MARKET DATA
Jelajah Sinyal ke Ujung Negeri

Merawat 'Emas Cokelat' di Tanah Sulawesi, Ubah Hidup Lewat Layar HP

Kartini Bohang,  CNBC Indonesia
01 November 2026 10:00
Merawat 'Emas Cokelat' di Tanah Sulawesi, Ubah Hidup Lewat Layar HP

Jakarta, CNBC Indonesia - Wayan Sudiarsa memulai harinya dengan secangkir kopi ketika matahari masih sayup-sayup, sekitar pukul 05.00 WITA. Sudah segar menenggak kafein, pria berusia 52 tahun itu bergegas ke kebun kakao miliknya di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.

Jalan menuju kebun cuma selemparan batu dari rumah W. Sudiarsa di dekat Balai Desa Langudon. Medannya hanya sanggup dilalui pengemudi motor andal. Salah sedikit, pengendara bisa terjerembap jatuh saking terjal dan penuh bebatuan.

Di lahan seluas 0,75 hektare tersebut, tumbuh 300 pohon kakao yang menghidupi W. Sudiarsa dan keluarganya. Ia mengecek pohon satu per satu untuk melihat daun yang harus dipangkas, mengoleskan pestisida Alika agar terhindar dari penggerek buah kakao (PBK) alias 'kanker' kakao, hingga memilih buah yang siap petik.

Wayan Sudiarsa (52), perantau dari Bali yang bertransmigrasi ke Sulawesi Tengah untuk mengadu nasib menjadi petani.Wayan Sudiarsa (52), perantau dari Bali yang bertransmigrasi ke Sulawesi Tengah untuk mengadu nasib menjadi petani. Foto: Kartini Bohang

Lahan ini merupakan warisan program transmigrasi pemerintah pada 1996 dari Bali ke Sulawesi Tengah untuk memajukan sektor pertanian. W. Sudiarsa adalah salah satu perantau asal Bali yang kala itu mantap berpindah pulau untuk mengadu nasib.

Selain W. Sudiarsa, ada puluhan transmigran lain dari Jawa dan Bali yang menetap turun-temurun hingga sekarang di Desa Langudon. Mereka turut melestarikan tradisi petani Sulawesi Tengah menanam kakao, komoditas unggulan yang kerap dijuluki 'emas cokelat'.

Pukul 09.00 WITA, urusan kebun selesai. Bagi masyarakat perkotaan, rasanya seperti mimpi di siang bolong jika pekerjaan rampung saat matahari belum tepat berada di atas kepala.

W. Sudiarsa akhirnya bisa bersantai sambil menyantap bekal nasi dan ikan laut masakan sang istri, Iloh. Wajah W. Sudiarsa sumringah ketika bercerita tentang Iloh yang menurutnya lebih melek teknologi.

"Kami cuma punya satu HP dipakai berdua, tapi Bu Iloh lebih sering pegang," kata W. Sudiarsa bangga menceritakan keterampilan sang istri.

Lewat layar HP, Iloh mengambil alih urusan menghubungi pengepul, mengecek harga pasar, serta memantau pergerakan kurs dolar AS yang menjadi faktor penentu harga kakao.

BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Hariyo Riyantomo

Dulu, kemudahan ini tak terbayangkan oleh warga setempat, hingga akhirnya sinyal internet masuk melalui infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G BAKTI Komdigi ke Desa Langudon pada 2022.

Warga dengan cepat memanfaatkan teknologi baru tersebut, khususnya untuk urusan pertanian. Maklum, dari 120 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di desa wilayah pegunungan Kab. Buol tersebut, 100 orang berprofesi sebagai petani.

Jika Iloh lebih piawai dalam urusan negosiasi harga dan penjualan ke pengepul, W. Sudiarsa lebih banyak menggunakan internet untuk menambah ilmu perkebunan lewat YouTube.

Menurut W. Sudiarsa, kakao ibarat bayi yang harus dirawat secara telaten. Informasi tentang cara membudidayakan kakao hingga penanganan hama banyak ia dapatkan dari layar HP, di samping bimbingan berkala dari penyuluh pertanian setempat.

Salah satu masalah yang bikin petani kakao kalang-kabut adalah hama PBK yang marak sejak kisaran 2010. Hama ini menggerogoti bagian dalam buah dan merusak kualitas biji kakao, hingga memaksa banyak petani menebang pohon mereka.

Perlahan, para petani menemukan solusinya dengan menanam varietas kakao BR-25. Varietas ini memiliki postur batang yang lebih pendek sehingga yang batangnya lebih pendek sehingga mempermudah proses pengolesan obat pembasmi hama.

