Dongkrak Ekonomi Syariah, RI Butuh Hal Ini

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Selasa, 24/02/2026 14:06 WIB
Foto: Kepala CSED INDEF, Prof. Nur Hidayah menyampaikan sambutan dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah: Sharia Investment Forum 2026 di Jakarta, Selasa (24/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Prof. Nur Hidayah buka-bukaan soal potensi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Ia mengatakan, dalam perjalanannya ekonomi syariah terus mengalami pertumbuhan. Di mana aset perbankan syariah dan pasar modal terus berkembang, seiring menggeliatnya industri halal. Sehingga tidak heran jika Indonesia bisa konsisten masuk dalam jajaran atas global islamic indicator.

"Namun kita tidak boleh menutup mata. Pertumbuhan industri tak selalu identik dengan pendalaman nilai dan penguatan struktur. Pertumbuhan aset dan ekspansi lembaga belum tentu otomatis menghasilkan transformasi sistem berbasis keadilan, dan berkelanjutan," ujarnya dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah Indonesia 2026 bertema "Pengarustamaan Ekonomi Syariah Sebagai Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (24/2/2026).


Hal tersebut lanjutnya bukan tanpa alasan, mengingat Indonesia masih menghadapi fragmentasi ekosistem. Akademisi, industri, dan regulator saat ini belum bergerak dalam satu irama.

"Kita menghadapi tantangan menerjemahkan prinsip-prinsip syariah ke dalam instrumen yang benar-benar berdampak secara sosial dan ekonomi," ujarnya.

Oleh sebab itu ujar Nur Hidayah, di tengah tekanan global yang kompleks, ketidakpastian geopolitik, krisis iklim, disrupsi kecerdasan buatan, hingga pergeseran arsitektur keuangan dunia, ekonomi syariah dituntut untuk tidak hanya adaptif tetapi transformatif.

Untuk mencapai hal itu, diperlukan kerjasama yang kuat antar setiap pihak untuk mendorong kemajuan ekonomi syariah yang memberi dampak keadilan dan berkelanjutan.

"Kita butuh konsolidasi epistomeilogis. Fondasi berpikir yang tidak formalisme, kita butuh keberanian intelektual untuk mengkritisi praktik yang ada dan kita butuh sinergi. Bukan hanya berhenti di MoU. Tapi melahirkan riset, rekomendasi kebijakan yang terus diimplementasikan dan inovasi yang memberikan dampak," terangnya.


(dpu/dpu) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:INDEF & PR RI Jadi Juara Ekonomi Syariah Dunia Kalahkan Malaysia