MARKET DATA

Harga Emas Susah Melonjak Lagi, Level US$4.100 Jadi Taruhan

mae,  CNBC Indonesia
22 October 2026 06:45
Emas
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas menguat tipis setelah melemah tiga hari beruntun.

Penguatan ini didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), sementara investor menantikan pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (21/10/2026) ditutup di posisi US$ 4140,38 per troy ons. Harganya menguat 0,39%.

Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya anjlok tiga hari beruntun.

Harga emas melemah pada hari ini. Pada Kamis (22/10/2026) pukul 06.27 WIB, harga emas melandai 0,34% ke US$ 4126,46 per troy ons.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, turun untuk sesi kedua berturut-turut. Kondisi ini mengurangi biaya peluang (opportunity cost) memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Investor kini mencermati rapat kebijakan The Fed pada 27-28 Oktober serta laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Personal (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pekan depan untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga selanjutnya.

 

"Saya pikir pasar saat ini memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, tetapi kemungkinan baru terjadi pada Desember. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun cukup signifikan," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

"Saya pikir harga emas akan bergerak dalam kisaran terbatas untuk sementara waktu. Namun, kecenderungannya masih mengarah ke penurunan," ujarnya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sebesar 88% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember.

Hampir seluruh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini dan menaikkannya pada Desember.

Para pembuat kebijakan memilih bersikap hati-hati meskipun inflasi masih persisten, yang dalam kondisi normal dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat.

 

Meski emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi (inflation hedge), suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tariknya karena investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil.

"Saya masih meyakini bahwa dalam jangka pendek, emas berada dalam fase konsolidasi. Jadi, setiap kali harga turun di bawah US$4.100, ada kecenderungan harga menemukan titik dasar karena muncul minat beli. Namun, potensi kenaikannya masih terbatas selama konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian," kata Giovanni Staunovo, analis UBS.

Sementara itu, harga minyak bergerak relatif stabil ketika investor mempertimbangkan kemungkinan kemajuan menuju perundingan Rusia-Ukraina, di tengah penurunan persediaan minyak AS dan belum adanya dialog antara AS dan Iran.

Berbeda dengan emas, harga perak malah

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (21/10/2026) ditutup di posisi US$ 57,97 per troy ons. Harganya melemah tipis 0,02%.

Pelemahan ini memutus reli dua hari beruntun sebelumnya.

Harga perak masih melemah pada hari ini. Pada Kamis (22/10/2026) pukul 06.37 WIB, harga perak turun 0,65% ke US$ 57,59 per troy ons.



Most Popular
Features