MARKET DATA

PM Malaysia Ungkap Defisit di Atas 3%, Tak Diduga Ekonominya Begini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 October 2026 06:00
Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim melakukan panggilan telefon dengan Presiden Terpilih Indonesia merangkap Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto pada Senin (1/7/2024). (Instagram @anwaribrahim_my)
Foto: Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim melakukan panggilan telefon dengan Presiden Terpilih Indonesia merangkap Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto pada Senin (1/7/2024). (Instagram @anwaribrahim_my)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa defisit anggaran negaranya masih berada di atas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Bahkan, pemerintah Malaysia harus menaikkan perkiraan defisit tahun ini akibat meningkatnya kebutuhan subsidi energi.

Dalam penyampaian Anggaran 2027 di parlemen pada Jumat (9/10/2026), Anwar menyebut defisit fiskal Malaysia pada 2026 diperkirakan mencapai 3,6% PDB, lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar 3,5%.

Kenaikan tersebut tidak lepas dari perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia melonjak. Akibatnya, kebutuhan subsidi bahan bakar di Malaysia pada 2026 meningkat hingga mencapai 40 miliar ringgit.

Meski menghadapi tekanan tersebut, Anwar menegaskan pemerintah tetap berupaya mengurangi defisit anggaran dan mengendalikan penambahan utang.

"Meskipun menghadapi konflik Asia Barat dan krisis pasokan global yang meningkatkan biaya bahan bakar dan energi, Pemerintah MADANI terus berupaya mengurangi defisit serta jumlah utang baru secara terkendali," tulis Anwar melalui akun Instagram resminya.

Anwar juga menekankan bahwa menjaga keseimbangan fiskal menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah Malaysia dalam menyusun Anggaran 2027 agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat tetap berjalan.

Defisit anggaran sendiri terjadi ketika pengeluaran pemerintah lebih besar dibandingkan pendapatannya. Kekurangan tersebut biasanya harus ditutup melalui pembiayaan, termasuk dengan menerbitkan utang baru.

Jika melihat beberapa tahun terakhir, Malaysia sebenarnya sudah cukup baik dalam menekan defisit fiskalnya.

Data Kementerian Keuangan Malaysia menunjukkan defisit pada 2021 masih mencapai 6,4% PDB, ketika perekonomian menghadapi tekanan besar akibat pandemi Covid-19.

Angka tersebut kemudian turun menjadi 5,5% pada 2022, sebesar 5,0% pada 2023, lalu 4,1% pada 2024 dan 3,7% pada 2025.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan yang kongkrit terhadap kondisi fiskal Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, tingginya harga energi membuat upaya pemerintah Malaysia memangkas defisit pada 2026 berjalan lebih lambat dari rencana awal. 

Rasio Utang Malaysia Masih di Atas 60% PDB

Selain defisit anggaran, kondisi utang pemerintah Malaysia menarik untuk dicermati.

Dalam unggahan Instagram yang sama, Anwar mengungkapkan rasio utang pemerintah federal terhadap PDB mencapai 65,2% pada 2025.

Rasio tersebut diperkirakan turun menjadi 64,0% pada 2026 dan kembali berkurang menjadi 63,7% pada 2027.

Penurunan rasio utang menjadi salah satu sasaran pemerintah untuk menjaga kesehatan keuangan negara dalam jangka panjang.

Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas sasaran jangka menengah pemerintah, yakni rasio utang terhadap PDB sebesar 60%.

Di sisi lain, pemerintah Malaysia juga berupaya meningkatkan penerimaan negara untuk memperkuat kondisi anggarannya.

Anwar mengungkapkan pendapatan pemerintah federal Malaysia pada 2026 diperkirakan mencapai 363,6 miliar ringgit, lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal sebesar 343,1 miliar ringgit.

Pada 2027, pendapatan pemerintah diproyeksikan kembali meningkat menjadi 380,8 miliar ringgit.

Kenaikan penerimaan tersebut memberikan ruang tambahan bagi pemerintah untuk membiayai kebutuhan belanja negara, sekaligus mendukung upaya mengurangi defisit anggaran.

Ekonomi Malaysia Tumbuh Kencang

Di tengah upaya pemerintah Malaysia dalam memperbaiki kondisi anggaran, perekonomiannya masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.

Berdasarkan data Department of Statistics Malaysia (DOSM), ekonomi Malaysia tumbuh 5,2% sepanjang 2025. Nilai PDB nominal negara tersebut mencapai 2,03 triliun ringgit.