Teknik vegetatif sambung pucuk jadi andalan. Para petani mengombinasikan batang bawah kakao lokal dengan batang atas BR-25 yang lebih kokoh dan produktif berbuah.

Perkebunan kakao di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Para petani merasakan langsung dampak masuknya jaringan internet berkat kehadiran BTS 4G BAKTI Komdigi.Perkebunan kakao di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Para petani merasakan langsung dampak masuknya jaringan internet berkat kehadiran BTS 4G BAKTI Komdigi. Foto: Kartini Bohang

Sejak terkoneksi internet, W. Sudiarsa juga makin rajin bereksperimen dari ilmu yang didapatkan di YouTube. Salah satunya meracik pupuk organik sendiri dari bumbu dapur untuk menanam pohon mangga kecil-kecilan di pekarangan rumahnya.

"Lumayan hasilnya buat coba-coba. Tapi kalau untuk pupuk kakao, lebih baik beli," ujarnya.

Kebun kakao W. Sudiarsa panen raya seminggu sekali, dengan hasil terbanyak mencapai 40 kg. Setelah itu, masih ada proses pengeringan hingga hasil panen siap dibawa Iloh untuk dijual ke Ibu Kota Buol yang berjarak sekitar 25 km dari Desa Langudon.

Dalam sebulan, Iloh biasanya rutin dua kali ke Kota Buol mengendarai sepeda motor. "Rata-rata bawa pulang uang Rp2-4 juta sekali pergi," ujar W. Sudiarsa.

Tak cuma mengecek dan membandingkan harga jual terbaik, internet mulai dimanfaatkan Iloh untuk merambah bisnis sampingan. Salah satunya berjualan kue bolu sampai ke desa tetangga.

Aplikasi Telegram dijadikan media promosi jika ia sedang 'mood' membuat kue. Tak jarang, ia menerima dalam jumlah besar untuk hajatan warga. "Rata-rata Bu Iloh bisa dapat tambahan penghasilan Rp100.000 seminggu dari jualan kue," kata W. Sudiarsa.

Pasangan ini memiliki tiga anak perempuan yang kini hidup mandiri di Kota Palu, Kota Buol, dan Bali. Ada yang berkeluarga, ada pula yang lajang.

Rasa rindu ke anak dan cucu bisa langsung terbayar tuntas melalui panggilan video di aplikasi Telegram. Biasanya, Iloh langsung menyerahkan HP ke W. Sudiarsa saat sang cucu bertanya, "Kakek mana?".

"Rasanya senang betul kalau sudah dicari cucu, bisa lihat muka cucu di layar HP," tutur W. Sudiarsa.

Kapok Kerja Kantoran, Banting Setir Jadi Petani Milenial

Dari 100 petani di Desa Langudon, sebanyak 35 petani membudidayakan kakao. Selain Wayan Sudiarsa, ada pula Wayan Adiatmika (33) yang usianya jauh lebih muda, tetapi sudah menggarap 6 hektare lahan perkebunan, termasuk komoditas kakao.

Wayan Adiatmika (33), petani milenial yang dulunya sempat kerja kantoran. Ayah dan kakeknya juga hidup dari bertani.Wayan Adiatmika (33), petani milenial yang dulunya sempat kerja kantoran. Ayah dan kakeknya juga hidup dari bertani. Foto: Kartini Bohang

W. Adiatmika dulunya kerja kantoran pada 2011-2019, mulai dari menjajal profesi satpam hingga sales. Namun, sejak berkeluarga di tahun 2019, ia memutuskan banting setir menjadi petani penuh waktu. Alasannya sederhana, ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga.

"Saya sudah tidak bisa jauh-jauh lagi dari orang rumah," ujar W. Adiatmika.

Kemewahan lain yang ia dapatkan dari bertani adalah kebebasan waktu. Tak ada atasan yang mengatur jam kerja dan menetapkan target. "Kalau perkebunan kan kita mau jam berapa saja bisa ke kebun," ia menuturkan.

Dari total 6 hektare lahan yang ia kelola, 1 hektare dimanfaatkan untuk menanam kakao. Sisanya ada yang ditanam durian, alpukat, dan buah-buahan lain. Ada juga lahan yang digarap bersama dengan orang tuanya.

Berbeda dari W. Sudiarsa, W. Adiatmika lahir dan tumbuh di Tanah Sulawesi sedari kecil. Kakeknya mengawali jejak transmigrasi ke Sulawesi Selatan, kemudian orang tuanya berpindah ke Sulawesi Tengah pada 1997. Semuanya hidup dari bertani.

