MARKET DATA

6 Bursa Saham Dunia yang Melonjak Gila-gilaan di 2026, Terbang 300%

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
23 October 2026 16:50
Ilustrasi pergerakan saham
Foto: Pixabay/

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah bursa saham dunia melesat gila-gilaan sepanjang 2026, bahkan ada indeks yang meroket lebih dari 350% sejak awal tahun. Kontras tajam dengan Indonesia, ketika pasar saham justru babak belur.

Pada Jumat (16/10/2026) lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan mencatat penurunan harian terdalam sejak krisis 1998, melampaui kejatuhan yang terjadi saat krisis keuangan global 2008.

Sementara itu, sejumlah indeks saham dunia justru berhasil terbang lebih dari 50% secara year-to-date (YTD).

Berdasarkan data Trading Economics yang dihimpun CNBC Indonesia, berikut deretan indeks saham dunia dengan kenaikan YTD di atas 50%.

Venezuela menempati posisi teratas dalam daftar tersebut. Indeks IBC melonjak 356,28% YTD ke level 9.501, membuat nilainya meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan posisi awal tahun.

Meski demikian, lonjakan tersebut terjadi di tengah tingginya inflasi Venezuela, sehingga kenaikan indeks secara nominal belum tentu mencerminkan keuntungan riil yang sebanding bagi investor.

Bursa saham Venezuela melesat di tengah ekspektasi perubahan politik dan pemulihan ekonomi, tetapi lonjakan fantastisnya juga dipengaruhi inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan tipisnya likuiditas pasar. Kenaikan indeks dalam bolivar belum tentu berarti investor makin kaya karena nilai riil keuntungan bisa tergerus inflasi dan depresiasi kurs.

Peta kekuasaan Venezuela berubah dratsis setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada 3 Januari 2026. Peristiwa ini memicu harapan investor terhadap perubahan ekonomi dan politik negara tersebut.

Di posisi berikutnya terdapat Tanzania melalui indeks DSEI yang menguat 64,02% YTD ke level 4.530. Uganda menyusul dengan kenaikan 61,27%, sementara indeks GGSECI Ghana mencatat penguatan 61,08%.

Dari kawasan Asia, Taiwan turut masuk dalam daftar. Indeks TAIEX telah menguat 58,96% ke posisi 46.041, dengan saham-saham teknologi dan semikonduktor menjadi salah satu penopang utama pasar saham negara tersebut.

Nigeria melengkapi daftar melalui indeks NSE All Share yang naik 57,41% sejak awal tahun ke level 244.957.

Indonesia  Jadi yang Terburuk

Berbeda dengan sejumlah bursa dunia yang mencatat kenaikan besar, pasar saham Indonesia justru terpuruk sepanjang 2026. Bahkan, penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir belum mampu menghapus penurunan tajam yang terjadi sejak awal tahun.

Setelah menguat selama tiga hari perdagangan berturut-turut hingga Kamis (22/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona hijau pada Jumat (23/10/2026). IHSG mengawali perdagangan di level 5.397,34, naik 9,43 poin atau 0,18%.

Meski mulai menunjukkan pemulihan, secara year-to-date (YTD) IHSG masih anjlok 37,02%. Kondisi ini berbanding jauh dengan indeks IBC Venezuela yang justru telah melonjak 356,28% sejak awal tahun.

Parahnya, IHSG tidak hanya tertinggal dari deretan bursa yang tengah menguat. Dalam perbandingan 35 indeks saham global yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) per 16 Oktober 2026, IHSG bahkan menempati posisi paling bawah dengan pelemahan mencapai 40,04% YTD.

Padahal, pada 20 Januari lalu, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level 9.134,7. Namun, kondisi berbalik hingga indeks terperosok ke level 4.996,6 pada 19 Oktober, posisi terendah dalam sekitar enam tahun terakhir.

 

Salah satu tekanan terbesar datang dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 15 Oktober yang membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Rencana tersebut muncul di tengah sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian MSCI, mulai dari transparansi struktur kepemilikan saham hingga dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi.

Kekhawatiran investor kemudian tercermin pada perdagangan Jumat (16/10/2026). IHSG anjlok hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt, sebelum akhirnya ditutup merosot 11,57% ke level 5.185,1.

Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam satu hari perdagangan sejak krisis 1998, bahkan melampaui kejatuhan harian terbesar saat krisis keuangan global 2008.

Sepanjang pekan itu, IHSG kehilangan 14,91% nilainya. Kapitalisasi pasar BEI turut menyusut sekitar Rp1.544 triliun, sementara investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp3,34 triliun pada 16 Oktober.

Besarnya penurunan tersebut membuat penguatan IHSG dalam beberapa sesi terakhir masih belum cukup untuk mengimbangi tekanan yang telah terjadi sepanjang tahun.

 

(mae/mae)



Most Popular