MARKET DATA

10 Perampokan Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Binance Ikut Terseret

mae,  CNBC Indonesia
31 October 2026 10:00
Binance (Photo by Executium on Unsplash)
Foto: Binance (Photo by Executium on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peretasan senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp 114,6 triliun (US$1= Rp 18.120) mengguncang Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Aksi pencurian ini menjadi peretasan aset digital terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.

Serangan ini bukan hanya menjadi pukulan besar bagi industri aset digital, tetapi juga memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan dana pengguna dan kemampuan bursa kripto melindungi aset yang mereka kelola.

Berdasarkan analisis blockchain, sebagian besar pencurian berlangsung hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Binance kini berupaya membekukan aset curian, memulihkan layanan, dan menanggung kerugian yang terkonfirmasi.

Kripto Rawan Dibobol?

Teknologi di balik jaringan mata uang kripto kerap sulit dipahami. Namun, sejumlah pencurian digital terbesar di dunia justru tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga mengeksploitasi celah keamanan dan kepercayaan manusia.

 

Sebelum kasus Binance dalam materi tambahan tersebut, Bybit menjadi sorotan dunia setelah kehilangan aset Ethereum senilai US$1,5 miliar pada 21 Februari 2025.

Serangan tersebut dikaitkan dengan peretas Korea Utara. Kasus ini memperlihatkan semakin canggihnya operasi kejahatan siber yang diduga didukung negara, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan bursa kripto terpusat.

Nilai pencurian Bybit tercatat jauh lebih besar dibandingkan banyak insiden sebelumnya, termasuk peretasan Poly Network dan Ronin Network.

Ronin Network dan Coincheck: Celah Keamanan Jadi Sasaran

Pada 2022, Ronin Network, platform blockchain yang terhubung dengan gim Axie Infinity, kehilangan aset kripto senilai sekitar US$540 juta. Peretas dilaporkan memperoleh akses ke kunci privat yang memungkinkan mereka menarik dana.

Sementara itu, Coincheck di Jepang mengalami pencurian aset senilai sekitar US$500 juta pada 2018. Insiden ini menjadi salah satu peringatan besar bagi industri kripto pada masa awal perkembangannya.

Kedua kasus tersebut memperlihatkan bahwa keamanan sistem penyimpanan, pengelolaan kunci privat, dan otorisasi transaksi merupakan faktor penting dalam perlindungan aset digital.

FTX: Pencurian di Tengah Keruntuhan Bursa

FTX juga masuk dalam daftar peretasan besar setelah sekitar US$470 juta hingga US$477 juta dana dilaporkan hilang ketika bursa tersebut mengalami keruntuhan pada 2022.

Pada awalnya, muncul spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan orang dalam. Namun, otoritas Amerika Serikat kemudian mendakwa tiga orang yang diduga berperan dalam jaringan kejahatan siber terkait insiden tersebut.

Kasus FTX menunjukkan bahwa risiko dalam industri kripto tidak hanya berkaitan dengan volatilitas harga, tetapi juga keamanan operasional dan pengelolaan dana pelanggan.

Mengapa Industri Kripto Rentan Diretas?

Ada sejumlah faktor yang membuat aset digital menjadi sasaran pencurian bernilai besar, mulai dari celah sistem keamanan hingga pencurian kunci privat yang memungkinkan pelaku mengendalikan aset terkait.

Selain itu, transaksi pada sejumlah jaringan blockchain bersifat final sehingga pembatalan transaksi dan pemulihan dana menjadi sulit dilakukan.

Pelaku juga dapat memindahkan aset curian lintas jaringan untuk menyamarkan jejak transaksi dan mempersulit pelacakan. Di sisi lain, perbedaan standar keamanan dan pengawasan antarlayanan dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.

 

Meski demikian, metode peretasan kripto tidak selalu sama. Sebagian serangan mengeksploitasi kelemahan teknis pada infrastruktur transaksi atau sistem otorisasi, sementara serangan lainnya melibatkan pencurian kredensial, manipulasi proses persetujuan transaksi, hingga dugaan penyalahgunaan akses internal.

Apa yang Terjadi pada Binance?

Dikutip dari Reuters, sekitar US$6,3 miliar aset kripto dikuras dari dompet digital yang digunakan Binance untuk memproses transaksi. Angka tersebut berdasarkan keterangan bursa dan analisis para ahli terhadap catatan transaksi blockchain.

Dalam pernyataan di platform X, Binance mengatakan awalnya menduga serangan tersebut melibatkan laptop yang telah diretas. Namun, penyelidikan lanjutan menemukan sejumlah titik pelanggaran keamanan lainnya. Binance tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai temuan tersebut.

 

Binance memiliki Secure Asset Fund for Users (SAFU), yakni dana perlindungan pengguna berupa cadangan Bitcoin senilai US$1 miliar yang dirancang untuk melindungi pelanggan ketika terjadi pelanggaran keamanan.

Co-CEO Binance Richard Teng mengatakan kerugian akan ditanggung menggunakan dana perlindungan tersebut dan sumber daya perusahaan.

Menurut perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs, para peretas berhasil membobol infrastruktur penandatanganan transaksi Binance, sistem yang berfungsi memberikan otorisasi transaksi. Hal ini memungkinkan mereka mengirimkan instruksi untuk menguras dompet digital yang terdampak.

Catatan blockchain menunjukkan sebagian besar pencurian berlangsung hanya dalam waktu sekitar 20 menit, dimulai tidak lama setelah pukul 20.00 GMT pada Kamis.

Setelah memindahkan dana, para peretas berpacu mengalihkan aset agar tidak dapat dijangkau oleh mitra Binance maupun penerbit stablecoin. Sejauh ini, sekitar separuh aset yang dicuri telah dibekukan.

Sejumlah mata uang kripto, termasuk stablecoin utama seperti USDT milik Tether dan USDC milik Circle, memiliki fitur yang memungkinkan penerbitnya membekukan aset dari jarak jauh.

 

"Dengan bahasa sederhana, penyerang mungkin tidak mencuri kunci brankas, melainkan membajak sistem yang memerintahkan brankas untuk mengeluarkan uang," kata Joshua Chu, pengacara di Hong Kong yang menangani kasus-kasus kripto, dikutip daru Reuters.

Siapa di Balik Serangan Ini, Benarkah Ada Korea Utara di Baliknya?

Sejumlah perusahaan analisis blockchain di AS menyebut serangan tersebut memiliki kemiripan dengan operasi sebelumnya yang dikaitkan dengan peretas Korea Utara.

Namun, identitas pelaku dalam kasus Binance belum dikonfirmasi secara resmi. Dugaan keterlibatan Korea Utara masih berdasarkan analisis pola serangan dan aliran aset digital.

Teng mengatakan penyelidikan Binance belum berhasil mengidentifikasi pelaku. Sementara itu, Korea Utara secara rutin membantah keterlibatan dalam serangan siber dan pencurian mata uang kripto.

Perwakilan Korea Utara di Jenewa dan kedutaan besarnya di China belum segera menanggapi permintaan komentar.

TRM Labs menyatakan peretasan Binance memiliki karakteristik serupa dengan serangan terhadap bursa kripto Bybit pada tahun lalu, yang oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) dikaitkan dengan peretas Korea Utara.

Perusahaan tersebut mengaku sangat yakin kelompok yang sama berada di balik pencurian dari Binance.

Sementara itu, Chainalysis mengatakan dana yang dicuri dalam serangan terhadap Bitget pada bulan lalu sedang dicampur dengan hasil peretasan Binance.

(mae/mae)



Most Popular