MARKET DATA

Jelang November: Ini 9 Indikator Ekonomi RI, Masih Aman atau Bahaya?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 October 2026 15:15
Ilustrasi Perencanaan Keuangan (Dok: Freepik)
Foto: Ilustrasi Perencanaan Keuangan (Dok: Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa hari lagi, Oktober akan berakhir dan kita akan memasuki dua bulan terakhir pada 2026.

Perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang Oktober diwarnai perkembangan yang cukup beragam. Aktivitas konsumsi masih terpantau tumbuh dan neraca perdagangan tetap mencatat surplus. 

Namun, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terlihat masih terjadi, serta inflasi yang kian mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI), sementara jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bertambah. 

Selain itu, pasar keuangan domestik juga sedang mengalami gejolak setelah MSCI, yakni lembaga penyedia indeks saham global membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone market. 

CNBC Indonesia telah merangkum sejumlah indikator perekonomian dalam negeri menjelang berakhirnya Oktober 2026. 

1. Pertumbuhan Ekonomi Masih di Atas 5%

Data pertumbuhan ekonomi terbaru masih berasal dari kuartal kedua 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61%. Namun, secara keseluruhan ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,45% sepanjang semester pertama tahun ini.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama. Komponen tersebut tumbuh 5,06% dan menyumbang 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Belanja pemerintah meningkat 15,97%, ditopang pembayaran gaji ke-13 serta kenaikan belanja pegawai, barang, dan jasa. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto juga tumbuh 6,87%.

Sebaliknya, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melesat 8,82%. Pertumbuhan impor yang lebih tinggi membuat perdagangan luar negeri belum banyak membantu pertumbuhan ekonomi.

Gambaran terbaru mengenai kondisi ekonomi baru akan terlihat ketika BPS merilis pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga pada awal November.

Data tersebut akan menunjukkan apakah Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 5% setelah kenaikan suku bunga dan tekanan rupiah.

2. PDB Per Kapita

Untuk melihat perkembangan ekonomi dari sisi penduduk, salah satu indikator yang bisa digunakan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.

Data tahunan terbaru menunjukkan PDB per kapita Indonesia mencapai Rp83,7 juta atau sekitar US$5.083 pada 2025. Angkanya meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp78,6 juta atau US$4.960.

Secara nominal, PDB per kapita dalam rupiah naik sekitar 6,5%. Namun, angka tersebut tidak menunjukkan bahwa setiap penduduk Indonesia memiliki pendapatan Rp83,7 juta per tahun.

PDB per kapita dihitung dengan membagi nilai perekonomian nasional dengan jumlah penduduk. Indikator ini belum menggambarkan pembagian pendapatan maupun kenaikan biaya hidup yang dirasakan setiap rumah tangga.

Karena itu, kenaikan PDB per kapita tetap perlu dibaca bersama kondisi lapangan kerja, konsumsi, kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan.

3. Inflasi Mendekati Batas Atas Target BI

Data inflasi terbaru masih berasal dari September 2026. BPS mencatat inflasi Indonesia mencapai 3,28% secara tahunan, naik dari 3,19% pada Agustus dan 2,88% pada Juli.

Secara bulanan, harga barang dan jasa naik 0,30%. Sementara inflasi sejak awal tahun hingga September tercatat sebesar 2,17%.

Inflasi memang masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus minus 1%. Namun, posisinya semakin mendekati batas atas target sebesar 3,5%.

Tekanan terbesar datang dari kelompok harga pangan bergejolak. Inflasinya meningkat dari 4,06% pada Agustus menjadi 5,03% pada September, terutama akibat kenaikan harga cabai, beras, telur, dan daging ayam.

Sementara itu, inflasi inti justru turun dari 2,92% menjadi 2,84%. Inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah juga melandai dari 3,32% menjadi 3,25%.

4. Konsumen Masih Optimistis, tetapi Kondisi Saat Ini Melemah

Keyakinan konsumen masih berada dalam zona optimistis, meskipun sedikit menurun.

