Peringatan Bahaya! Harga Emas & Perak Hancur Lebur
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (29/10/2026) ditutup di posisi US$ 4020,42 per troy ons. Harganya ambruk 1,15%.
Pelemahan ini memutus reli tiga hari beruntun sebelumnya.
Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (30/10/2026) pukul 06.52 WIB, harga emas melandai 0,22% ke US$ 4011,47 per troy ons.
Tekanan muncul setelah data menunjukkan inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan prospek inflasi AS yang masih tinggi dan berada di atas target The Fed memunculkan spekulasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember.
Â
Menurutnya, ekspektasi tersebut menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Rilis data inflasi terbaru juga tidak mampu meredakan kekhawatiran pasar.
"Prospek inflasi yang terus bertahan tinggi dan berada di atas target The Fed membuka jalan bagi spekulasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember. Ini menjadi faktor utama yang menekan harga emas saat ini, sementara laporan PCE hari ini sama sekali tidak meredakan kekhawatiran tersebut," ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, dikutip dari Refinitiv.
Inflasi AS yang diukur melalui indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) meningkat pada September, seiring kenaikan harga bensin dan berbagai barang lainnya.
Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan indeks PCE naik 0,5% secara bulanan pada September, setelah meningkat 0,3% pada Agustus.
Peluang The Fed Naikkan Bunga Makin Besar
Pada Rabu kemarin, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar. Bank sentral menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan paruh waktu AS pekan depan.
Â
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi PCE AS meningkat menjadi 3,6% pada September 2026, dari 3,4% pada bulan sebelumnya. Inflasi PCE inti juga naik menjadi 3,1% dari 3%.
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas. Berbeda dengan instrumen berbunga, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga cenderung kurang menarik ketika suku bunga meningkat.
Meger menambahkan, perkembangan pasar energi juga akan menjadi perhatian utama investor. Harga energi merupakan salah satu sumber kekhawatiran inflasi, sehingga eskalasi maupun meredanya ketegangan di Timur Tengah dapat memengaruhi harga energi dan pergerakan logam mulia.
Â
"Setiap eskalasi maupun meredanya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kenaikan atau penurunan harga energi berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap harga logam," kata Meger.
Investor juga mencermati pemilihan umum AS pada 3 November serta potensi dampaknya terhadap kebijakan fiskal dan sentimen pasar secara luas.
Dari Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Christine Lagarde akan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari, menurut pernyataan bank sentral. ECB sendiri mempertahankan suku bunga, tetapi memperingatkan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.
Harga perak juga ambruk.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (29/10/2026) ditutup di posisi US$ 52,39 per troy ons. Hargannya anjlok 2,85%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan jatuh dua hari beruntun.
Harga perak masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (30/10/2026) pukul 06.52 WIB, harga perak melemah 0,9% ke US$ 51,92 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Mengerikan! Harga Emas Ambruk 1% Lebih, Perak Ambles 6% dalam 24 Jam