Harga Emas Masuk Pekan Kritis, Bersiaplah Hadapi Gejolak!
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas diperkirakan masih tertekan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS pada pekan ini. Sejumlah data penting pekan ini juga bisa mengguncang harga emas.
Namun, aksi beli di kisaran US$4.200-US$4.300 per troy ons menunjukkan tekanan jual mulai mereda.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (25/9/2026) ada di posisi US$ 4286,25 per troy ons. Harganya menguat tipis 0,19%.
Namun, dalam sepekan, harga emas jatuh 2,07%.
Pada hari ini, Senin (28/9/026) pukul 06.30 WIB, harga emas melemah 0,51% ke US$ 4264,6 per troy ons.
Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus 5% menjadi pemberat harga emas.
Kini, perhatian pasar tertuju pada data inflasi dan tenaga kerja AS yang akan menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) berikutnya.
Harga emas sempat melesat mendekati US$4.700 pada akhir Agustus, sebelum berbalik tajam dan jatuh di bawah US$4.300.
Meski demikian, dalam tiga pekan terakhir, tekanan jual belum mampu mendorong harga turun lebih dalam. Zona US$4.200-US$4.300 kini menjadi area pertahanan penting bagi pembeli.
Koreksi emas terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak 2023. The Fed juga memberi sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan tahun ini.
Suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut membuat emas kurang menarik.
Awas! Banyak Data Penting yang Bayangi Emas Pekan Ini
Pasar akan mencermati data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS Agustus yang dijadwalkan rilis Rabu (30/9/2026).
Inflasi AS masih berada di atas target The Fed sebesar 2%. Inflasi CPI Agustus tercatat 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti mencapai 2,4%.
Jika inflasi PCE lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan moneter lanjutan bisa menguat. Kondisi ini berpotensi mendongkrak dolar AS dan imbal hasil obligasi, sekaligus menekan emas.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan terhadap imbal hasil dan membuka ruang bagi pemulihan harga emas.
Pasar juga akan mencermati revisi tahunan data ekonomi AS yang dirilis bersamaan dengan laporan PCE.
Laporan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) September yang dijadwalkan rilis 2 Oktober menjadi ujian berikutnya.
Pada Agustus, ekonomi AS menciptakan 162.000 lapangan kerja baru, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Upah rata-rata per jam naik 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan.
Data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Sebaliknya, pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali mengetatkan kebijakan.
Geopolitik dan China Jadi Penopang
Ketidakpastian geopolitik masih menjadi penopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Ketegangan AS-Iran dan potensi konflik baru dapat meningkatkan minat terhadap emas. Sebaliknya, kemajuan diplomasi berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik.
Permintaan fisik dari China juga berpotensi menahan penurunan harga. Namun, permintaan tersebut belum tentu cukup untuk memicu reli besar selama kondisi moneter global masih ketat.
Proyeksi Harga Emas Pekan Ini: Level US$4.200 Jadi Pertahanan Kunci
Secara teknikal, kemampuan emas bertahan di zona US$4.200-US$4.300 menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
Jika harga mampu bertahan, koreksi berpotensi kehilangan momentum dan tren bullish jangka panjang masih dapat terjaga.
Namun, jika harga menembus zona tersebut secara meyakinkan, risiko penurunan lebih dalam akan meningkat, terutama jika dolar AS dan imbal hasil obligasi terus menguat.
Dengan data inflasi PCE dan tenaga kerja AS yang dirilis dalam rentang beberapa hari, volatilitas emas berpotensi meningkat. Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah data ekonomi AS memperkuat atau justru meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Analis bullion menilai kombinasi faktor tersebut akan menguji sentimen pasar terhadap emas, terutama di tengah pekan perdagangan yang lebih pendek akibat libur.
Meski berpotensi terkonsolidasi pada level tinggi hingga akhir 2026, harga emas diproyeksikan kembali menguat pada semester I-2027.
ICICI Bank dalam laporan risetnya memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.600-US$5.000 per troy ons pada paruh pertama 2027.
Proyeksi tersebut didukung potensi meredanya imbal hasil riil obligasi AS dan penguatan dolar AS, yang selama ini menjadi tekanan bagi emas.
Senada dengan emas, harga perak juga melemah.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (25/9/2026) ada di posisi US$ 64,21 per troy ons. Harganya naik 0,59%.
Namun, dalam sepekan, harga perak jatuh 2,95%.
Pada hari ini, Senin (28/9/026) pukul 06.30 WIB, harga perak anjlok 0,74% ke US$ 63,8 per troy ons.
(mae/mae)