Survei Konsumen BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 118,5 pada Agustus menjadi 118,1 pada September 2026. Angkanya tetap berada di atas 100, yang menunjukkan masyarakat masih optimistis melihat kondisi ekonomi.

Penurunan terutama terlihat pada penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5.

Sebaliknya, harapan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang justru membaik. Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat dari 127,6 menjadi 128,7.

Data tersebut menunjukkan konsumen masih percaya bahwa kondisi ke depan akan membaik. Namun, penilaian terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan belanja saat ini mulai sedikit melemah.

5. Penjualan Eceran Masih Tumbuh Tipis

Perkembangan daya beli juga bisa dilihat dari penjualan eceran.

Indeks Penjualan Riil pada Agustus 2026 tumbuh 1,3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli yang sebesar 1,1%.

Secara bulanan, penjualan eceran tumbuh 0,8%, setelah pada Juli mengalami kontraksi 0,1%. Peningkatan tersebut antara lain didukung permintaan selama perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

BI memperkirakan penjualan eceran pada September tumbuh 1,4% secara tahunan dengan Indeks Penjualan Riil mencapai 221,3. Pertumbuhannya terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori serta makanan, minuman, dan tembakau.

Namun, secara bulanan penjualan September diperkirakan turun 2,3%. Penurunan terutama berasal dari normalisasi belanja masyarakat setelah meningkat pada Agustus.

Pertumbuhan tahunan yang masih tipis menunjukkan konsumsi masyarakat tetap berjalan, tetapi belum meningkat cukup kuat.

Perkembangannya perlu terus diperhatikan karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh perekonomian Indonesia.

6. Neraca Perdagangan Masih Surplus Besar

Data perdagangan terbaru yang tersedia masih berasal dari Agustus 2026.

BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$3,55 miliar. Nilainya melonjak dibandingkan surplus tipis US$122 juta pada Juli dan menjadi surplus bulanan terbesar sejak September 2025.

Ekspor mencapai US$26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan. Sementara impor tercatat US$23,06 miliar dan tumbuh jauh lebih tinggi sebesar 19,09%.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan US$7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar US$28,54 miliar, tetapi tergerus defisit migas yang mencapai US$21,29 miliar.

Ekspor logam seperti nikel, besi dan baja, serta aluminium ikut menopang surplus. Meski demikian, pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi daripada ekspor tetap perlu diperhatikan.

Lonjakan impor sebagian memang bisa menjadi tanda meningkatnya kegiatan produksi, terutama jika barang yang masuk berupa bahan baku dan barang modal. Namun, kebutuhan impor yang besar juga meningkatkan permintaan dolar AS dan dapat menambah tekanan terhadap rupiah.

Data perdagangan September akan menjadi salah satu indikator penting pada awal November, terutama untuk melihat dampak kenaikan harga minyak terhadap tagihan impor migas Indonesia.

7. Rupiah Kembali Tembus Rp18.100/US$ & BI Masih Tahan Suku Bunga

Tekanan terbesar menjelang berakhirnya Oktober terlihat pada nilai tukar rupiah.

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,06% ke posisi Rp18.050/US$ pada perdagangan Senin (26/10/2026), dari penutupan sebelumnya di Rp18.040/US$.

Dalam perdagangan intraday, rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp18.100/US$. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak awal Juni 2026 atau dalam hampir lima bulan terakhir.

Dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp16.670/US$, rupiah telah kehilangan sekitar 8,58% nilainya terhadap dolar AS.

Tekanan datang dari kenaikan harga minyak dunia, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, serta ketidakpastian mengenai arah suku bunga The Federal Reserve.

Dari dalam negeri, kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI ikut memicu keluarnya dana asing dan meningkatkan kebutuhan dolar AS.