Menurut W. Adiatmika, penghasilan sebagai petani sebetulnya bisa lebih moncer ketimbang kerja kantoran. Namun, faktor cuaca menjadi penentu utama. Dalam beberapa bulan terakhir, para petani di Buol dihadapkan pada ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.

Bagi kawasan pegunungan seperti Langudon, dampaknya terasa lebih krusial dibanding wilayah pesisir. Minimnya curah hujan membuat sumber-sumber air mengering sehingga tanaman sulit tumbuh optimal.

Untuk menjaga kelembapan tanah, para petani menyiasatinya dengan menumpuk daun pisang di sekitar batang kakao. Taktik ini tak selalu berhasil. Beberapa pohon gagal berbuah lebat. Jikapun ada, ukurannya relatif lebih kecil. Hal ini berimbas langsung pada pada penurunan volume panen dan pendapatan yang diterima.

W. Adiatmika terhitung baru menggeluti budi daya kakao sejak 2022. Ibaratnya, bibit-bibit kakao yang ia tanam baru belajar berbuah. W. Adiatmika mengaku banyak terbantu informasi di internet terkait proses ekspansi lahan perkebunannya ke komoditas kakao.

"Walaupun banyak belajar dari orang tua dan sesama petani lain, saya juga dapat banyak informasi dan ilmu baru dari YouTube dan TikTok. Banyak tutorial terkait teknik penanaman, perawatan, sampai strategi menggenjot produksi," kata W. Adiatmika.

Terkadang, W. Adiatmika juga membeli alat-alat pertanian dan pupuk melalui platform e-commerce. Dulunya alat-alat tersebut hanya bisa dibeli langsung ketika ia pergi ke kota.

BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Hariyo Riyantomo

Ilmu baru yang didapatkan W. Adiatmika dari internet dibagikan pula ke orang tuanya. W. Adiatmika dengan sabar mengajarkan orang tuanya cara mengakses informasi tepercaya di internet, agar terus berinovasi dalam menggarap lahan pertanian.

Setiap dua minggu, kebun kakao W. Adiatmika bisa panen sampai 25 kg. Harga kakao mengikuti pergerakan dolar AS dan pasokan pasar. Sepanjang tahun ini, harga kakao naik-turun cukup tajam: pernah melambung tinggi sampai Rp170.000/kg, pernah juga turun bebas hingga Rp30.000/kg.

Harga terakhir pada pertengahan Oktober 2026 dipatok Rp96.000/kg. Rata-rata yang diperoleh W. Adiatmika selama ini berkisar Rp80.000-90.000/kg. Dari tangan pengepul, mayoritas hasil panen kakao dari Desa Langudon dijual ke Surabaya.

Sejak sinyal internet meluas di Langudon, satu masalah hilang. Petani tak lagi berhadapan dengan tengkulak yang suka 'ngibul' atau menentukan harga seenaknya.

"Sekarang sudah tidak ada tengkulak. Dulu tengkulak datang ke desa-desa buat beli kakao. Sekarang, kami yang bawa hasil panennya langsung ke pengepul di Kota Buol. Petani bisa info-infoan harga dulu sama mereka di WhatsApp. Dari situ bisa banding-bandingkan juga," ia menjelaskan.

Tradisi merantau di keluarga W. Sudiarsa dimulai saat ia mengiyakan tawaran transmigrasi pada 1996 silam. "Waktu itu tidak ada pikir dua kali. Saya langsung bilang 'iya'," tegasnya.

Kesempatan merantau ke Tanah Sulawesi seperti membuka harapan baru bagi W. Sudiarsa ketika Bali terasa makin padat penduduk dan kompetitif untuk mengais rezeki. Apalagi, pemerintah kala itu memberikan jatah lahan 2 hektar bagi setiap KK yang mau bertransmigran.

Bersama Iloh dan putri sulung mereka, W. Sudiarsa tiba di Toli-Toli (dulunya Buol Toli-Toli) saat warga Buol memulai perjuangan untuk memisahkan diri menjadi kabupaten sendiri. Cita-cita mereka akhirnya terwujud pada 1999 di bawah pemerintahan B.J Habibie.

Hasil pemekaran Buol Toli-Toli menjadi dua daerah otonom sendiri (Kab. Buol dan Kab. Toli-Toli) ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999. Masyarakat setempat masih menggebu-gebu ketika mengenang bagaimana mereka memperjuangkan pemisahan Buol dari Toli-Toli.

Pada 1996, semua warga Buol yang berdomisili di berbagai wilayah di Indonesia makin intensif berkumpul untuk merumuskan cita-cita sebagai kabupaten sendiri. Mereka kemudian mendirikan Ikatan Keluarga Besar Indonesia Buol (IKIB) pada 1997 untuk memperkuat solidaritas.

