan bahasa Al-Qur'an. Banyak penelitian menyoroti gaya bahasa, struktur retorika, dan komposisi linguistiknya yang dianggap tidak dapat ditiru (inimitability atau i'jaz al-Qur'an).
Keunikan literer ini bahkan disebut berperan dalam mendorong kebangkitan intelektual masyarakat Arab awal Islam dan menjadi referensi peradaban baru yang berkembang saat itu.
Dalam konteks modern, studi linguistik juga menunjukkan peran Al-Qur'an dalam menjaga dan membentuk perkembangan bahasa Arab, menjadikannya sumber penting dalam studi bahasa dan sastra.
Dampak Sosial dan Peradaban
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban manusia berkembang pesat ketika kemampuan baca-tulis mulai meluas. Bahkan sebelum mengenal aksara, manusia sudah meninggalkan ukiran, lukisan dinding, dan simbol sebagai media komunikasi.
Dalam konteks ini, Al-Qur'an sering dipandang sebagai mukjizat berbasis literasi dan pemikiran. Tradisi membaca, menulis, serta kajian ilmu berkembang kuat dalam peradaban Islam, sebagian dipicu oleh dorongan untuk memahami isi kitab suci tersebut.
Banyak ilmuwan melihat kitab suci ini tidak hanya sebagai teks spiritual, tetapi juga sebagai referensi moral, hukum, hingga etika sosial. Bahkan dalam kajian modern, interpretasi ilmiah terhadap Al-Qur'an menjadi bidang studi tersendiri yang terus berkembang.
Mengapa Disebut Mukjizat Terbesar?
Jika mukjizat nabi terdahulu bersifat situasional, Al-Qur'an dinilai memiliki dampak yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia tidak hanya menjadi bukti kerasulan, tetapi juga pedoman hidup, sumber inspirasi ilmu pengetahuan, serta referensi etika bagi miliaran manusia selama lebih dari 14 abad.
Mukjizat ini lah yang membangun dan mempertahankan peradaban islam hingga hari ini. Karena sifatnya yang terus relevan dan pengaruhnya yang lintas zaman, banyak umat Islam meyakini Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar.
Bukan karena efek spektakuler sesaat, lebih dari itu, Al-Qur'an memiliki dampak yang mendalam dan berkelanjutan dalam kehidupan manusia.
(dag/dag) Add
source on Google