MARKET DATA

Perhatian! Ini Deretan Raksasa LQ45 dengan Valuasi Murah

mae,  CNBC Indonesia
21 October 2026 14:35
Ilustrasi IHSG
Foto: Pexels/Anna Nekrashevich

Jakarta, CNBC Indonesia - Huru hara MSCI sejak Jumat pekan lalu membuat ratusan saham tumbang dan jatuh ke level jauh di bawah nilai fundamentalnya.

IHSG sudah turun 10% lebih sejak MSCI membuka kemungkinan Indonesia masuk ke standalone market. Sepanjang tahun ini, IHSG ambruk 40% sepanjang tahun ini.

Namun, harga saham yang rendah belum tentu mencerminkan valuasi yang murah. Begitu pula sebaliknya, saham dengan harga tinggi atau market cap besar belum tentu diperdagangkan dengan valuasi mahal.

Di indeks LQ45, sejumlah emiten dengan market cap mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah masih memiliki valuasi relatif rendah. Bahkan, beberapa di antaranya mencatatkan price to earnings ratio (PER) hanya sekitar tiga kali, dengan price to book value (PBV) di bawah satu kali.

Melihat Murah atau Mahal Valuasi Saham

Murah atau mahalnya suatu saham tidak hanya dilihat dari harga per lembarnya. Investor juga dapat menggunakan sejumlah rasio keuangan, terutama PER dan PBV, untuk membandingkan harga saham dengan kondisi fundamental perusahaan.

 

PER mengukur perbandingan harga saham terhadap laba per saham.

Sebagai contoh, PER sebesar 5 kali berarti harga saham setara dengan lima kali laba per saham tahunan yang digunakan dalam perhitungan. Semakin rendah rasionya, semakin rendah pula harga yang dibayar investor untuk setiap rupiah laba, dengan asumsi faktor lainnya setara.

Sementara itu, PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham. PBV di bawah satu kali menunjukkan bahwa harga pasar saham berada di bawah nilai buku akuntansinya.

Selain kedua indikator tersebut, dividend yield juga dapat menjadi pertimbangan. Rasio ini menunjukkan besarnya dividen per saham dibandingkan harga saham, sehingga memberikan gambaran imbal hasil dividen pada tingkat harga tertentu.

Deretan Saham LQ45 dengan Valuasi Rendah

Berdasarkan data valuasi yang dihimpun, sejumlah saham LQ45 tercatat memiliki PER satu digit dan PBV di bawah satu kali, meskipun market cap masing-masing emiten cukup beragam.

 

PT Astra International Tbk (ASII) menjadi emiten dengan market cap terbesar dalam daftar, yakni Rp180,15 triliun. Saham ini diperdagangkan dengan PER 6,05 kali dan PBV 0,78 kali, serta memiliki dividend yield sebesar 8,76%.

Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan market cap Rp117,49 triliun, PER 5,67 kali, dan PBV 0,72 kali. Adapun dividend yield BBNI mencapai 11,08%.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki market cap Rp68,26 triliun dengan PER 6,96 kali dan PBV 0,83 kali. Dividend yield saham ini tercatat sebesar 11,10%, tertinggi di antara emiten dalam daftar.

Jika dilihat dari PER, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan rasio terendah sebesar 3,06 kali, disusul PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sebesar 3,41 kali.

INKP juga memiliki PBV terendah dalam daftar, yakni 0,30 kali, diikuti BBTN sebesar 0,34 kali. Artinya, kedua saham tersebut diperdagangkan pada harga pasar yang lebih rendah dibandingkan nilai buku per sahamnya.

Adapun dari sisi dividen, ADRO dan BBNI menawarkan dividend yield tertinggi, masing-masing sebesar 11,10% dan 11,08%, disusul PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebesar 9,51%.

Valuasi Saham Rendah Belum Tentu Saham Undervalued

Meski memiliki PER dan PBV rendah, saham-saham tersebut belum tentu diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.

PER yang rendah dapat mencerminkan harga saham yang relatif murah terhadap laba, tetapi juga bisa dipengaruhi laba yang sedang tinggi untuk sementara waktu atau ekspektasi penurunan kinerja ke depan.

Begitu pula dengan PBV di bawah satu kali. Kondisi ini tidak selalu menunjukkan saham sedang dihargai terlalu murah, karena pasar juga mempertimbangkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari aset dan modal yang dimilikinya.

Terlebih, emiten dalam daftar berasal dari sektor yang berbeda, sehingga perbandingan valuasi perlu memperhatikan karakteristik bisnis, tingkat profitabilitas, prospek laba, dan risiko masing-masing perusahaan.

Karena itu, PER dan PBV lebih tepat digunakan sebagai gambaran awal valuasi, bukan satu-satunya dasar untuk menentukan apakah suatu saham layak dibeli.

 

(mae/mae)



Most Popular