MARKET DATA
Newsletter

AS dan MSCI Kembali Kirim "Badai", IHSG- Rupiah Rawan Terguncang!

mae,  CNBC Indonesia
16 October 2026 06:35
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Kamis (15/10/2026) atau Jumat dini hari Waktu Indonesia.

Investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) ke sektor lain yang dinilai menawarkan valuasi lebih menarik, di tengah kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI dan ancaman inflasi yang persisten.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 556,21 poin atau 1,08% ke level 52.177,69. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,33% ke posisi 7.744,06.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turut berakhir di zona hijau, naik tipis 0,08% ke level 26.713,03.

Namun, pergerakan Nasdaq cukup bergejolak. Indeks tersebut sempat merosot hingga 1,4% sebelum memangkas kerugiannya dan berbalik menguat menjelang penutupan.

Tekanan terhadap saham teknologi muncul seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi perusahaan dalam pengembangan AI. Pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI mampu mengimbangi besarnya belanja modal dan valuasi saham yang sudah melonjak tinggi.

Saham Seagate Technology dan Western Digital melanjutkan pelemahannya sepanjang pekan ini. Tekanan juga melanda saham SK Hynix, yang turut memicu aksi jual tajam pada indeks Kospi Korea Selatan dalam perdagangan sebelumnya.

Investor semakin khawatir terhadap potensi kelebihan pasokan (oversupply) chip memori, terutama ketika produsen Korea Selatan menghadapi persaingan yang semakin ketat dari China.

CEO Tesla Elon Musk turut menyoroti perkembangan tersebut melalui unggahan di platform X. Ia memperkirakan China akan memproduksi RAM dalam jumlah sangat besar pada 2028.


Kekhawatiran terhadap prospek industri AI juga muncul setelah pendapatan Anthropic dilaporkan mencapai US$16,8 miliar pada kuartal III-2026. Sejumlah pelaku pasar mempertanyakan apakah pertumbuhan pendapatan perusahaan AI tersebut cukup cepat untuk membenarkan lonjakan valuasi saham-saham produsen chip.


Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turut mengubah pertimbangan investor dalam mengalokasikan dana.
Ketika imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menembus 5%, level tertinggi sejak awal 2000-an, aset pendapatan tetap menjadi semakin kompetitif dibandingkan saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi dan risiko lebih besar.

"Ketika imbal hasil Treasury mencapai 5% dan menjadi yang tertinggi sejak awal 2000-an, investor akan mulai membandingkannya dengan mengambil taruhan besar pada AI," ujar Alex Shahidi, co-chief investment officer Evoke, bagian dari MAI Capital Management, kepada CNBC International.

Menurut Shahidi, persoalannya bukan lagi apakah investor harus masuk atau keluar dari saham AI, melainkan seberapa besar konsentrasi investasi yang ingin mereka tempatkan di sektor tersebut.

Meski demikian, tidak semua saham yang berkaitan dengan AI mengalami tekanan.


Saham CoreWeave melonjak hampir 6%, berbalik arah setelah anjlok lebih dari 15% pada sesi sebelumnya. Investor sebelumnya khawatir perusahaan tersebut terlalu agresif menggunakan utang untuk membiayai ekspansi infrastruktur AI. Imbal hasil obligasi korporasi CoreWeave juga sempat melonjak.

Saham Micron Technology turut pulih dari pelemahan sebelumnya dan ditutup naik hampir 2%.
Di luar sektor teknologi, penguatan saham konsumen turut menopang pasar. Saham Walmart naik 1,5%, sedangkan Nike melonjak lebih dari 5%.

Di sisi lain, investor juga mencermati data inflasi terbaru yang memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dapat mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat menjelang akhir tahun.


Data indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada September mencatat kenaikan 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan. Kedua angka tersebut menjadi kenaikan terbesar sejak 2022.
Data itu dirilis sehari setelah inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) September juga menunjukkan kenaikan tahunan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Kombinasi kenaikan harga konsumen dan harga produsen memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan inflasi AS belum mereda, terutama di tengah tingginya harga energi.

"Laporan PPI hari ini, setelah CPI pada Rabu, menegaskan bahwa inflasi semakin memburuk ketika harga energi tetap tinggi," kata David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation.

"Terlepas dari ada atau tidaknya pemilu, harga terus naik dan The Fed mungkin terpaksa mengambil tindakan," ujarnya.
Kondisi tersebut menempatkan investor pada persimpangan: di satu sisi, saham teknologi masih menawarkan potensi pertumbuhan dari revolusi AI; di sisi lain, imbal hasil obligasi yang tinggi dan risiko pengetatan moneter membuat investor semakin selektif dalam menentukan aset yang layak diburu.

(mae/mae)


Most Popular
Features