Calvin Verdonk-Mirwan Suwarso, 2 Sosok RI Bersinar di Liga Champions
Aceh, CNBC Indonesia - Sepak bola Indonesia mulai memiliki cerita tersendiri di panggung tertinggi Eropa. Bukan hanya melalui pemain yang berlaga di lapangan, tetapi juga lewat sosok di balik manajemen klub yang berhasil membangun tim hingga menembus kompetisi elite sepak bola dunia. Dua nama yang menjadi sorotan adalah Calvin Verdonk dan Mirwan Suwarso.
Verdonk mencatatkan sejarah setelah dinobatkan sebagai Man of the Match (MOTM) dalam pertandingan Liga Champions UEFA 2026/2027 bersama LOSC Lille. Sementara itu, Mirwan menjadi salah satu tokoh penting di balik perkembangan Como 1907, klub Italia yang kini mampu bersaing di kompetisi yang sama.
Verdonk meraih penghargaan MOTM ketika Lille menghadapi Bodo/Glimt pada matchday keempat Liga Champions, Rabu (4/11/2026) dini hari WIB. Pertandingan yang berlangsung di Aspmyra Stadion, Norwegia, tersebut berakhir dengan skor imbang 0-0.
Bek Timnas Indonesia itu tampil sebagai starter dan bermain selama 90 menit. Sepanjang pertandingan, Verdonk mencatatkan empat tekel, satu intersepsi, dan tiga sapuan. Ia juga membukukan akurasi operan sebesar 83%.
Performa tersebut membuatnya mendapatkan pengakuan sebagai pemain terbaik pertandingan. Pencapaian ini sekaligus menjadikannya pemain Indonesia pertama yang meraih penghargaan MOTM di Liga Champions.
Verdonk mengaku bangga atas pencapaian tersebut, meskipun hasil pertandingan belum sesuai dengan harapannya.
"Saya akan menaruhnya di samping TV, jadi saya bisa terus melihatnya," ujar Verdonk, dikutip dari situs resmi klub pada Sabtu (7/11/2026).
Namun, penghargaan individu itu tidak sepenuhnya menghapus kekecewaannya. Ia menginginkan Lille membawa pulang kemenangan, mengingat klub tersebut belum mendapatkan hasil maksimal dalam kompetisi musim ini.
"Saya maunya menang, sebab kami belum pernah menang. Kami sudah berjuang keras, maka satu poin ini cukup berharga," tegasnya.
Di tengah pencapaian Verdonk, nama Indonesia lainnya juga menjadi perhatian dalam perkembangan Liga Champions musim ini. Sosok tersebut adalah Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 yang menjadi bagian penting dalam proyek pembangunan klub asal Italia tersebut.
Mirwan Suwarso dan Transformasi Como 1907
Como 1907 merupakan klub yang memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya tampil di Liga Champions. Klub yang bermarkas di tepi Danau Como, Italia, tersebut sebelumnya bukanlah kekuatan utama sepak bola Italia.
Perubahan besar terjadi pada 2019 ketika klub tersebut diakuisisi oleh pengusaha Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, melalui SENT Entertainment.
Saat akuisisi dilakukan, Como masih berkompetisi di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia. Klub tersebut kemudian menjalani proses pembangunan secara bertahap, baik dari sisi organisasi, infrastruktur, maupun kualitas pemain.
Pada akhir musim 2018/2019, Como berhasil menjadi juara Serie D dan naik ke Serie C. Dua musim kemudian, klub tersebut kembali meraih promosi setelah menjuarai Serie C musim 2020/2021.
Perjalanan menuju kasta tertinggi juga berlangsung relatif cepat. Como berhasil mendapatkan tiket promosi ke Serie A pada musim 2023/2024 setelah finis sebagai runner-up Serie B.
Setelah kembali ke Serie A pada 2024, Como melanjutkan perkembangan dengan finis di posisi keempat pada musim berikutnya. Hasil tersebut mengantarkan mereka untuk pertama kalinya tampil di Liga Champions musim 2026/2027.
Dalam proses tersebut, Mirwan Suwarso dipercaya menjadi Presiden Como dan mewakili kepentingan pemilik klub. Latar belakangnya di industri media dan hiburan turut menjadi bagian dari pendekatan pengembangan bisnis klub.
Namun, pembangunan Como tidak hanya mengandalkan kekuatan finansial keluarga Hartono. Klub juga membangun identitas permainan, sistem perekrutan pemain, pengembangan talenta muda, serta strategi komersial yang lebih luas.
Salah satu figur penting dalam proyek tersebut adalah Cesc Fabregas.
Mantan pemain Barcelona, Arsenal, dan Chelsea itu bergabung dengan Como sebagai pemain pada 2022 sebelum beralih menjadi pelatih kepala pada 2024.
Fabregas kemudian berperan besar dalam membentuk filosofi permainan Como yang mengutamakan penguasaan bola, tekanan tinggi, dan sepak bola menyerang.
Mirwan juga menerapkan pendekatan perekrutan yang memperhatikan kecocokan pemain dengan filosofi permainan klub. Strategi ini mengadopsi sejumlah prinsip yang digunakan klub seperti Brighton dan Brentford dalam menemukan pemain potensial dengan nilai yang relatif efisien.
Dengan demikian, Como tidak hanya dibangun sebagai klub yang mengandalkan belanja pemain, tetapi juga sebagai organisasi sepak bola dengan identitas dan sistem pengelolaan jangka panjang.
Como Bantai Lens 9-1, Ukir Sejarah Liga Champions
Hasil pembangunan tersebut mulai terlihat di Liga Champions 2026/2027.
Dalam empat pertandingan awal, Como berhasil mencatatkan tiga kemenangan. Mereka membuka perjalanan dengan mengalahkan RB Leipzig 4-1, kemudian sempat kalah dari Feyenoord sebelum bangkit dengan kemenangan 4-1 atas Manchester United.
Namun, pencapaian terbesar datang ketika Como menghadapi wakil Prancis, RC Lens, pada Rabu (4/11/2026).
Como secara mengejutkan menang dengan skor telak 9-1 di Stade Bollaert-Delelis. Hasil tersebut menyamai rekor kemenangan terbesar dalam sejarah Liga Champions dengan selisih delapan gol.
Kemenangan itu juga menjadi kemenangan tandang dengan selisih gol terbesar dalam sejarah kompetisi tersebut.
Anastasios Douvikas menjadi salah satu bintang pertandingan setelah mencetak tiga gol. Sementara Nico Paz turut berkontribusi melalui satu gol dan dua assist.
Bagi Como, hasil tersebut bukan sekadar kemenangan besar. Klub yang baru kembali ke Serie A pada 2024 itu kini mampu menempatkan diri di antara tim-tim elite Eropa.
Tiga kemenangan dari empat pertandingan membuat Como mengoleksi sembilan poin dan menempati posisi keempat klasemen sementara fase liga.