BI memilih mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026. Namun, suku bunga Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin menjadi 5%, sedangkan Lending Facility dipertahankan sebesar 6,5%.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, terutama karena sekitar 70% impor Indonesia berupa bahan baku dan bahan penolong.

Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang di dalam negeri berpotensi ikut naik.

8. PHK Tembus 63.789 Pekerja

Kondisi pasar tenaga kerja masih menjadi tantangan menjelang berakhirnya Oktober.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 63.789 pekerja melaporkan terkena PHK melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan sepanjang Januari-September 2026.

Jawa Barat mencatat jumlah tertinggi dengan 13.044 pekerja, disusul Banten 7.733 orang, Jawa Timur 6.154 orang, Jawa Tengah 5.585 orang, dan DKI Jakarta 4.587 orang. Lima provinsi tersebut menyumbang lebih dari separuh laporan PHK nasional.

Angka tersebut belum menggambarkan seluruh kasus PHK di Indonesia karena hanya mencakup pekerja yang dilaporkan melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

Datanya juga masih dapat berubah karena pekerja memiliki waktu hingga enam bulan sejak tanggal PHK untuk mengajukan klaim. Pekerja yang mengundurkan diri, pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia juga tidak masuk dalam perhitungan.

Secara lebih luas, data pasar tenaga kerja terbaru masih berasal dari Februari 2026. Saat itu, jumlah penduduk bekerja bertambah 1,90 juta menjadi 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 4,76% menjadi 4,68%.

Data ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis pada November akan memberikan gambaran terbaru mengenai kemampuan perekonomian dalam menciptakan pekerjaan di tengah masih tingginya jumlah PHK.

Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia memasuki November dalam kondisi tetap tumbuh, tetapi tekanan terhadap stabilitas mulai meningkat.

Konsumsi masyarakat masih bergerak positif, keyakinan konsumen tetap optimistis, dan neraca perdagangan mencatat surplus besar. Namun, pelemahan rupiah, inflasi pangan, pertumbuhan impor, serta tingginya jumlah PHK masih perlu mendapat perhatian.

Sejumlah data yang dirilis pada awal November, mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga, inflasi Oktober, perdagangan September, hingga kondisi ketenagakerjaan Agustus, akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kekuatan ekonomi Indonesia menjelang akhir 2026.

9. IHSG Belum Pulih dari Guncangan MSCI

Selain rupiah, tekanan juga terlihat di pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan tajam setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ambruk 11,57% ke posisi 5.185,11. Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026) ketika indeks kembali turun 3,64% menjadi 4.996,61.

IHSG kemudian mulai bangkit. Indeks melonjak 5,65% pada Selasa (20/10/2026) dan melanjutkan pemulihannya hingga ditutup di posisi 5.439,26 pada Jumat (23/10/2026).

Secara mingguan, IHSG menguat 4,90%. Namun, posisinya masih jauh di bawah penutupan akhir 2025 sebesar 8.646,94. Sejak awal tahun, IHSG telah merosot sekitar 37,1%.

Tekanan terhadap pasar saham muncul karena kemungkinan perubahan klasifikasi MSCI dapat mengurangi daya tarik saham Indonesia di mata investor global. Jika benar-benar diturunkan menjadi standalone market, saham Indonesia berisiko dikeluarkan dari sejumlah indeks acuan yang digunakan pengelola dana internasional.

Aksi jual investor asing turut menekan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan. Pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, serta tingginya imbal hasil obligasi juga membuat investor semakin berhati-hati.

Pemulihan IHSG pada pekan berikutnya ditopang aksi beli pada saham yang sudah terkoreksi dalam, rencana pembelian kembali saham atau buyback, serta dukungan terhadap saham perbankan BUMN.

Meski mulai bangkit, pergerakan IHSG belum sepenuhnya pulih. Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih dalam jumlah besar, sedangkan ketidakpastian mengenai keputusan akhir MSCI diperkirakan tetap membayangi pasar saham Indonesia hingga 2027.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular