MARKET DATA

Harga Batu Bara Meroket US$152, Ini 10 Emiten Penjualan Terbesar

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
07 October 2026 11:02
Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bar
Foto: Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bara. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menguat selama lima hari berturut-turut di tengah tekanan pasokan global. Perkembangan ini membuat kinerja emiten batu bara Indonesia menarik untuk dicermati, termasuk nilai penjualan yang dibukukan sepanjang semester pertama 2026.

Merujuk data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$152,95 per ton pada Selasa (6/10/2026), naik 1,3%. Dalam lima hari, kenaikannya mencapai sekitar 4,5%, membawa harga ke level tertinggi sejak 4 September 2026.

Kenapa Harga Batu Bara Naik?

Penguatan ditopang oleh berkurangnya pasokan ekspor Indonesia serta persoalan pasokan di India dan Eropa.

Ekspor batu bara Indonesia turun 9,3% menjadi 227,7 juta ton sepanjang Januari-Agustus 2026. Penurunan dipengaruhi kuota produksi, ketidakpastian kebijakan, serta gangguan pengiriman akibat El Niño.

Di India, permintaan listrik meningkat ketika stok batu bara pembangkit menipis. Jumlah pembangkit dengan stok kritis bertambah menjadi 81 unit dari 73 unit dalam sepekan. Penurunan produksi listrik tenaga air turut meningkatkan kebutuhan penggunaan pembangkit batu bara.

Sementara itu, pembangkit di Jerman menghadapi gangguan pengiriman akibat rendahnya permukaan sungai. Tekanan terhadap pasokan dan distribusi tersebut menjadi penopang penguatan harga batu bara.

AADI Memimpin Perbandingan Penjualan

Di tengah perkembangan tersebut, laporan keuangan semester pertama memberikan gambaran mengenai nilai penjualan batu bara sejumlah emiten Indonesia sebelum memasuki paruh kedua tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan Januari-Juni 2026, AADI mencatatkan penjualan batu bara terbesar di antara 10 emiten yang dibandingkan, yakni US$2,38 miliar. BYAN dan GEMS menyusul dengan masing-masing US$1,73 miliar dan US$1,50 miliar.

Berikut perbandingannya:

Lima Emiten Tembus US$1 Miliar

Lima emiten dalam perbandingan ini membukukan penjualan batu bara di atas US$1 miliar, yakni AADI, BYAN, GEMS, PTBA, dan ITMG. AADI berada di posisi pertama dengan selisih sekitar US$649,67 juta terhadap BYAN.

Namun, nilai penjualan terbesar tidak otomatis menunjukkan volume tertinggi ataupun keuntungan terbesar. Penjualan dipengaruhi kombinasi volume dan harga jual aktual, sedangkan keuntungan turut ditentukan oleh biaya produksi, pengangkutan, royalti, dan beban lainnya.

PTBA melaporkan penjualan batu bara sebesar Rp21,67 triliun, setara sekitar US$1,21 miliar. Sementara itu, penjualan batu bara termal dan metalurgi UNTR mencapai Rp12,87 triliun, atau US$718,87 juta.

INDY membukukan penjualan batu bara sebesar US$904,74 juta. Nilai tersebut berbeda dari total pendapatan Indika Energy karena grup ini juga memiliki bisnis di luar penjualan batu bara.

Seluruh angka dalam tabel hanya mencakup penjualan batu bara. Pendapatan jasa kontraktor penambangan, logistik, listrik, emas, dan bisnis lainnya tidak dimasukkan agar cakupan perbandingan lebih konsisten.

Harga Naik, Laba Belum Tentu Mengikuti

Secara analitis, kenaikan harga pasar dapat mendukung pendapatan apabila perusahaan mampu menjaga volume penjualan dan memperoleh harga jual yang lebih tinggi. Namun, dampaknya tidak sama bagi seluruh emiten.

Harga acuan internasional bukan selalu harga yang diterima perusahaan pada setiap transaksi. Kualitas batu bara, tujuan penjualan, waktu pengiriman, dan ketentuan kontrak dapat membuat harga jual aktual berbeda.

Pengetatan pasokan juga memiliki dua sisi. Pasokan yang berkurang dapat menopang harga, tetapi hambatan produksi atau pengiriman berpotensi membatasi volume yang bisa dijual. Karena itu, pergerakan harga perlu dibaca bersama perkembangan operasional perusahaan.

Reli Oktober merupakan konteks terbaru industri, bukan penyebab langsung angka penjualan Januari-Juni yang sudah berlalu. Dampaknya terhadap pendapatan dan laba perlu dievaluasi melalui laporan periode berikutnya.

Catatan Perbandingan

Angka BUMI menggunakan penjualan batu bara dalam laporan keuangan konsolidasian, bukan keseluruhan penjualan operasional KPC dan Arutmin. KPC dicatat menggunakan metode ekuitas sehingga penjualannya tidak dikonsolidasikan penuh.

DSSA dan ADRO tidak dimasukkan bersama GEMS dan ADMR untuk menghindari penghitungan bisnis induk dan anak secara bersamaan.

Daftar ini merupakan peringkat di antara 10 emiten yang dibandingkan, bukan peringkat menyeluruh seluruh emiten batu bara Indonesia. Periode penjualannya mencakup Januari-Juni 2026, bukan hanya kuartal II atau April-Juni.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular