Surat Utang RI Nyaris Gak Laku, Yield Tertinggi Dalam 4 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kebutuhan pemerintah untuk membiayai anggaran negara, minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) justru menunjukkan penurunan tajam.
Persoalannya bukan hanya semakin sedikitnya penawaran yang masuk. Pemerintah juga menghadapi kenaikan imbal hasil atau yield yang dimenangkan dalam lelang, sehingga biaya untuk menerbitkan utang baru berpotensi menjadi semakin mahal.
Dua kondisi tersebut terlihat dari hasil lelang SUN terbaru pada Selasa (27/10/2026). Penawaran yang masuk merosot ke level terendah dalam hampir dua tahun terakhir. Pada saat yang sama, imbal hasil yang dimenangkan untuk obligasi dengan tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.
Sebagai catatan, SUN merupakan salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ketika permintaan investor melemah dan biaya penerbitan utang meningkat, pemerintah berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar dalam memperoleh pembiayaan dengan biaya yang tetap terjangkau.
Investor Mulai Menahan Diri, Penawaran Lelang SUN Anjlok
Gambaran melemahnya permintaan investor terlihat dari jumlah penawaran yang masuk dalam lelang SUN terbaru.
Berdasarkan data hasil lelang pada 27 Oktober 2026, total penawaran yang masuk atau incoming bids hanya mencapai Rp31,09 triliun.
Jumlah tersebut anjlok sekitar 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya pada 13 Oktober 2026, ketika penawaran investor masih mencapai Rp64,85 triliun.
Jika melihat perjalanan lelang SUN sepanjang tahun ini, penurunan tersebut cukup terasa.
Sepanjang 2026 hingga 27 Oktober, rata-rata penawaran masuk dalam lelang SUN mencapai Rp62,96 triliun, sehingga penawaran terbaru sebesar Rp31,09 triliun tercatat sekitar 50,6% di bawah rata-rata tersebut.
Jika ditarik lebih jauh lagi, jumlah penawaran terbaru juga menjadi yang terendah sejak 26 November 2024, ketika total penawaran yang masuk tercatat sebesar Rp29,10 triliun.
Perubahan ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, misalnya, penawaran investor dalam lelang SUN beberapa kali menembus Rp100 triliun. Bahkan, pada 12 Agustus 2025, total penawaran yang masuk sempat mencapai Rp162,23 triliun.
Saat itu, jumlah penawaran investor jauh lebih besar dibandingkan nominal surat utang yang akhirnya diserap pemerintah.
Kini situasinya berbeda. Pada lelang terbaru, jumlah penawaran yang masuk bahkan tidak mencapai seperlima dari angka tertinggi pada Agustus tahun lalu.
Penurunan juga terlihat dari nominal surat utang yang akhirnya dimenangkan pemerintah.
Pada lelang 27 Oktober 2026, pemerintah hanya menyerap Rp20,65 triliun, turun dibandingkan Rp35 triliun pada lelang sebelumnya.
Jumlah tersebut juga berada di bawah target indikatif lelang sebesar Rp30 triliun yang sebelumnya ditetapkan pemerintah.
Yield Lelang SUN Tenor 10 Tahun Melonjak, Tertinggi Hampir 4 Tahun
Di tengah menurunnya jumlah penawaran yang masuk, pemerintah juga menghadapi kenaikan imbal hasil atau yield dalam lelang SUN, khususnya pada obligasi dengan tenor sekitar 10 tahun.
Berdasarkan data hasil lelang, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan (weighted average yield) untuk SUN seri FR0111, yang memiliki sisa tenor sekitar 10 tahun, mencapai 7,54% pada 27 Oktober 2026.
Angka tersebut melonjak dibandingkan lelang sebelumnya pada 13 Oktober 2026 yang masih berada di level 7,24%.
Dengan demikian, hanya dalam waktu dua pekan, yield yang dimenangkan meningkat sekitar 30 basis poin (bps).
Kenaikan ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, yield lelang SUN tenor sekitar 10 tahun tersebut kini mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Berdasarkan data historis lelang SUN dengan tenor yang relatif sebanding, terakhir kali imbal hasil yang dimenangkan berada pada level lebih tinggi adalah 8 November 2022, yakni sebesar 7,61%.
Jika dibandingkan dengan awal 2026, kenaikannya bahkan lebih besar. Pada lelang 6 Januari 2026, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun masih berada di level 6,079%.
Dengan demikian, sepanjang tahun berjalan, imbal hasil yang dimenangkan telah melonjak sekitar 147 bps.
Sebagai catatan, perbandingan tersebut menggunakan obligasi pemerintah dengan tenor sekitar 10 tahun yang tersedia pada masing-masing periode lelang.
Kenaikan yield ini menjadi perhatian karena mencerminkan meningkatnya biaya efektif yang harus ditanggung pemerintah ketika menerbitkan utang baru pada tingkat imbal hasil tersebut.
Semakin tinggi imbal hasil yang diminta investor, semakin mahal pula biaya pembiayaan yang berpotensi ditanggung pemerintah melalui penerbitan surat utang.
Jika kondisi ini terus berlanjut, pemerintah berpotensi menghadapi tantangan yang semakin besar dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan SUN, terutama karena biaya utang baru menjadi lebih mahal.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)