MARKET DATA
Newsletter

3 Ancaman Besar Kepung RI: Perang Memanas, Minyak Membara-Dolar Ngamuk

mae,  CNBC Indonesia
13 October 2026 06:30
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, saham dan rupiah sama-sama melemah
  • Wall Street berakhir beragam, harga minyak kembali melejit dan jadi kekhawatiran
  • Perkembangan perang, isu MSCI hingga pertemuan IMF akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, Senin (12/10/2026). Bursa saham dan rupiah sama-sama  melemah.

Pasar keuangan Indonesia hari ini diperkirakan masih akan menghadapi tekanan. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Senin (12/10/2026). Sempat dibuka di zona hijau dan menyentuh level tertinggi 6.128,72, IHSG berbalik arah hingga ditutup anjlok 157,61 poin atau 2,59% ke posisi 5.975,78.

Sepanjang perdagangan, IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah 5.917,51. Penutupan kemarin menjadi level terendah dalam tiga bulan terakhir, atau sejak 10 Juli 2026.


Sebanyak 602 saham melemah, 77 stagnan dan hanya 114 menguat.  Asing mencatat net buy sebesar RP 128,29 miliar pada perdagangan Senin kemarin.

Volume saham yang diperdagangkan mencapai 62,2 miliar dengan nilai Rp 13,7 triliun.

Tekanan jual masih membayangi pasar saham domestik. Dalam 21 hari perdagangan terakhir, IHSG tercatat 15 kali berakhir di zona merah dan hanya enam kali menguat. Secara akumulatif, IHSG melemah 3% dalam sepekan, terkoreksi 9,16% dalam sebulan, dan anjlok 31,35% sejak awal tahun (year to date/YtD).

Seluruh sektor perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di zona merah. Sektor utilitas memimpin koreksi dengan penurunan 9,35%, disusul energi yang anjlok 5,80% dan bahan baku yang melemah 3,87%.

 

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menekan indeks. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pemberat utama dengan kontribusi negatif 15,72 poin, diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 12,04 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 9,11 poin.

Di tengah tekanan tersebut, investor akan menghadapi pekan yang sarat sentimen global. Eskalasi geopolitik Timur Tengah, pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, hingga rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China berpotensi menentukan arah pasar.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati isu Morgan Stanley Capital International (MSCI), termasuk risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier.

Sentimen MSCI masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor mencermati risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan dalam indeks MSCI yang diproyeksikan pada semester II-2027.

 

"Issue-issue di market masih berkait MSCI," ujar Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/2026).

Sebelumnya, MSCI membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), penambahan saham baru, serta peningkatan status saham dalam indeks. Kebijakan tersebut akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks November 2026, dengan pengumuman diperkirakan keluar pada akhir Oktober.

Dari pasar mata uang, rupiah kehilangan tenaga pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Sempat menguat pada pagi kemarin, mata uang Garuda akhirnya berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp17.895/US$ pada perdagangan Senin (12/10/2026).


Rupiah kembali tertekan ketika indeks dolar AS bertahan di sekitar level tertingginya dalam 18 bulan. Posisi DXY yang masih berada di atas 102 menunjukkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar tetap kuat.

Dolar AS memperoleh dukungan dari meningkatnya kehati-hatian investor menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN),imbal hasil melandai ke 7,119% pada perdagangan kemarin dari 7,237% pada Jumat pekan lalu. Imbal hasil SBN yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena dibeli investor.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Indeks pasar luas S&P 500 turun 0,06% ke level 7.807,24. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 195,60 poin atau 0,38% ke posisi 51.850,55. Kenaikan ini menjadi penguatan harian ketiga berturut-turut bagi indeks yang berisi 30 saham tersebut.

Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,44% ke level 27.245,90.

Nasdaq tertekan penurunan saham Micron Technology sebesar 3,9%. Pelemahan ini terjadi ketika investor mencermati meningkatnya persaingan dari perusahaan China, CXMT, yang melaporkan kemajuan dalam pengembangan struktur chip baru.

Sebaliknya, Dow Jones mendapat dorongan dari kenaikan saham Salesforce sebesar 2%, setelah Bank of America menaikkan rekomendasi saham perusahaan tersebut sebanyak dua tingkat.

 

Di sisi lain, harga minyak naik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina pada akhir pekan. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kemudian menyatakan Moskow telah melanggar kesepakatan tersebut.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,06% dan ditutup pada US$93,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent menguat 1,84% ke level US$106,65 per barel.

Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam perang melawan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran, menyusul serangan mematikan lainnya di bandara internasional Riyadh.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Laporan Keuangan dan Inflasi Jadi Sorotan

Wall Street sebelumnya mencatatkan kenaikan mingguan berkat reli saham teknologi yang membantu investor mengabaikan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi.

 

Dow Jones dan S&P 500 masing-masing membukukan kenaikan mingguan kedua dalam tiga pekan terakhir. Sementara itu, Nasdaq mencatatkan penguatan selama empat pekan berturut-turut.

Investor berharap musim laporan keuangan kuartal III-2026 dapat membantu menopang pasar saham di tengah gejolak Timur Tengah. Secara umum, hasil kinerja perusahaan diperkirakan tetap kuat.

Menurut John Butters dari FactSet, laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 diperkirakan tumbuh 29,6% pada kuartal III-2026.

Jika terealisasi, ini akan menjadi kuartal keempat berturut-turut ketika pertumbuhan laba indeks tersebut melampaui 25%. Kinerja ini didukung pesatnya pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI).

 

Musim laporan keuangan akan semakin ramai pekan ini, terutama dari sektor perbankan besar. Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo dijadwalkan merilis kinerja keuangan mereka.

Investor juga akan mencermati data inflasi utama AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) September dijadwalkan dirilis pada Rabu, sedangkan Indeks Harga Produsen (PPI) akan diumumkan pada Kamis.

"Semua akan bergantung pada laporan keuangan," kata Tim Holland, Chief Investment Officer di Orion, kepada CNBC International.

Ia menambahkan, sekalipun data inflasi pekan ini lebih tinggi dari perkiraan, pasar kemungkinan menilainya belum cukup untuk menggagalkan langkah Federal Reserve (The Fed).

Bank sentral AS secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya, berdasarkan perangkat CME FedWatch.

"Pada suatu titik, sesuatu akan mengguncang pasar bullish ini. Namun, menurut saya, hal terpenting yang terjadi saat ini adalah pembangunan infrastruktur belanja modal AI," ujarnya.

Setelah babak belur pada perdagangan kemarin, pasar keuangan Indonesia kemungkinan masih dihadapkan pada banyaknya tekanan hari ini.

Gonjang-ganjing mengenai MSCI, memanasnya perang hingga pertemuan Dana Moneter Internasional (IMG) akan menjadi penggerak pasar hari ini:

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Houthi Hujani Arab Saudi dengan Rudal dan Drone

Arab Saudi kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi Yaman pada Senin (12/10/2026). Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan ancaman serangan baru di tengah eskalasi konflik yang meluas dari perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Houthi juga terus menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur Saudi, memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik Yaman untuk menekan Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak. Namun, pasukan yang didukung Riyadh masih menghadapi perlawanan di sejumlah front.

Di tengah konflik, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Houthi dan Arab Saudi. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penguatan kerja sama keamanan dan pertahanan negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda AS melancarkan operasi militer.

2.  Harga Minyak Naik, Indeks Dolar Melonjak

Harga minyak dunia naik hampir US$2 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026). Serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan, mengalahkan sentimen tambahan pasokan minyak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan peningkatan ekspor diesel Rusia dan gencatan senjata Rusia-Ukraina untuk serangan terhadap infrastruktur energi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik US$1,93 atau 1,8% ke level US$106,65 per barel, tertinggi sejak 15 September. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,89 atau 2% menjadi US$93,74 per barel.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Serangan lanjutan terjadi pada Minggu, meningkatkan eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dari salah satu produsen terbesar dunia.

Kilang minyak Arab Saudi masih beroperasi. Namun, lima kilang sempat ditutup sementara ketika sebuah jalur pipa menuju Laut Merah dihentikan operasinya setelah serangan rudal.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent untuk Desember menjadi US$90 per barel dari sebelumnya US$85. Bank investasi tersebut memperkirakan premi risiko geopolitik mencapai sedikit di atas US$20 per barel.

Goldman Sachs juga memperkirakan harga WTI tetap lebih rendah dibandingkan Brent akibat tingginya biaya pengiriman minyak dari AS ke Eropa. Harga WTI diproyeksikan rata-rata US$81 per barel pada Desember 2026 dan US$73 per barel pada 2027.

Di Teluk Meksiko, perusahaan energi Shell, Chevron, dan BP berupaya mengerahkan kembali personel serta memulihkan produksi di anjungan lepas pantai setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.

Lonjakan Harga minyak ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kenaikan inflasi sehingga suku bunga The Fed akan naik lebih cepat. Kondisi ini ikut melambungkan indeks dolar ke 102,589 atau posisi tertinggi sejak April 2025 di mana pada saat itu dunia terguncang perang dagang.

Kondisi ini tentu menjadi kabar buruk bagi rupiah. Indeks dolar yang melambung menandai investor Kembali memburu dolar AS sehingga ada potensi capital outflow yang membuat rupiah tertekan.

3. Isu MSCI

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai, sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan IHSG. Pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan pada semester II-2027.

"Isu-isu di market masih berkaitan dengan MSCI," ujar Desy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/2026).

Sebelumnya, MSCI membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), serta penambahan saham baru dan peningkatan status saham dalam indeks. Kebijakan tersebut akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks November 2026, dengan pengumuman MSCI diperkirakan keluar pada akhir Oktober.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti penantian investor terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China sebagai salah satu sentimen yang membayangi IHSG. Pergerakan pasar pekan ini juga dipengaruhi eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober 2026.

Ada tiga hal terkait MSCI yang menjadi perhatian pasar. Pertama, ancaman penurunan status pasar, menyusul sorotan MSCI terhadap transparansi pasar saham Indonesia dan penurunan penilaian indikator information flow. Meski Indonesia masih berstatus emerging market, perkembangan reformasi pasar tetap menjadi perhatian menjelang evaluasi berikutnya.

Kedua, pembekuan perubahan indeks, yakni MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham yang diperhitungkan (Number of Shares/NOS), tidak menambahkan saham baru ke indeks investable, serta membatasi perpindahan saham ke kategori indeks yang lebih tinggi. Kebijakan ini berpotensi memengaruhi aliran dana investasi yang mengikuti indeks MSCI.

Ketiga, kekhawatiran arus dana asing. Ketidakpastian terkait transparansi dan klasifikasi pasar dapat mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia sehingga meningkatkan tekanan jual di pasar domestik.

4. Sembilan Perusahaan Siap IPO

Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) per 9 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, dua perusahaan masuk kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.

Direktur Penilaian BEI Saidu Solihin mengatakan, sembilan perusahaan tersebut masih berada dalam antrean untuk melantai di pasar modal.

Berdasarkan klasifikasi aset, dua perusahaan memiliki aset skala kecil di bawah Rp50 miliar, empat perusahaan beraset menengah Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan tiga perusahaan beraset besar di atas Rp250 miliar.

Dari sisi sektor, empat perusahaan berasal dari sektor kesehatan, dua perusahaan dari energi, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor material dasar, keuangan, dan industri.

Sementara itu, hingga saat ini baru tujuh perusahaan yang melantai di BEI sepanjang 2026 dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Minat perusahaan untuk melakukan IPO tahun ini cenderung melemah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi pasar global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktu pelaksanaan penawaran umum perdana saham.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi sebelumnya menyebut dinamika pasar global turut memengaruhi keputusan perusahaan untuk melaksanakan IPO.

5. OJK Bagi Pindar Jadi Empat Tier

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan skema pengelompokan penyelenggara pinjaman daring (Pindar) ke dalam empat tier melalui rancangan perubahan Peraturan OJK (POJK) Nomor 40 Tahun 2024. Skema ini akan menentukan batas maksimum pendanaan serta porsi pendanaan dari masing-masing pemberi dana atau lender.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, pengelompokan tersebut bertujuan mendorong kesehatan keuangan, tata kelola, dan manajemen risiko penyelenggara Pindar.

Kebijakan ini juga dirancang untuk memberikan insentif kepada penyelenggara berkinerja baik sekaligus memperkuat pelindungan konsumen.

Berdasarkan draf perubahan aturan tersebut, pengelompokan akan mempertimbangkan tingkat kesehatan penyelenggara, rasio penyaluran pendanaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta rasio penolakan pengaduan konsumen.

Penyelenggara yang masuk tier 2 hingga tier 4 berpotensi memperoleh pengecualian dari ketentuan batas maksimum pendanaan sebagaimana diatur dalam Pasal 137. Besaran batas pendanaan dan porsi pendanaan dari satu lender akan berbeda untuk setiap tier.

Dalam draf tersebut, penyelenggara tier 4 dapat menyalurkan pendanaan dengan batas maksimum Rp5 miliar. Pendanaan dari satu pemberi dana nonlembaga jasa keuangan dibatasi paling banyak 50% dari total penyaluran pendanaan, sedangkan dari satu pemberi dana lembaga jasa keuangan maksimal 90%.

Sementara itu, tier 3 memiliki batas maksimum pendanaan Rp4 miliar. Porsi pendanaan dari satu pemberi dana nonlembaga jasa keuangan dibatasi maksimal 40%, sedangkan dari satu pemberi dana lembaga jasa keuangan maksimal 85%.

Adapun tier 2 memiliki batas maksimum pendanaan Rp3 miliar. Porsi pendanaan dari satu pemberi dana nonlembaga jasa keuangan dibatasi maksimal 30%, sementara dari satu pemberi dana lembaga jasa keuangan maksimal 80%.

Ketentuan lebih lanjut mengenai metode perhitungan dan kriteria pengelompokan setiap tier akan ditetapkan oleh OJK. Dengan demikian, rincian skema tersebut masih mengacu pada draf perubahan aturan dan belum menjadi ketentuan final.

6. Pembayaran Utang Pajak Kini Lebih Ringan


Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melunasi utang pajak. Melalui PMK Nomor 71 Tahun 2026 yang berlaku sejak 2 Oktober 2026, pembayaran kini diprioritaskan untuk melunasi pokok utang pajak terlebih dahulu, sebelum sanksi administratif.

Dirjen Pajak Bimo Wijayanto mengatakan, aturan baru ini diharapkan membantu wajib pajak menyelesaikan kewajibannya lebih cepat, sekaligus membuka kesempatan memanfaatkan fasilitas pengurangan atau penghapusan sanksi administratif sesuai ketentuan.

Bimo menegaskan, kebijakan ini bukan pemutihan pajak. Wajib pajak tetap wajib melunasi pokok utang pajak, sementara pengurangan atau penghapusan sanksi tetap mengikuti persyaratan yang berlaku.

Kebijakan ini juga diharapkan mempercepat pelunasan tunggakan pajak dan menjaga arus kas wajib pajak, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Pertemuan IMF di Bangkok Thailand
  • Konferensi Pers Presiden KSPI/Presiden Partai Buruh terkait antara lain Penetapan Upah Minimum Tahun 2027

  • Rapat Koordinasi Nasional Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia Tahun 2026 di The Langham Jakarta. Turut hadir antara lain Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Perindustrian

  • The 7th Belt and Road Initiative Tax Administration Cooperation Forum (BRITACOF) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Wakil Menteri Keuangan dan Direktur Jenderal Pajak

  • Prasasti Policy Forum 2026: Shaping Indonesia's Next Growth Chapter di Ballroom The Ritz-Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Turut hadir Profesor James A. Robinson dan Hashim Djojohadikusumo

  • Press Conference Road to Bali Tech Week 2026 di Ruang Serbaguna Kemkomdigi, Jakarta Pusat. Narasumber: Menkomdigi

  • Thea Fathanah & Tommy Patrio
    Media Briefing Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2026: "Jangan Tunggu Mata Bermasalah: Saatnya Peduli Kesehatan Mata" di Ruang Rapat B Lantai 5, Gedung Adhyatma, Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan.

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Teladan Prima Agro Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Astra International Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Astra International Tbk
Jatuh Tempo Surat Berharga Negara seri Obligasi Negara RI Seri VR0047
Tanggal pencatatan hmetd PT PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk


Berikut indikator ekonomi terbaru:


(mae/mae) Next Article Dunia Cemas, RI Bisa Ikut Bergetar Menunggu Pidato Super Penting Fed


Most Popular
Features