Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 2,5% dalam Hitungan Jam ke US$ 4100
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok lebih dari 2% pada perdagangan hari ini Senin (28/9/2026), seiring kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.
Merujuk Refnitiv, harga emas pada perdagangan Senin pukul 13.00 WIB ada di posisi US$ 4180,49 per troy ons. Harganya ambruk 2,5% dalam hitungan jam sejak dibuka pada pagi hari ini.
"Kombinasi imbal hasil obligasi yang tinggi dan harga minyak yang mahal terus menjadi batu sandungan bagi emas.
Harga minyak naik di tengah sinyal yang beragam mengenai aliran pasokan minyak, sehingga inflasi tetap menjadi perhatian utama investor," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, kepada Reuters.
Iran menegaskan bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konfliknya dengan AS dan Israel.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri pertempuran. Harga minyak bergerak naik.
The Fed menaikkan suku bunga pada awal bulan ini, dengan meningkatkan kisaran target suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperhitungkan peluang sebesar 68% bahwa AS akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Harga energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dengan meningkatkan biaya di berbagai sektor ekonomi. Emas secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, lingkungan suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor akan mencermati serangkaian data pasar tenaga kerja dan inflasi AS pekan ini, termasuk lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), serta data nonfarm payrolls.
"Data inflasi atau ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan kenaikan pada imbal hasil obligasi dan semakin membebani harga emas," kata Waterer.
Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack pada Jumat mengatakan dirinya khawatir inflasi yang terus tinggi berisiko membuat masyarakat AS terbiasa menerima harga-harga mahal sebagai kondisi normal. Ia menambahkan bahwa bank sentral tidak boleh membiarkan hal tersebut terjadi.
(mae/mae)