Umroh Jadi Ketat, Usai Kasus Jemaah RI Positif Covid di Saudi

Syariah - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
18 November 2020 15:12
Ilustrasi Foto Umroh, Dokuments Kementrian Agama Foto: Dokumentasi Kementrian Agama

Jakarta, CNBC Indonesia - Persiapan umroh bagi jemaah Indonesia bakal makin ketat, bakal ada karantina lebih dahulu sebelum berangkat ke Saudi. Hal ini menyusul temuan banyaknya kasus jemaah umroh Indonesia yang dinyatakan positif covid-19 di Saudi.

Kementerian Agama (Kemenag) mengungkapkan sejumlah catatan dan evaluasi atas penyelenggaraan ibadah umrah 3 gelombang pada 1, 3 dan 8 November 2020 di masa pandemi dengan jumlah jemaah 359 orang, dan diberangkatkan oleh 44 Penyelenggara Perjalalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Pertama, Menteri Agama Fachrul Razi saat rapat kerja bersama Komisi VIII DPRI di Jakarta, Rabu (18/11) mengatakan ternyata jemaah berangkat umrah tanpa adanya karantina terlebih dahulu di Indonesia. Namun langsung berkumpul pada hari keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.


Kedua, jemaah yang melakukan tes PCR/SWAB mepet dengan waktu keberangkatan dan pada satu laboratorium, sehingga pada saat akan berangkat PCR/SWAB belum keluar.

Ketiga, kedatangan jemaah di hotel Makkah langsung dikarantina selama 3 hari dan dilakukan PCR/SWAB oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Hasil tes pemberangkatan tanggal 1 November 2020 terkonfirmasi jemaah positif covid-19 sebanyak 8 orang, tanggal 3 November 2020 terkonfirmasi positif covid-19 sebanyak 5 orang, dan tanggal 8 November 2020 tidak ada yang positif covid-19.

"Dari 13 orang yang positif, 3 di antaranya sudah kembali ke Indonesia, 7 orang malam nanti akan kembali ke Tanah Air, 3 masih karantina di Saudi," kata Fachrul Razi dalam pernyataan resminya, Rabu (18/11).

Kementerian Agama melakukan sejumlah evaluasi atas penyelenggaraan ibadah umroh pada masa pandemi tersebut, yaitu perlunya karantina jemaah pada saat keberangkatan minimal 3 hari. Hal ini dilakukan guna memastikan proses tes PCR/SWAB dilakukan dengan benar, tidak mepet waktunya.

"Juga menghindari risiko adanya pemalsuan data status Jemaah," katanya.

Selain itu, pentingnya melakukan verifikasi dan validasi dokumen hasil SWAB/PCR yang dilakukan oleh petugas Kementerian Kesehatan RI sesuai protokol kesehatan untuk pelaku perjalanan dari luar negeri.

"Hasil di lapangan, bukti dokumen bebas covid-19 belum terferifikasi secara sistem sehingga masih ada kemungkinan pemalsuan bukti bebas covid-19," katanya.

Para jemaah juga harus melaksanakan disiplin yang ketat terkait dengan penerapan protokol kesehatan selama masa karantina, baik di Tanah Air maupun di hotel tempat jemaah menginap.

Jemaah saat kedatangan di Tanah Air setelah ini akan dilakukan prosedur karantina oleh KKP Bandara Soetta jika Jemaah tidak dapat menunjukkan bukti hasil PCR/SWAB positif dari kesehatan Saudi.

"Jemaah akan dilakukan tes PCR/SWAB selama masa karantina, dan baru diijinkan melanjutkan perjalanan ke daerah asal setelah menunjukkan hasil negatif," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading