Kalimat Ini Muncul 31 Kali dalam Al Quran, Maknanya Dalam
Dafar Isi
- 1. Fabiayyi 'Alaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan - Surah Ar-Rahman (31 Kali)
- 2. Waylun Yawmaithin Lilmukaththibeena - Surah Al-Mutaffifin (11 Kali)
- 3. Wa Inna Rabbaka Lahuwa Al-'Azizur Rahim - Surah Asy-Syu'ara (8 Kali)
- 4. Fattaqullaha wa Athi'uni - Surah Asy-Syu'ara (8 Kali)
- 5. Inna Fi Dzalika Laayatan... - Surah Asy-Syu'ara (6 Kali)
- 6. Wa Yaqooloona Mata Hadzal Wa'du... - Surah Al-Mulk (6 Kali)
- 7. Inni Lakum Rasulun Amin - Surah Asy-Syu'ara (5 Kali)
- 8. Wa Ma As'alukum 'Alaihi Min Ajr... - Surah Asy-Syu'ara (5 Kali)
- 9. Wa Laqad Yassarnal Qur'ana Lidz Dzikri... - Surah Al-Qamar (4 Kali)
Jakarta, CNBC Indonesia - Al Quran selalu menyimpan kedalaman makna yang tak habis digali. Terlebih di bulan Ramadan, ketika umat Muslim berlomba memperbanyak ibadah dan memperdalam pemahaman terhadap kitab suci sebagai pedoman hidup.
Di antara ribuan ayat yang termaktub, terdapat sejumlah kalimat yang berulang kali disebut. Pengulangan ini bukan tanpa alasan. Selain menegaskan pesan, ayat-ayat tersebut juga kerap menjadi kutipan populer untuk menguatkan semangat, menumbuhkan kesabaran, hingga mengajak pada kebaikan.
Berikut sembilan kalimat yang paling sering disebut dalam Al Quran beserta maknanya.
1. Fabiayyi 'Alaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan - Surah Ar-Rahman (31 Kali)
Kalimat ini berarti, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ayat ini menjadi yang paling sering diulang, yakni 31 kali dalam Surah Surah Ar-Rahman. Pengulangannya tersebar dari ayat ke-13 hingga ayat ke-77.
Maknanya menegaskan limpahan nikmat Allah SWT kepada manusia dan jin. Dengan nada tanya yang berulang, ayat ini mengajak untuk merenung dan tidak mengingkari karunia yang begitu banyak, baik yang terlihat maupun tidak.
2. Waylun Yawmaithin Lilmukaththibeena - Surah Al-Mutaffifin (11 Kali)
Artinya, "Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan kebenaran."
Dalam Surah Al-Mutaffifin, kalimat ini muncul sebanyak 11 kali. Pesannya tegas: peringatan keras bagi mereka yang mengingkari hari pembalasan dan kebenaran wahyu.
Pengulangan ini menegaskan konsekuensi moral dan spiritual atas sikap mendustakan kebenaran.
3. Wa Inna Rabbaka Lahuwa Al-'Azizur Rahim - Surah Asy-Syu'ara (8 Kali)
Kalimat ini bermakna, "Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang."
Tercantum berulang dalam Surah Asy-Syu'ara sebanyak delapan kali, ayat ini menegaskan dua sifat utama Allah SWT: kekuasaan mutlak dan kasih sayang yang luas.
Pesan ini memberi keseimbangan antara rasa takut dan harap dalam beribadah.
4. Fattaqullaha wa Athi'uni - Surah Asy-Syu'ara (8 Kali)
Artinya, "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku."
Masih dalam Surah Asy-Syu'ara, kalimat ini juga diulang delapan kali. Seruan tersebut disampaikan para nabi kepada kaumnya sebagai inti dakwah: ketakwaan kepada Allah dan ketaatan kepada rasul.
Pengulangannya menunjukkan konsistensi pesan tauhid sepanjang sejarah kenabian.
5. Inna Fi Dzalika Laayatan... - Surah Asy-Syu'ara (6 Kali)
Maknanya, "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman."
Ayat ini muncul enam kali dalam Surah Asy-Syu'ara. Ia mengajak manusia untuk melihat berbagai peristiwa sebagai tanda kebesaran Allah, sekaligus menyadarkan bahwa tidak semua orang mau mengambil pelajaran.
6. Wa Yaqooloona Mata Hadzal Wa'du... - Surah Al-Mulk (6 Kali)
Artinya, "Mereka berkata, 'Kapankah (datangnya) janji (azab) ini jika kamu orang-orang benar?'"
Dalam Surah Al-Mulk, kalimat ini menampilkan sikap meragukan dari kaum yang menantang kebenaran janji Allah.
Pengulangan ini menggambarkan pola penolakan yang terus berulang sepanjang zaman.
7. Inni Lakum Rasulun Amin - Surah Asy-Syu'ara (5 Kali)
Kalimat ini berarti, "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu."
Disebut lima kali dalam Surah Asy-Syu'ara, ayat ini menegaskan integritas para nabi sebagai utusan yang amanah dan dapat dipercaya.
Pesan ini menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan terhadap risalah yang dibawa.
8. Wa Ma As'alukum 'Alaihi Min Ajr... - Surah Asy-Syu'ara (5 Kali)
Artinya, "Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam."
Masih dalam Surah Asy-Syu'ara, ayat ini diulang lima kali. Ia menegaskan ketulusan dakwah para nabi yang tidak berorientasi pada keuntungan materi.
Pesan ini memperkuat nilai keikhlasan dalam menyampaikan kebenaran.
9. Wa Laqad Yassarnal Qur'ana Lidz Dzikri... - Surah Al-Qamar (4 Kali)
Maknanya, "Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur'an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Dalam Surah Al-Qamar, kalimat ini muncul empat kali. Ayat tersebut menegaskan bahwa Al Quran telah dimudahkan untuk dipahami dan direnungkan, tinggal sejauh mana manusia bersedia mengambil hikmah.
Pengulangan ayat-ayat tersebut menunjukkan pola penegasan dalam Al Quran. Pesan yang dianggap fundamental-tentang syukur, ketakwaan, keikhlasan, hingga peringatan hari pembalasan-disampaikan berulang agar tertanam kuat dalam kesadaran pembacanya.
Di antara semuanya, kalimat "Fabiayyi 'Alaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan" menjadi yang paling dominan. Pertanyaan retoris itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ajakan untuk terus mengingat dan mensyukuri nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
(dce)