Jokowi Akan Resmikan BSI, Begini Potret Perbankan Syariah RI

Syariah - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 February 2021 07:45
Bank Syariah Indonesia. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Konsolidasi (merger) PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah memiliki konsekuensi besar terhadap peta persaingan industri perbankan syariah nasional.

Penggabungan ketiganya akan membentuk satu entitas baru yang diberi nama PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. Hari ini Senin (1/2/2021) Presiden Republik Indonesia Joko Widodo akan meresmikan pendirian BSI.

Bertindak sebagai surviving entity atau yang menerima penggabungan adalah BRIS yang sudah melantai di pasar modal sejak Mei 2018 silam. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menjadi pemegang saham pengendali terbesar dengan total kepemilikan mencapai 51,2%. 


Di posisi kedua ada PT Bank BNI Tbk (BBNI) yang memiliki 25% dan barulah PT Bank BRI Tbk (BBRI) yang memiliki 17,4% saham BSI yang akan tetap melantai di pasar modal dengan kode BRIS ini. 

Penggabungan ketiga bank syariah anak usaha bank pelat merah tersebut akan bank syariah terbesar di Indonesia. Dari sisi aset jika dikonsolidasikan nilainya mencapai Rp 227,8 triliun atau setara dengan 40,5% dari total industri perbankan syariah yang terdiri dari Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Tidak hanya dari sisi aset saja yang kontribusinya besar tetapi juga dari pembiayaan yang disalurkan. Nilai pembiayaan total yang disalurkan oleh ketiga bank ini pada September tahun lalu tercatat mencapai Rp 152 triliun. Lagi-lagi lebih dari 40% dari total penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah. 

Sebagai market leader di segmen syariah, BSI diharapkan mampu menjadi motor industri syariah di Tanah Air. Selain itu merger ini diharapkan bakal meningkatkan efisiensi bisnis internalnya.

Dengan aksi korporasi ini BSI akan menjadi Bank BUKU III dengan modal inti sebesar Rp 20,42 triliun. Pasar pun merespons positif atas aksi korporasi ini. Harga saham BRIS pun terbang tinggi. 

Kendati mengalami koreksi yang tajam dan beberapa kali menyentuh level auto reject bawah (ARB) belakangan ini, harga saham BRIS masih terapresiasi lebih dari 650% dalam satu tahun terakhir. 

Antusiasme pelaku pasar ini tak terlepas dari peningkatan valuasi perusahaan pasca-merger, prospek positif industri siklikal perbankan serta adanya tren bullish di pasar saham yang terjadi sejak pelonggaran lockdown ditempuh. 

Prospek & Tantangan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading