MARKET DATA

Harga Emas Mulai Bangkit, Gunungan Utang AS Jadi Angin Segar

mae,  CNBC Indonesia
09 October 2026 06:40
Emas
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia naik setelah menyentuh level terendah dalam dua bulan. Investor mencermati ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tingginya utang pemerintah Amerika Serikat (AS).

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (8/10/2026) ditutup di posisi US$ 4133,93 per troy ons. Harganya menguat 0,59%.

Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 1,3% pada Rabu lalu.

Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (9/10/2026) pukul 06.31 WIB, harganya naik 0,21% ke US$ 4142,55 per troy ons.

Indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level tinggi selama dua sesi berturut-turut.

"Kenaikan imbal hasil tampaknya mencerminkan kekhawatiran yang semakin meluas terhadap tingginya tingkat utang. Jika utang terus meningkat, emas sebagai antitesis mata uang fiat dan aset pemerintah kemungkinan akan semakin diminati," ujar Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree, dikutip dari Refinitiv.

Risalah rapat The Fed bulan lalu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terpecah mengenai alasan untuk menaikkan suku bunga.

Sebagian peserta rapat menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan guncangan harga lainnya. Namun, kelompok yang lebih hawkish berpandangan bahwa kenaikan suku bunga dibutuhkan untuk mengantisipasi munculnya inflasi yang didorong oleh permintaan.

"Risalah tersebut menegaskan bahwa belum ada arah kebijakan yang benar-benar pasti. Kondisi ini membuat pasar emas sedikit lebih volatil," tambah Shah.

Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Namun, ia menegaskan bahwa terdapat ruang fleksibilitas dalam menentukan kecepatan kenaikan suku bunga dan membuka peluang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga pada Oktober.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya sebesar 17%. Sebaliknya, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember telah mencapai 81%.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Di tengah perkembangan tersebut, risiko geopolitik juga meningkat. Kapal-kapal tanker menghadapi risiko serangan dan intimidasi yang lebih tinggi saat berupaya mengangkut pasokan penting melalui Selat Hormuz.

Kondisi ini terjadi setelah Iran mengeluarkan peringatan baru bahwa negara tersebut akan memblokir jalur pelayaran yang tidak mendapat izin dari pihaknya, menurut sejumlah sumber.

Berbeda dengan emas, harga perak masih hancur.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (8/10/2026) ditutup di posisi US$59,34 per troy ons. Harganya ambruk 1,33%.

Pelemahan ini membawa perak terlempar dari level US$ 60 dan memperpanjang tren negatifnya dengan melemah 3,8% dalam dua hari.

Harga perak mulai menguat pada hari ini. Pada Jumat (9/10/2026) pukul 06.34 WIB, harganya naik 0,25% ke US$ 59,5 per troy ons.

(mae/mae)



Most Popular