Harga Emas & Perak Bersinar Lagi, Semua Bisa Berubah Nanti Malam
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik pada perdagangan Selasa, ditopang oleh terhentinya kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan pelemahan dolar AS.
Investor kini menanti risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada September untuk mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (6/10/2026) ditutup di posisi US$ 4163,45 per troy ons. Harganya menguat 0,59%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya melemah pada Senin.
Pada hari ini, Rabu (7/10/2026) pukul 06.05 WIB, harga emas melandai 0,03% ke US$ 4162,26 per troy ons.
"Kami melihat adanya permintaan aset lindung nilai (safe haven) terhadap emas di tengah gejolak pasar obligasi Prancis dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar US Treasury," ujar Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, dikutip dari Refinitiv.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sedikit turun setelah pada Senin menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Pada saat yang sama, dolar AS melemah dari level tertinggi dalam satu tahun. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Â
Investor masih mencermati peningkatan utang pemerintah dan pelebaran defisit anggaran di sejumlah negara zona euro, terutama Prancis. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Perhatian pasar kini tertuju pada risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September yang akan dirilis pada Rabu malam waktu AS. Investor akan mencermati risalah tersebut untuk mengukur peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini.
Meski hasil keputusan sudah diumumkan tetapi investor dan trader akan menjadikan risalah ini sebagai petunjuk baru arah The Fed yang lebih jelas.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mulai berkurang setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September tercatat lebih lemah dari perkiraan.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada bulan ini hanya sebesar 22%. Namun, peluang kenaikan pada Desember masih dipatok sekitar 84%.
Emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena aset berbasis imbal hasil menjadi relatif lebih menarik.
Di sisi lain, harga minyak turun karena ekspor minyak mentah dari Timur Tengah tetap kuat dan keputusan negara-negara G7 melepas cadangan darurat minyak membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
"Meski menghadapi sejumlah tekanan dalam jangka pendek, pembelian ETF yang terus berlanjut serta permintaan dari investor diskresioner masih memberikan dukungan bagi harga emas. Kami mempertahankan pandangan bahwa harga emas akan menembus US$5.000 per troy ounce pada 2027," ujar analis TD Securities dalam sebuah catatan.
Harga perak terus menanjak
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (6/10/2026) ditutup di posisi US$ 61,69 per troy ons. Harganya melonjak 1,04%.
Kenaikan ini memperpanjang tren positif perak dengan menguat dua hari beruntun.
Pada hari ini, Rabu (7/10/2026) pukul 06.12 WIB, harga perak melemah 0,7% ke US$61,27 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas Bangkit Usai Terjun Bebas, Tapi Badai Besar Masih Mengintai