The Fed Tahan Suku Bunga, Yield SBN Terus Melonjak: IHSG-Rupiah Aman?
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, bursa saham bangkit sementara rupiah dan harga obligasi jatuh
- Wall Street kompak menguat selama tiga hari beruntun
- Keputusan The Fed serta perkembangan ekonomi terbaru akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan Rabu kemarin (28/10/2026). Bursa saham sudah mampu bangkit dari keterpurukan sebaliknya rupiah dan harga Surat Berharga Negara (SBN) jatuh.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik arah dan ditutup menguat pada perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah sempat tertekan tajam pada sesi pertama.
IHSG naik 16,18 poin atau 0,31% ke level 5.282,31. Sebelumnya, indeks dibuka di 5.249,07 dan sempat merosot ke kisaran 5.170 sebelum berbalik menguat pada sesi kedua.
Sebanyak 272 saham menguat, 406 melemah dan 112 stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp15,9 triliun dengan volume perdagangan 32,2 miliar saham. Asing akhirnya mencatat net buy sebesar Rp 664,24 miliar pada perdagangan kemarin.
Penguatan IHSG ditopang saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Sementara itu, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat indeks.
Pelaku pasar mencermati tiga sentimen utama, yakni keputusan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, anjloknya minat lelang SUN, dan pertumbuhan laba industri China.
Dari pasar mata uang, rupiah kembali mengakhiri perdagangan di zona merah pada Rabu (28/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.175/US$. Posisi tersebut menjadi rekor baru penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melewati rekor sebelumnya di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026.
Tekanan yang terjadi pada rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan, ketika dibuka melemah 0,04% ke level Rp18.152/US$. Pelemahan kemudian melebar hingga rupiah berakhir 23 poin lebih rendah dibandingkan posisi pembukaan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,14% ke posisi 102,461.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan rupiah tidak terlepas dari memburuknya sentimen pasar keuangan global.
"Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah," ujar Erwin, Rabu (28/10/2026).
Harga minyak yang tinggi meningkatkan risiko fiskal dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Di saat bersamaan, sentimen risk-off mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman, memperkuat dolar AS, dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI serta meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan turut menekan rupiah.
Untuk meredam tekanan, BI melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF, DNDF, dan spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga memperkuat koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Imbal Hasil SBN Melonjak
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak tajam ke 7,706% pada Rabu kemarin. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak 19 Mei 2020 atau enam tahun lebih.
Lonjakan imbal hasil menandai harga SBN tengah jatuh karena dibuang investor.
Lonjakan imbal hasil ini juga dibarengi dengan turunnya minat investor asing dalam lelang.
Berdasarkan data hasil lelang pada 27 Oktober 2026, total penawaran yang masuk atau incoming bids hanya mencapai Rp31,09 triliun.
Jumlah tersebut anjlok sekitar 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya pada 13 Oktober 2026, ketika penawaran investor masih mencapai Rp64,85 triliun.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (28/10/2026) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Investor merespons keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) dan menanti laporan keuangan perusahaan teknologi berkapitalisasi jumbo.
Indeks S&P 500 naik 0,28% ke 7.743,98, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,27% ke 26.549,85. Dow Jones Industrial Average terapresiasi 97,53 poin atau 0,19% ke 52.475,10. Ketiga indeks tersebut mencatat kenaikan selama tiga hari beruntun.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%, sesuai ekspektasi pasar. Sebelumnya, bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, kenaikan pertama sejak 2023.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tetap berfokus pada stabilitas harga. Ia juga menilai kondisi ketenagakerjaan masih menunjukkan perkembangan positif.
Jeff Schulze, kepala strategi investasi Franklin Templeton Institute, mengatakan keputusan tersebut tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin sebelum akhir tahun. Pasar kini mencermati seberapa cepat The Fed akan melanjutkan pengetatan moneter.
Saham Teknologi Jadi Penopang
Saham teknologi menjadi sorotan setelah Oracle melonjak hampir 11%. Perusahaan perangkat lunak tersebut memproyeksikan pendapatan fiskal 2030 mencapai US$225 miliar, yang mengindikasikan pertumbuhan tahunan sebesar 35%.
Saham perusahaan semikonduktor juga menguat setelah SK Hynix membukukan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah.
Saham SK Hynix di AS melesat 13%, sementara Micron Technology naik hampir 6%. Arm Holdings menguat 4%, sedangkan Marvell Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing naik 3%.