Pertumbuhan berlanjut pada 2026. Ekonomi Malaysia tumbuh 5,4% secara tahunan pada kuartal pertama, kemudian meningkat menjadi 6,0% pada kuartal kedua.

Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Malaysia sepanjang semester pertama 2026 mencapai 5,7%.

Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas sektor jasa dan manufaktur.

Pemerintah Malaysia kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,8%-5,3%, sedangkan pada 2027 diproyeksikan mencapai 4,2%-5,2%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Malaysia masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan harga energi dan ketidakpastian global.

Namun, pemerintah tetap menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan belanja negara dengan upaya mengurangi defisit dan mengendalikan utang.

Peringkat Utang Malaysia

Meski rasio utang pemerintah Malaysia masih berada di atas 60% PDB, tiga lembaga pemeringkat kredit internasional tetap mempertahankan peringkat utang negara tersebut dalam kategori layak investasi atau investment grade.

S&P Global Ratings pada 29 September 2026 mempertahankan peringkat kredit Malaysia di level A- dengan prospek stabil.

S&P menilai Malaysia masih didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, struktur ekonomi yang beragam, serta upaya pemerintah memperbaiki kondisi fiskal secara bertahap.

Sementara itu, Moody's Ratings mempertahankan peringkat A3 dengan prospek stabil dalam peninjauan berkala pada Juli 2026.

Moody's menilai ekonomi Malaysia yang beragam, besarnya tabungan domestik, serta pasar keuangan yang cukup dalam membantu pemerintah memenuhi kebutuhan pembiayaan utangnya.

Adapun Fitch Ratings memberikan peringkat BBB+ dengan prospek stabil dalam penilaian terakhir pada Desember 2025.

Ketiga peringkat tersebut menunjukkan bahwa lembaga internasional masih menilai Malaysia memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban utangnya.

Namun, penilaian tersebut bukan berarti keuangan Malaysia tidak menghadapi risiko.

Tingginya kebutuhan subsidi, besarnya utang pemerintah, serta ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Bagaimana Kondisi Ringgit dan Pasar Saham Malaysia?

Di pasar keuangan, pergerakan mata uang ringgit dan bursa saham Malaysia menunjukkan gambaran yang cukup beragam.

Merujuk data Refinitiv, ringgit ditutup menguat 0,05% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi RM4,081/US$ pada perdagangan Senin (12/10/2026), dibandingkan penutupan sebelumnya di RM4,083/US$.

Namun, sepanjang 2026 atau secara year-to-date (YTD), ringgit masih melemah 0,61% terhadap dolar AS. 

Menariknya, jika dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya, kinerja ringgit masih cukup positif. Dalam setahun, ringgit tercatat menguat 3,53%.

Sepanjang tahun ini, ringgit juga sempat menguat hingga RM3,882/US$ pada 26 Februari, sebelum kembali melemah seiring meningkatnya tekanan global.

Sementara itu, pasar saham Malaysia masih mencatat kinerja negatif sepanjang 2026.

Indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI (FBM KLCI) ditutup menguat 0,59% ke posisi 1.618,01 pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Namun, secara YTD, indeks saham utama Malaysia tersebut masih melemah 3,70% dibandingkan posisi akhir 2025 di level 1.680,11.

Padahal, FBM KLCI sempat mencapai posisi 1.771,25 pada 27 Januari 2026. Dari level tersebut, indeks telah turun sekitar 8,65%.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan satu tahun lalu, FBM KLCI masih mencatat kenaikan tipis 0,17%.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak selalu langsung diikuti penguatan mata uang maupun pasar saham.

Pasar turut mempertimbangkan kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, arah dolar AS, hingga risiko geopolitik sebelum menempatkan dananya.

Kisah keberhasilan Malaysia dalam menurunkan defisit anggaran dan rasio utang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor.

Terlebih, kenaikan harga minyak dunia masih berpotensi menambah beban subsidi pemerintah dan memberikan tekanan terhadap anggaran negara.

Dengan demikian, meskipun defisit Malaysia masih berada di atas 3% PDB, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa perekonomian negara sedang mengalami krisis.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan peringkat kredit yang masih berada dalam kategori layak investasi menjadi penopang penting. Namun, pemerintah tetap harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan belanja, pertumbuhan ekonomi, dan upaya memperbaiki kondisi keuangan negara.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular