Harga Emas Bikin Sesak Napas, Kebanyakan Beban Jadi Susah Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melemah lagi. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil US Treasury menahan kenaikan emas, meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober mulai mereda.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (5/10/2026) ada di posisi US$ 4139,49 per troy ons atau melemah 0,07%.
Harga emas penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 28 September 2026.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah 0,92% dalam dua hari terakhir.
Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Selasa (6/10/2026) pukul 06.57 WIB, harganya melemah 0,11% di US$ 4135,08 per troy ons.
Analis Forex.com Fawad Razaqzada mengatakan emas masih berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek sebelum kembali diburu investor. Penguatan dolar AS dan tingginya yield obligasi menjadi faktor utama yang menekan harga emas.
"Kita dapat melihat penurunan harga emas dalam jangka pendek sebelum pembeli kembali masuk secara signifikan. Semuanya berkaitan dengan penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi," kata Fawad Razaqzada, dikutip dari Refinitiv.
"Dalam beberapa hari terakhir, data ekonomi AS yang kita lihat sebagian besar berada di bawah ekspektasi. Hal itu membuat pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga," imbuhnya.
Indeks dolar AS menguat, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di dekat level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober juga menurun setelah pertumbuhan lapangan kerja AS melambat lebih dari perkiraan pada September. Data pekerjaan dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober hanya 22%, turun dari sekitar 70% sepekan sebelumnya. Namun, peluang kenaikan pada Desember masih mencapai 84%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Namun, emas tetap menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Investor kini menanti risalah rapat The Fed September yang akan dirilis Rabu (7/10/2026). Dokumen tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS berikutnya.
Sementara itu, Metals Focus memperkirakan harga emas akan kembali mencetak rekor pada 2027, seiring investor mencari alternatif dari aset tradisional berbasis dolar AS. Harga emas diperkirakan rata-rata mencapai US$5.330 per troy ounce tahun depan.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik 1,2% menjadi US$61,09 per troy ounce, platinum menguat 1,4% menjadi US$1.722,15, dan palladium naik 0,7% menjadi US$1.176,33.
Berbeda dengan emas, harga perak menguat.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (5/10/2026) ada di posisi US$ 61,95 per troy ons atau melonjak 1,1%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harga perak jatuh akhir pekan lalu.
Harga perak pada hari ini. Pada Selasa (6/10/2026) pukul 07.05 WIB, harganya melemah 0,18% di US$ 60,94 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas & Perak Tersungkur, Bandar Takut The Fed