Investor selanjutnya menanti laporan keuangan Alphabet dan Microsoft yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan.
Meski demikian, saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) masih menghadapi tekanan dalam beberapa pekan terakhir akibat kekhawatiran mengenai pembiayaan investasi AI dan keberlanjutan keuntungan dari belanja besar tersebut.
Bill Northey dari U.S. Bank Asset Management Group menilai siklus bisnis teknologi dalam jangka pendek masih kuat. Namun, pertanyaan utama bagi investor adalah apakah pertumbuhan tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun dan perusahaan mana yang mampu menghasilkan keuntungan dari investasi besar di sektor AI.
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diharapkan berkurang pada hari ini setelah The Fed mempertahankan suku bunga.
Namun, rilis data inflasi PCE Amerika serta perkembangan perang bisa menekan pergerakan saham hingga rupiah. Lonjakan imbal hasil SBN juga akan menjadi perhatian pasar.
Berikut beberapa sentimen hari ini:
1. The Fed Tahan Suku Bunga
The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4,00%, tetapi keputusan pada Kamis (29/10/2026) tidak bulat. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin.
The Fed menyebut inflasi masih tinggi dan membuka peluang penyesuaian suku bunga lanjutan. Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya, seraya menegaskan bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2%.
Warsh juga menilai ekonomi AS semakin kuat, dengan pertumbuhan semester I-2026 direvisi naik menjadi 2,4%. Namun, tingginya suku bunga masih menekan biaya pinjaman dan memengaruhi investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan diumumkan.
Dalam konferensi pers, Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter. Namun, ia mengakui bank sentral belum berhasil mencapai stabilitas harga.
"Kami sedang mengupayakannya," kata Warsh, dikutip dari Reuters.
Warsh, yang mengambil alih kepemimpinan The Fed pada Mei lalu, menambahkan bahwa dirinya tidak ingin mendahului hasil rapat berikutnya.
"Banyak hal bisa terjadi. Karena itu, saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi ketika kelompok ini kembali berkumpul enam pekan dari sekarang," ujarnya.
2. BEI Revisi Target Jumlah IPO Jadi 15 Emiten di 2026
Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) menjadi 15 perusahaan pada 2026, dari sebelumnya 50 perusahaan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, tantangan pasar masih membayangi, tetapi peluang IPO tetap terbuka. Untuk 2027, BEI menargetkan 25 perusahaan melantai di bursa.
Peluang tersebut antara lain berasal dari investasi sektor manufaktur, pembangunan kawasan industri, serta restrukturisasi perusahaan di lingkungan Danantara. BEI berharap berbagai inisiatif tersebut dapat mendorong penambahan emiten di tengah kondisi pasar yang menantang.
3. Danantara Masuk Tahap Due Diligence untuk Menjadi Pemegang Saham BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap Danantara Indonesia telah mengajukan penawaran untuk menjadi pemegang saham baru dalam proses demutualisasi bursa. Saat ini, proses tersebut masih dalam tahap uji tuntas (due diligence).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, sejauh ini baru Danantara yang menyampaikan penawaran. Sementara itu, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia belum mengajukan penawaran serupa.
Jeffrey belum mengungkapkan nilai penawaran Danantara karena proses penjajakan masih berlangsung.
Selanjutnya, BEI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) lanjutan untuk membahas penerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue sebagai bagian dari demutualisasi bursa.
4. Danantara Bakal Pangkas Jumlah BUMN Menjadi Kurang dari 200 Perusahaan
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan perampingan besar-besaran perusahaan BUMN, dari 1.074 entitas menjadi kurang dari 200 perusahaan, demi meningkatkan efisiensi, kinerja keuangan, dan tata kelola.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan, restrukturisasi dilakukan melalui konsolidasi, merger, divestasi, hingga likuidasi perusahaan yang dinilai tidak lagi diperlukan.
Hingga Oktober 2026, sekitar 364 entitas telah dirampingkan. Langkah ini mulai tercermin pada kinerja keuangan, dengan laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp214,9 triliun pada Januari-Agustus 2026, naik 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Danantara menargetkan transformasi berlanjut hingga 2030, mencakup penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, perluasan akses pendanaan melalui IPO dan obligasi, hingga pembentukan perusahaan berstandar global.