"Pemisahan Buol ini bukan dikasih, tapi kami perjuangkan sama-sama," kata seorang warga Buol.

Perjuangan warga Buol berakar pada aspirasi untuk mengelola potensi sumber daya secara mandiri, mengikis kesenjangan pembangunan, serta mempercepat pelayanan publik dan birokrasi pemerintahan tanpa harus menempuh jarak jauh ke pusat pemerintahan di Kec. Baolan, Kab. Toli-Toli.

Dalam empat tahun terakhir (2022-2025), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kab. Buol terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah. Bahkan, dilihat dari Umur Harapan Hidup saat Lahir dan Rata-Rata Lama Sekolah pada 2025, Buol berhasil unggul ketimbang rata-rata Provinsi Sulawesi Tengah.

Perkembangan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di Buol, tak lepas dari jaringan internet yang mempermudah kehidupan masyarakat. Selain membangun 34 infrastruktur BTS 4G hingga ke desa-desa di Kab. Buol, BAKTI juga terus memperluas Akses Internet di wilayah Buol menjadi 188 titik hingga 2025, mayoritas untuk kebutuhan pendidikan.

Cita-Cita Besar Generasi Muda Buol

Perubahan juga terasa di pusat kota Buol. Keseharian warga sudah lebih menyatu dengan dunia digital. Di sektor pendidikan, pelaksanaan ujian di sekolah mulai menggunakan aplikasi SIM IGI Portal yang bisa diakses lewat HP dan laptop.

Sistem terintegrasi ini memudahkan penyimpanan bank soal, serta memeriksa hasil ujian pilihan ganda secara otomatis berdasarkan kunci jawaban yang sudah dimasukkan guru. Siswa tidak bisa mengintip jawaban di Google atau chatbot AI, karena akses ke aplikasi lain diblokir ketika sedang membuka laman soal ujian.

Di luar kegiatan sekolah, Kafa (15), siswa SMAN 1 Biau, belajar mengedit video di CapCut dan membuat poster acara di Canva, secara otodidak melalui tutorial di TikTok dan Instagram. Saat ini, ia bergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik bernama SmansaPedia di sekolahnya.

"Kegiatannya macam-macam, ada podcast dan konten wawancara video dengan petani dan pelaku usaha di Buol. Kalau saya lebih sering bikin poster acara pakai Canva," kata Kaffa.

Beda halnya dengan Zahra (15) yang lagi semangat menjelajahi internet untuk riset terkait proyek video yang sedang ia garap. Zahra memiliki keresahan saat melihat banyak anak sepantarannya keluyuran sampai malam sambil boncengan dan balapan, alih-alih fokus belajar.

"Saya mau bikin video edukasi untuk mengajak anak muda tidak terjerumus dalam pergaulan bebas," ia menjelaskan.

Zahra (15), siswi di SMAN 1 Biau, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.Zahra (15), siswi di SMAN 1 Biau, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Kartini Bohang

Ketika ditanya cita-cita saat besar nanti, Zahra mengaku belum terpikir profesi spesifik yang ia sasar. Namun, ia mau kuliah dan bekerja di sektor lingkungan. Menurutnya, tidak ada masa depan indah yang bisa dibayangkan tanpa lingkungan bersih dan sehat, tempat hewan-hewan bisa hidup damai berdampingan dengan manusia.

Jaringan internet terbukti bukan sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan pengubah jalan hidup masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Bagi para petani, keberadaan internet membuka akses informasi harga secara real-time, menghapus ketergantungan pada tengkulak, serta memperluas wawasan pertanian modern untuk meningkatkan hasil panen.

Sementara bagi generasi muda di sekolah, internet menjadi gerbang menuju keterbukaan informasi yang mengasah daya pikir kritis, memperluas wawasan digital, serta memberi ruang bagi mereka untuk merajut cita-cita setinggi-tingginya.

Hingga 2026, masih ada 12 dusun dan desa di Kab. Buol yang berstatus blankspot alias tidak dialiri sinyal internet. Masing-masing tersebar di Kec. Badung, Kec. Karamat, Kec. Bukal, Kec. Momunu, Kec. Bukal, Kec. Tiloan, dan Kec. Paleleh Barat.

BAKTI Komdigi berupaya mengurangi titik-titik blankspot tersebut, terutama di wilayah dengan jumlah populasi padat. Kehadiran konektivitas yang merata pada akhirnya menjadi fondasi penting dalam mengikis kesenjangan, memberdayakan ekonomi lokal, dan membangun masa depan daerah yang lebih mandiri dan sejahtera.



Most Popular
Features