Mata Uang Terbelah Hadapi AS: Won-Ringgit Jatuh, Rupiah-Yen Perkasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bervariasi pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Sebagian besar mata uang kawasan masih tertekan, sementara beberapa lainnya berhasil berbalik menguat.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, lima dari sembilan mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Tiga mata uang berada di zona hijau dan baht Thailand bergerak tidak berubah.
Peso Filipina mencatat penguatan terbesar setelah naik 0,16% ke posisi PHP 62,622/US$. Yen Jepang menyusul dengan apresiasi 0,13% ke JPY 157,88/US$, sementara rupiah menguat 0,11% ke level Rp17.925/US$.
Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami tekanan paling dalam setelah terdepresiasi 0,18% ke TWD 31,908/US$. Dong Vietnam menyusul dengan pelemahan 0,05% ke VND 25.992/US$, sedangkan dolar Singapura terkoreksi 0,04% ke SGD 1,2805/US$.
Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,02% ke posisi KRW 1.358,8/US$ dan MYR 4,083/US$. Sementara itu, baht Thailand stagnan di THB 33,64/US$.
Di pasar global, dolar AS bergerak melemah tipis pada pagi ini. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,04% ke level 102,059.
Meski terkoreksi pagi ini, dolar AS masih berada di sekitar level tertinggi dalam 17 bulan dan berada di jalur penguatan sekitar 1% sepanjang pekan ini. Jika bertahan hingga akhir perdagangan, greenback akan mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut, rangkaian terpanjang sejak Mei 2025.
Kekuatan dolar dalam beberapa hari terakhir turut ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat melonjak ke 5,344%, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun ke sekitar 5,249% pada perdagangan Jumat pagi.
Kondisi tersebut terjadi ketika pasar justru mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve dalam waktu dekat. Data inflasi AS Agustus yang lebih rendah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga bulan ini.
"Kenaikan yield tenor panjang ketika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat justru mereda menunjukkan bahwa pasar semakin banyak dipengaruhi oleh term premium dan risiko fiskal, bukan hanya keputusan The Fed berikutnya," ujar Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo, dikutip dari Reuters.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada laporan tenaga kerja AS yang dijadwalkan rilis pada hari ini. Data tersebut diperkirakan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat pada September, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)