5. Sanksi Adminstrasi Pajak Dikurangi
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan memberikan pengurangan sanksi administrasi pajak hingga 100% bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Besaran pengurangan bergantung pada jenis sanksi serta periode pelaporan atau pelunasan.
Kasubdit Peraturan KUP dan PPSP DJP Meidijati menjelaskan, untuk sanksi keterlambatan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak, pengurangan 100% berlaku bagi SPT Tahunan dan/atau SPT Masa September 2026 yang berstatus kurang bayar, jika diselesaikan pada 8 Oktober-31 Desember 2026.
Jika pelunasan atau pelaporan dilakukan pada 1 Januari-31 Maret 2027, pengurangan sanksi menjadi 50%. Sementara itu, untuk periode 1 April-30 Juni 2027, pengurangan yang diberikan sebesar 25%.
Adapun untuk sanksi terkait Program Pengungkapan Sukarela (PPS), pengurangan hingga 100% dapat diberikan jika pokok pajak dilunasi paling lambat satu bulan setelah Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) diterbitkan, sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kalau mau dapat 100%, harus melunasi pokoknya itu paling lambat satu bulan setelah surat ketetapan pajak kurang bayar terbit," ujar Meidijati dalam sosialisasi pada Rabu (28/10/2026).
DJP juga mengatur pengurangan sanksi untuk pelunasan setelah satu bulan hingga paling lambat dua bulan sejak SKPKB terbit. Karena itu, wajib pajak perlu memperhatikan tenggat pembayaran agar memperoleh pengurangan sesuai ketentuan.
6. Inflasi PCE AS September 2026
AS akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada hari ini Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.
Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).
Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.
Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Rilis ini keluar setelah keputusan The Fed sehingga lebih relevan untuk membentuk ekspektasi pertemuan berikutnya, bukan menentukan keputusan yang sudah diumumkan. Hasil melampaui konsensus berpotensi mempertahankan kekhawatiran terhadap persistensi inflasi dan membatasi harapan pelonggaran moneter.
Sebaliknya, angka yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai bahwa tekanan harga mulai mereda, meski konsistensi beberapa bulan tetap diperlukan.
7. Klaim Pengangguran AS
AS juga akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 24 Oktober 2026.
Klaim awal pengangguran Amerika Serikat (AS) turun 6.000 menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026, terendah sejak pertengahan Juli dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 200.000, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
Penurunan ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi. Laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik yang bertahan membantu menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Namun, mahalnya energi akibat perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta kebijakan perdagangan membayangi keputusan perekrutan perusahaan.
8. Suku Bunga ECB Oktober 2026
Bank sentral Eropa (ECB) hari ini akan mengumumkan keputusan pukul 20.15 WIB, disusul konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap 2,65% dan fasilitas deposito bertahan di 2,50%.
Perhatian tertuju pada respons ECB terhadap risiko inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan. Keputusan mempertahankan bunga perlu dibaca bersama arah komunikasinya, terutama mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan dan penilaian terhadap tekanan biaya energi.
Bagi pasar global, perubahan nada ECB dapat memengaruhi euro, obligasi Eropa, serta pergerakan dolar secara relatif. Karena pengumumannya berdekatan dengan rilis utama AS, investor perlu mencermati kombinasi kedua perkembangan tersebut, bukan menilai salah satunya secara terpisah.
Berikut agenda ekonomi hari ini:
-
Diskusi Terbatas bersama Menteri Pertanian di kediaman Menteri Pertanian, Jakarta Selatan
-
Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Flores Ballroom, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden
-
Minerba ConvEx 2026 di Gedung Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan
-
HSBC Redefining Treasury Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 di Kantor HSBC Indonesia, Jakarta Selatan
-
PPDP Sustainability Forum 2026 di CGV Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Turut hadir Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, dan Penjaminan OJK.
-
Bank sentral Eropa ECB Mengumumkan kebijakan suku bunga
-
AS mengumumkan data PCE September 2026
-
AS mengumumkan data klaim pengangguran per 24 Oktober 2026
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS PT Indofarma Tbk.
RUPS PT Victoria Care Indonesia Tbk
RUPS PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk.
RUPS PT Bank Neo Commerce Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Toba Surimi Industries Tbk
Berikut indikator ekonomi terbaru:
(mae/mae) Next Article Misi Selamatkan IHSG Mulai Berhasil, Bola Panas Kini Ada di Tangan BI!