MARKET DATA

Yesus Jadi "Senjata" Demokrat untuk Jegal Trump di Pemilu Amerika

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
28 September 2026 18:25
Rangkaian bendera Amerika Serikat dipasang di Washington D.C., menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joe Biden dan Kamala Harris. (AP/Alex Brandon)
Foto: Rangkaian bendera Amerika Serikat dipasang di Washington D.C., menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joe Biden dan Kamala Harris. (AP/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Agama telah lama menjadi bagian penting dalam politik Amerika Serikat (AS), terutama di kalangan pemilih Kristen konservatif yang menjadi salah satu basis utama Partai Republik.

Namun, hubungan tersebut mulai menunjukkan perubahan. Ketika sebagian pemilih Kristen semakin kritis terhadap Donald Trump, sejumlah kandidat Demokrat mencoba menggunakan identitas dan nilai-nilai Kristen untuk mendekati pemilih yang selama ini identik dengan Partai Republik.

Salah satunya Adam Hamilton, pendeta sekaligus kandidat Demokrat untuk kursi Senat AS dari Kansas.

Hamilton memimpin salah satu gereja United Methodist terbesar di AS dengan sekitar 24.000 jemaat dan maju di Kansas, negara bagian yang selama bertahun-tahun kuat mendukung Partai Republik.

Pemilih Kristen Mulai Menjauh dari Trump, Demokrat Melihat Celah

Pemilih White Evangelical Protestants, yakni kelompok Protestan kulit putih yang menganut aliran Evangelikal, selama puluhan tahun menjadi basis penting Partai Republik. Salah satu isu yang memperkuat dukungan tersebut adalah penolakan terhadap aborsi.

Namun, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan Roe v Wade pada 2022, keputusan yang selama hampir lima dekade menjamin hak konstitusional untuk melakukan aborsi, fokus politik pemilih Kristen menjadi lebih beragam.

Di saat yang sama, Trump dan Wakil Presiden JD Vance terus menggunakan identitas Kristen dalam politik mereka. Trump bahkan menggambarkan dirinya memiliki tujuan yang diberikan Tuhan, sementara Vance mendorong gagasan tentang identitas Kristen Amerika yang lebih kuat.

Pew Research Center menunjukkan dukungan terhadap agenda Trump memang masih tinggi di kalangan White Evangelicals, tetapi mulai menurun.

Dalam riset yang sama, penilaian terhadap etika Trump juga melemah. Hanya 40% White Evangelicals yang sangat atau cukup yakin Trump bertindak etis sebagai presiden pada Januari 2026, turun dari 55% setahun sebelumnya.

Kondisi ini membuka ruang bagi kandidat Demokrat yang membawa pesan Kristen dengan pendekatan berbeda.

Selain Hamilton di Kansas, ada James Talarico di Texas, seorang mantan guru dan mahasiswa seminari Presbyterian.

 

Tiga rohaniwan Protestan arus utama lainnya juga maju sebagai kandidat untuk DPR AS, termasuk dua di Iowa.

Hamilton, yang sebelumnya merupakan Republikan, mengatakan dirinya terdorong masuk ke politik karena kecewa terhadap apa yang disebutnya sebagai kekejaman dan perilaku tidak pantas sebagian kelompok Kristen di sekitar Trump.

Ia menekankan bahwa ajaran Yesus dalam Injil banyak berbicara tentang orang miskin, orang lapar, orang asing dan imigran.

Hamilton Tawarkan Wajah Demokrat yang Lebih Moderat

Hamilton menyebut dirinya sebagai Demokrat moderat atau independen, tetapi posisi politiknya tetap relatif konvensional untuk seorang kandidat Demokrat.

Ia mengkritik pemerintahan Trump karena memangkas bantuan pangan dan dukungan layanan kesehatan, serta menekankan pentingnya imigrasi dan perlakuan terhadap penduduk lama yang menghadapi deportasi.

 

Soal Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga penegak hukum federal AS yang menangani penegakan aturan imigrasi, Hamilton tidak menyerukan pembubarannya.

Namun, ia menilai lembaga tersebut telah terlalu dimiliterisasi dan dipolitisasi serta membutuhkan perubahan besar.

Kehadiran pemilih Republik di acara Hamilton menunjukkan bahwa pesan berbasis agama masih bisa membuka ruang bagi kandidat Demokrat di wilayah yang selama ini kuat mendukung Partai Republik. Namun, ketertarikan tersebut belum otomatis berarti perpindahan dukungan politik.

Bagi Hamilton, tantangannya adalah mempertahankan posisi sebagai Demokrat moderat sekaligus meyakinkan pemilih Kristen bahwa nilai-nilai agama yang mereka pegang tidak harus selalu diterjemahkan ke dalam politik Partai Republik.

Strategi ini juga menunjukkan perubahan dalam cara kandidat Demokrat mendekati pemilih Kristen.

Alih-alih menghindari isu agama, mereka mulai menjadikannya bagian dari pesan kampanye dengan menekankan isu seperti kemiskinan, layanan kesehatan, imigrasi dan perlindungan kelompok rentan.

Dengan begitu, persaingan politik bukan hanya soal perebutan satu kursi Senat. Kampanye Hamilton menjadi salah satu contoh bagaimana kedua partai mencoba menjangkau pemilih Kristen melalui interpretasi yang berbeda mengenai peran agama dalam politik AS.

 

(mae/mae)



Most Popular