MARKET DATA

Swiss Kena "Kutukan" Panas, Es Abadi Puncak Eropa Makin Gundul

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
07 October 2026 14:40
Pegunungan Alpen. (PatitucciPhoto/PatitucciPhoto)
Foto: Pegunungan Alpen. (PatitucciPhoto/PatitucciPhoto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gletser Swiss kehilangan 5,5% volume esnya pada 2026, menjadi penyusutan tahunan terbesar kedua sepanjang pencatatan. Minimnya salju pada musim dingin serta gelombang panas intens pada musim panas mempercepat pencairan es di Pegunungan Alpen.

Berdasarkan laporan jaringan pemantauan gletser Swiss, Glacier Monitoring Switzerland (GLAMOS), negara tersebut telah kehilangan hampir seperlima volume es gletsernya dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini mengancam keberlangsungan gletser Alpen sekaligus ketersediaan air pada masa mendatang.

Direktur GLAMOS Matthias Huss, dikutip BBC, menggambarkan 2026 sebagai "tahun bencana". Ia menyoroti kombinasi rendahnya curah salju pada musim dingin dan rekor suhu musim panas, serta memperingatkan bahwa pencairan ekstrem kini terjadi hampir setiap tahun.

Penyusutan pada 2026 hanya lebih kecil dibandingkan rekor 2022, ketika volume es berkurang 5,9%. Penurunan besar juga tercatat pada 2023 sebesar 4,4% dan 2025 sebesar 3%.

Perubahan volume es dibandingkan tahun sebelumnya, dalam persen.Perubahan volume es dibandingkan tahun sebelumnya, dalam persen. Foto: Glacier Monitoring Switzerland (GLAMOS)

Pencairan Besar di Gletser Utama

Gletser Aletsch, yang merupakan gletser terbesar di Swiss, mencatat pencairan tahunan terbesar sepanjang pengamatan pada 2026. Sementara itu, ketebalan rata-rata Gletser Tsanfleuron berkurang lebih dari empat meter berdasarkan data pemantauan terbaru.

Para ilmuwan memperkirakan gletser Swiss melepaskan sekitar 2,2 triliun liter air sepanjang Juli-September saja. Jumlah tersebut lebih dari empat kali konsumsi air minum tahunan rumah tangga di Swiss.

Air lelehan tersebut membantu meredakan kekurangan air selama musim panas. Akan tetapi, manfaatnya bersifat sementara. Seiring menyusutnya gletser, semakin sedikit es yang tersedia untuk memasok air saat cuaca panas dan kering.

"Setiap tetes air yang mengalir selama gelombang panas ini merupakan air lama yang tersimpan dalam es gletser sejak berabad-abad atau puluhan tahun lalu," kata Huss kepada BBC.

"Air itu membantu kita sekarang, tetapi kondisi ini tidak berkelanjutan," lanjutnya.

Salju di Ketinggian Ikut Hilang

Pencairan cepat tidak hanya terjadi di bagian bawah gletser. Peneliti menemukan sedikit atau bahkan tidak ada salju tersisa di sejumlah titik pengukuran pada ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut.

Padahal, pada akhir musim panas, wilayah tersebut biasanya masih menyimpan lapisan salju yang cukup tebal.

Akumulasi salju penting bagi keberlangsungan gletser. Seiring waktu, salju memadat menjadi es dan menggantikan sebagian es yang hilang akibat pencairan.

Ketika salju menghilang terlalu cepat, permukaan es di bawahnya menjadi terbuka. Es tersebut menyerap lebih banyak energi matahari sehingga pencairan semakin cepat.

Ancaman Air hingga Energi

Berkurangnya es gletser dapat berdampak pada pertanian, pembangkit listrik tenaga air, serta transportasi. Pasokan air dari gletser menjadi semakin penting saat kekeringan.

Risiko terhadap energi cukup besar karena Swiss mengandalkan tenaga air untuk sekitar 58,5% produksi listriknya, berdasarkan rata-rata 10 tahun yang dicatat Kantor Federal Energi Swiss.

Dampaknya sudah terlihat saat kekeringan 2022. Jurnal Hydrology and Earth System Sciences 2026 mencatat penurunan produksi listrik tenaga air, pembatasan penggunaan air bagi rumah tangga dan pertanian, serta pembatasan pelayaran di Sungai Rhine akibat rendahnya muka air.

Penyusutan dan ketidakstabilan es pegunungan serta tanah beku juga dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir.

GLAMOS memperingatkan gletser Alpen sulit bertahan dalam jangka panjang jika kondisi ini berlanjut. Meski demikian, pengurangan emisi gas rumah kaca masih dapat membatasi kehilangan es lebih lanjut.

(slm/luc)



Most Popular