Badai dari Amerika Belum Usai, Awas IHSG-Rupiah Terguncang!
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ambruk pada pada perdagangan Rabu (7/10/2026) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Bursa ambruk di tengah tekanan yang terus meningkat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Treasury AS melonjak ke level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari dua dekade.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 341,41 poin atau 0,66% ke 51.179,87. Sementara S&P 500 melemah 0,22% menjadi 7.801,77 dan Nasdaq Composite melandai 0,22% ke 27.538,69.
Investor dibuat khawatir setelah yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun mencapai 5,365%, level tertinggi sejak April 2002. Yield obligasi tenor 30 tahun juga menyentuh 5,732%, level tertinggi sejak Mei 2002.
Yield Treasury 10 tahun kemudian turun dari level tertingginya setelah pemerintah AS menggelar lelang surat utang senilai US$39 miliar. Pergerakan yield yang kemudian relatif stabil membantu saham memangkas sebagian pelemahannya.
Bill Merz, Head of Capital Markets Research U.S. Bank Asset Management, mengatakan rasio bid-to-cover serta partisipasi investor tidak langsung dalam lelang tersebut tergolong kuat.
"Minat investor tetap ada pada tingkat yield yang relatif tinggi ini dibandingkan dengan yang biasa mereka lihat dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Namun, kita perlu menyikapinya dengan hati-hati karena ada banyak faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan," ujarnya, dikutip dari CNBC International.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) September menunjukkan para pejabat bank sentral AS memperkirakan kenaikan suku bunga masih akan dilakukan sebelum akhir tahun, meski belum ada indikasi kapan tepatnya.
"Sebagian besar peserta menilai kenaikan kembali target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun," tulis risalah tersebut.
Namun, para pejabat menegaskan bahwa setiap rapat akan dilakukan secara terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Keputusan berikutnya akan bergantung pada data ekonomi terbaru serta dampaknya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko.
Kenaikan yield juga menekan sejumlah sektor utama pasar. Saham perbankan melemah karena investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi dapat menghambat aktivitas penyaluran kredit.
Saham Goldman Sachs dan Bank of America masing-masing turun sekitar 1%. Saham Wells Fargo, Citigroup, dan JPMorgan juga ditutup melemah.
Saham teknologi turut tertekan akibat kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membatasi investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).
Saham CrowdStrike anjlok hampir 5%, sementara Palo Alto Networks dan Meta Platforms masing-masing turun lebih dari 3% dan 2%.
Mike Dickson, Head of Research and Quantitative Strategies Horizon Investments, mengatakan kenaikan yield membuat ruang toleransi pasar terhadap kinerja perusahaan semakin sempit.
"Dengan level suku bunga saat ini dan kenaikan yang telah terjadi, cukup wajar jika dikatakan bahwa margin of error terkait kinerja laba semakin menyempit," ujarnya kepada CNBC.
Meski demikian, ia menilai laporan keuangan perusahaan masih berpotensi mendorong pasar lebih tinggi. Menurutnya, level yield saat ini memang memiliki dasar yang kuat, tetapi bukan berarti dampaknya dapat diabaikan.
Dickson juga mengatakan ekspektasi inflasi masih sangat terjag meskipun yield terus meningkat. Menurutnya, jika kenaikan yield Treasury 10 tahun dipicu oleh ekspektasi inflasi yang mulai tidak terkendali, situasinya bisa menjadi jauh lebih berisiko.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS (WTI) turun 1,3% menjadi US$88,28 per barel. Sementara minyak mentah Brent ditutup di US$100,20 per barel, turun 0,4%.
Sehari sebelumnya, S&P 500 untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.800, didorong oleh penguatan saham-saham perusahaan chip.
(gls/gls)