Harga Emas Ambruk, Perak Malah Terbang: Apa Penyebabnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melemah. Investor kembali dibayangi kekhawatiran kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa ditutup di posisi US$ 4124,34 per troy ons. Harganya melemah 0,07%.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah tiga hari beruntun.
Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Rabu (21/10/2026) pukul 06.59 WIB, harga emas melemah 0,26% ke US$4113,7 per troy ons.
Tekanan terhadap emas datang dari prospek suku bunga tinggi yang membuat aset berbunga, terutama obligasi pemerintah AS, semakin menarik di mata investor.
"Inflasi dan suku bunga The Fed menjadi isu utama yang membayangi emas saat ini. Untuk sementara, US Treasury tampak lebih menarik dibandingkan emas sebagai aset lindung nilai," ujar Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior StoneX, dikutip dari Refinitiv.
Haberkorn menilai level US$4.000 per troy ounce menjadi titik krusial yang perlu dicermati. Kemampuan emas bertahan di atas level tersebut akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan yang disampaikan The Fed.
Peluang Bunga Naik Lagi pada Desember
The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, menjadi kenaikan pertama sepanjang tahun ini.
Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang belum menunjukkan urgensi untuk memperketat kebijakan lebih lanjut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam rapat 27-28 Oktober. Namun, pasar masih mengantisipasi pengetatan moneter pada akhir tahun.
Â
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 92%.
Investor kini menanti data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pekan depan. Indikator inflasi andalan The Fed tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk mengukur persistensi tekanan harga dan menentukan arah suku bunga selanjutnya.
Emas Sudah Anjlok 26% dari Rekor Tertinggi
Tekanan suku bunga membuat harga emas masih jauh dari rekor tertingginya. Harga emas kini telah merosot sekitar 26% dari puncak US$5.594,82 per troy ounce pada Januari.
Dibandingkan level sebelum perang Iran pecah, harga emas juga telah turun sekitar 22%. Kala itu, kekhawatiran lonjakan inflasi energi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Â
Secara historis, emas menjadi pilihan investor untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi. Namun, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi, terutama saat obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.
Di Jepang, Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Kazuo Ueda menyatakan inflasi yang mendasari perekonomian sudah cukup dekat dengan target 2%. Pernyataan ini membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut.