Harga Batu Bara Jatuh, Masih Ada Kabar Baik Buat RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara jatuh setelah sempat terbang.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (29/10/2026) ditutup di posisi US$ 150,35 per ton. Harganya jatuh 1,44%.
Pelemahan ini terjadi setelah harganya terbang 1,33% pada Rabu.
Harga batu bara di pasar China menghadapi tekanan seiring melemahnya penawaran dalam tender impor. Pedagang berupaya melepas persediaan dan merealisasikan keuntungan, sementara perusahaan listrik cenderung menunda pembelian di tengah permintaan yang melemah secara musiman.
Di sisi lain, produsen batu bara luar negeri belum bersedia memangkas harga secara signifikan. Keterbatasan pasokan dan tingginya biaya angkut membuat penjual masih mempertahankan harga penawaran.
Tekanan pasar tersebut turut memengaruhi batu bara Indonesia. Penawaran batu bara berkalori 3.800 kcal/kg NAR sebelumnya berada di kisaran US$82 per ton FOB, dengan transaksi dilaporkan sekitar US$81-81,5 per ton.
Meski demikian, penurunan harga berpotensi tertahan oleh kendala pasokan. Produksi dan logistik batu bara Indonesia yang belum sepenuhnya pulih, serta hambatan pengapalan dari Australia, membatasi ruang penurunan harga lebih dalam.
Namun, ada kabar baik untuk batu bara termal.
Pasar batu bara termal di pelabuhan utara China mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi kemarin. Harga yang sebelumnya tertekan mulai menemukan pijakan setelah pembeli kembali memburu batu bara dengan harga murah.
Mengutip Sxcoal, Kamis (29/10/2026), minat pembelian mulai muncul, terutama untuk kargo yang dijadwalkan dikirim pada pekan berikutnya. Aktivitas pemesanan kapal juga meningkat, menjadi sinyal awal pulihnya transaksi di pasar batu bara China.
Meski demikian, pemulihan harga belum sepenuhnya solid. Di sisi lain, pasar batu bara impor China masih menghadapi tekanan setelah harga penawaran dalam tender melemah, seiring upaya pedagang melepas persediaan.
Perusahaan listrik China cenderung menahan pembelian dan menghindari harga tinggi di tengah permintaan yang melemah secara musiman. Kondisi ini membuat pedagang harus menyesuaikan penawaran untuk menarik minat pembeli.
Namun, produsen batu bara luar negeri belum sepenuhnya bersedia memangkas harga. Keterbatasan pasokan dan tingginya biaya pengangkutan menjadi faktor yang menopang harga penawaran.
Potensi penurunan harga juga dibatasi oleh kendala produksi dan logistik di Indonesia, serta hambatan pengapalan batu bara Australia.
Bagi Indonesia, dinamika pasar China menjadi perhatian penting mengingat negara tersebut merupakan salah satu tujuan utama ekspor batu bara nasional.
Penawaran batu bara Indonesia dengan nilai kalori 3.800 kcal/kg NAR sebelumnya berada di sekitar US$82 per ton FOB (free on board), sementara transaksi dilaporkan berkisar US$81-81,5 per ton.
(mae/mae)