Harga Emas Ambruk 4% Sehari: Terburuk 6 Bulan, Balik ke US$ 4.100
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia babak belur pada perdagangan Senin (28/9/2026). Emas ambruk 4% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan, dihantam lonjakan harga minyak, dolar AS, hingga ancaman kenaikan suku bunga The Fed.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (28/9/2026) ditutup di posisi US$4.114,27 per troy ons. Harganya ambruk 4,01% dalam sehari.
Pelemahan dalam sehari sebesar 4,01% ini adalah yang terdalam sejak 3 Maret 2026 atau enam bulan lebih.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terlemah sejak 4 Agustus 2026 atau lebih dari delapan minggu.
Pada hari ini, Selasa (29/9/2026), harga emas mulai membaik. Pada Selasa pukul 06.30 WIB, harga emas menguat 0.34% ke US$ 4128,31 per troy ons.
Tekanan datang dari berbagai arah. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, sementara penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury membuat emas semakin kehilangan daya tarik.
"Kami melihat harga minyak mentah melonjak tajam. Hal ini mengindikasikan tekanan inflasi yang semakin bermasalah, sehingga mengarah pada kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih ketat," ujar Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Menurut Wyckoff, kombinasi kenaikan yield US Treasury dan dolar AS yang bertahan di level tertinggi dalam beberapa pekan menciptakan tekanan berlapis bagi harga logam mulia.
Â
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan, membuat emas yang dihargai dalam dolar semakin mahal bagi investor dengan mata uang lain.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga. Investor pun memiliki insentif lebih besar untuk beralih ke aset berbunga.
Minyak Memanas, The Fed Makin Galak
Harga minyak brent naik 1% pada Senin dan kini sudah menyentuh US$ 105 per barel.
Kenaikan harga energi berisiko kembali menyulut inflasi global dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ironisnya, emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi justru tertekan. Pasalnya, suku bunga tinggi meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil.
Â
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai sekitar 94%.
The Fed sendiri telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada awal September dan mengisyaratkan peluang kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Sejumlah pejabat The Fed juga memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi dan suku bunga mungkin perlu kembali dinaikkan. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack menjadi salah satu pejabat terbaru yang menegaskan pandangan tersebut.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu
Kini, perhatian investor tertuju pada serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pekan ini.
Data yang dinanti meliputi lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), serta laporan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls).
Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar untuk membaca arah inflasi dan langkah suku bunga The Fed selanjutnya, sekaligus menentukan apakah tekanan terhadap harga emas masih akan berlanjut.
Â
Harga perak ikut babak belur.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (28/9/2026) ditutup di posisi US$60,97 per troy ons. Harganya jatuh 5,11% dalam sehari.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terlemah sejak 7 Agustus 2026 atau lebih dari delapan minggu.
Pada hari ini, Selasa (29/9/2026), harga perak masih melemah. Pada Selasa pukul 06.36 WIB, harga perak melemah 0,4% ke US$ 60,78 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas Terbang 1% Tapi Ada Bahaya Besar di Depan