MARKET DATA

Harga Batu Bara Ambruk 3 Hari Beruntun, Terburuk Sebulan Lebih

mae,  CNBC Indonesia
05 November 2026 08:35
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesi
Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk di tengah anjloknya harga minyak dan permintaan.

Pada perdagangan Rabu (4/11/206), harga batu bara ditutup di posisi US$ 145,15 per ton. Harganya melemah 1,6%.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan jatuh 4,8% dalam tiga hari beruntun.

Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 25 September 2026 atau sebulan lebih.

Ambruknya harga batu bara dipicu kejatuhan minyak dan permintaan.

Harga minyak mentah dunia ambruk lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Minyak dan batu bara adalah dua komoditas substsitusi yang harganya saling memengaruhii.

Dari Tiongkok dilaporkan pasar batu bara kokas China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harga bahan baku utama industri baja ini masih tertekan, seiring melemahnya permintaan musiman dan sikap hati-hati pembeli.

Mengutip laporan Sxcoal, Rabu (4/11/2026), pelemahan harga lelang batu bara kokas semakin memperkuat tekanan di pasar. Di saat bersamaan, ekspektasi pemangkasan harga kokas metalurgi (metallurgical coke) juga meningkat.

 

Perlambatan permintaan baja menjadi salah satu faktor utama. Penurunan produksi besi cair dan aktivitas pabrik kokas membuat kebutuhan bahan baku ikut menyusut. Kondisi ini mendorong pembeli menahan transaksi dan menghindari penumpukan persediaan.

Tekanan juga terlihat di pasar berjangka. Pada perdagangan kemarin, kontrak batu bara kokas utama China untuk pengiriman Januari 2027 ditutup di level CNY1.370 per ton, turun CNY13,5 dibandingkan hari sebelumnya.

Meski demikian, ruang penurunan harga diperkirakan tidak terlalu lebar. Sejumlah pabrik kokas masih menghadapi kerugian dan memiliki persediaan relatif rendah. Kondisi tersebut berpotensi menahan produsen untuk memangkas harga lebih dalam.

Di sisi lain, pasar batu bara termal China menunjukkan dinamika berbeda berdasarkan kualitas kalori. Pasokan batu bara berkalori tinggi (high-CV) relatif ketat sehingga harganya cenderung menguat. Sebaliknya, batu bara berkalori rendah (low-CV) masih menghadapi tekanan dan diperdagangkan dengan diskon akibat permintaan yang lemah.

 

Kabar buruk juga datang dari India. Antara Januari hingga Oktober, pengiriman batu bara ke India turun 7% secara tahunan akibat meningkatnya biaya impor.

Permintaan batu bara termal masih kuat, terutama dari sektor pembangkit listrik. Namun, produksi tambang domestik belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut sehingga pembangkit listrik terpaksa mengurangi persediaan batu bara.

Biaya impor batu bara meningkat akibat pelemahan rupee dan kenaikan harga batu bara.

Harga komoditas ini menguat seiring lonjakan permintaan setelah gangguan di Selat Hormuz. Mengetatnya pasokan LNG mendorong Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara.

Sebagai importir batu bara terbesar kedua di dunia dengan pangsa sekitar 17% dari total pengiriman global, pelemahan permintaan impor India turut menekan pasar batu bara internasional.

Dampak paling besar dirasakan segmen kapal supramax, yang pengiriman batu bara ke India turun 16% secara tahunan. Sementara itu, pengiriman menggunakan kapal panamax hanya turun 4% karena semakin bersaing dengan segmen kapal lainnya untuk mengangkut batu bara.

Ekspor Batu Bara Australia Naik 2% hingga Oktober 2026

Ekspor batu bara termal Australia (non-coking coal) mencapai 19,20 juta ton pada Oktober 2026, naik 17,6% dibandingkan September dan 1,4% secara tahunan. Dengan capaian tersebut, total ekspor Januari-Oktober meningkat sekitar 2% menjadi 170,35 juta ton, dari 167,07 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemulihan ekspor terutama ditopang oleh peningkatan pengiriman melalui pelabuhan Newcastle yang melonjak 28,7% secara bulanan menjadi 14,30 juta ton. Dari sisi tujuan, pembelian Korea Selatan naik 40,8% menjadi 2,69 juta ton, sementara pengiriman ke Taiwan lebih dari dua kali lipat menjadi 2,32 juta ton. Sebaliknya, pengiriman ke China turun 4,1% menjadi 6,13 juta ton.

 

Secara kumulatif, Korea Selatan mencatat kenaikan pembelian terbesar, yakni 58% menjadi 20,19 juta ton. Sementara itu, ekspor ke China turun sekitar 5% menjadi 49,24 juta ton dan Vietnam merosot 26% menjadi 7,89 juta ton.

Pergeseran tujuan ekspor ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor Australia masih ditopang oleh kuatnya permintaan dari sejumlah negara Asia, terutama Korea Selatan dan Taiwan.

Berbeda dengan batu bara termal, ekspor batu bara kokas (coking coal) Australia turun 10,8% secara bulanan menjadi 12,49 juta ton pada Oktober 2026. Meski demikian, volumenya masih tumbuh 1,8% dibandingkan Oktober 2025. Secara kumulatif, ekspor Januari-Oktober naik 4,3% menjadi 126,52 juta ton.

Kenaikan secara tahunan terutama ditopang oleh lonjakan permintaan China. Sepanjang Januari-Oktober, pengiriman ke China mencapai 18,65 juta ton, melonjak 89% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, ekspor ke India turun 14,6% menjadi 27,94 juta ton, sementara pengiriman ke Korea Selatan merosot 7,9% menjadi 14,89 juta ton.

(mae/mae)



Most Popular