Mata Uang Asia Ramai-Ramai Menguat, Rupiah-Yen Malah Menangis
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang akhir pekan, pergerakan mata uang Asia cenderung lebih positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, tidak semua mata uang Asia mampu ikut menikmati momentum tersebut pada perdagangan Jumat (23/10/2026).
Data Refinitiv per pukul 09.22 WIB menunjukkan enam dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat terhadap dolar AS. Sementara empat mata uang lainnya masih berada di zona merah.
Won Korea Selatan dan peso Filipina mencatat penguatan paling tinggi pagi ini. Keduanya sama-sama naik 0,11%, dengan won berada di posisi KRW1.323,61/US$ dan peso di PHP63,361/US$.
Dolar Taiwan menyusul dengan kenaikan 0,06%, sementara dong Vietnam menguat 0,04%. Yuan China dan baht Thailand sama-sama naik 0,03%.
Berbeda dengan mayoritas mata uang kawasan, rupiah masih tertahan di zona merah. Mata uang Garuda melemah tipis 0,03% ke posisi Rp18.050/US$, sehingga masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000/US$.
Yen Jepang juga melemah 0,06%, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,05%. Dolar Singapura terkoreksi tipis 0,02%.
Di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia, dolar AS justru bergerak sedikit lebih tinggi. Indeks dolar AS atau DXY pada waktu yang sama terapresiasi 0,07% ke posisi 101,679.
Kenaikan pagi ini memang cukup terbatas, tetapi dolar AS masih berada di level yang relatif tinggi. Dalam beberapa waktu terakhir, DXY bahkan sempat menyentuh 102,9, level tertinggi sejak April 2025, sebelum kembali turun ke kisaran 101.
Secara tahunan, DXY tercatat sudah menguat sekitar 3,3% dibandingkan posisi akhir 2025.
Kekuatan dolar dalam beberapa bulan terakhir ditopang oleh suku bunga AS yang masih tinggi, lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, serta permintaan terhadap greenback ketika ketidakpastian pasar meningkat.
Namun, dolar yang terlalu kuat juga membawa konsekuensi bagi ekonomi AS. Zafer Ergezen, analis pasar berjangka dan komoditas, menilai penguatan dolar dapat mengurangi daya saing produk-produk AS di pasar global.
"Dolar menguat, suku bunga naik, dan inflasi meningkat menjelang pemilu sela. Ini bukan sesuatu yang diinginkan Trump karena biaya cicilan rumah ikut naik dan banyak barang menjadi lebih mahal, yang paling jelas terlihat dari harga bensin," ujar Ergezen.
Menurutnya, arah dolar dan kondisi ekonomi AS berikutnya juga akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah setelah pemilu sela AS.
"Saya pikir akan ada perkembangan yang sangat serius dalam perang AS/Israel-Iran setelah pemilu. Bergantung pada hasilnya, mungkin tercapai kesepakatan yang bertahan lama atau perang justru meningkat ke tingkat yang sama sekali berbeda," ujarnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)