14 Kabar Genting Bakal Guncang RI Pekan Ini, IHSG-Rupiah Bisa Terancam
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan Indonesia akan dibayangi banyak pengumuman hingga rilis data-data penting baik dari dalam ataupun luar negeri.
Dari dalam negeri, rilis data penting di antaranya adalah PMI Manufaktur September dan inflasi September 2026 hingga data neraca perdagangan Agustus.
Dari luar negeri, perkembangan perang, rilsi data AS hingga pidato pejabat The Fed akan menentukan arah saham hingga rupiah.
Berikut beberapa agenda penting hari ini dan sepanjang pekan ini
1. Perkembangan Perang: Iran Siap Perang Kiamat dengan AS, Selat Hormuz Jadi Senjata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi perang "kiamat" dengan Amerika Serikat (AS), tetapi tetap membuka pintu diplomasi.
"Kami siap bernegosiasi sekaligus menghadapi tantangan apa pun, bahkan perang kiamat," kata Araghchi dalam wawancara dengan NBC News, Minggu.
Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan perundingan nuklir dalam tujuh hari. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak proposal tersebut.
Teheran bersikeras Selat Hormuz hanya akan dibuka jika AS menghentikan agresi, mengakhiri blokade ekonomi, dan membebaskan aset Iran.
Di tengah kebuntuan, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim menyita drone bawah laut AS jenis Remus 600 di Selat Hormuz. Washington belum menanggapi klaim tersebut.
Konflik sejak 28 Februari telah mengganggu pasokan energi global, memicu lonjakan harga minyak, dan meningkatkan tekanan inflasi.
2. Mulai Senin, Saham Gocap Bisa Jadi Rp1, BEI Ubah Batas Harga Minimum!
Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Senin (28/9/2026) menurunkan batas harga minimum saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar.
Kebijakan ini membuka ruang bagi saham-saham yang selama ini mentok di level gocap untuk diperdagangkan pada harga lebih rendah, mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran pasar.
Namun, tidak seluruh saham tersebut otomatis akan turun di bawah Rp50. Pergerakan harga tetap bergantung pada transaksi dan minat investor.
Investor juga perlu mencermati status perdagangan. Sejumlah saham dalam daftar tengah disuspensi, sehingga harga yang tercantum merupakan harga terakhir dan belum tentu dapat ditransaksikan.
Perlu diingat, harga saham yang rendah bukan berarti valuasi perusahaan murah. Investor perlu memeriksa kuotasi terbaru, status suspensi, serta pengumuman resmi BEI sebelum melakukan transaksi.
3.Pidato Pejabat The Fed
Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menyampaikan pidato terkait pengawasan perbankan, regulasi, teknologi kecerdasan buatan (AI), prospek ekonomi, dan sistem pembayaran.
Pada Senin (28/9), Gubernur Lisa Cook akan membahas AI dan teknologi baru, sementara Michelle Bowman membahas pengawasan dan regulasi perbankan.
Selasa (29/9), Bowman dijadwalkan menyampaikan sambutan pembuka dalam lokakarya keamanan siber bank komunitas, Michael Barr membahas prospek ekonomi, dan Christopher Waller berbicara mengenai sistem pembayaran.
Sementara itu, Rabu (30/9), Lisa Cook akan membahas ekonomi pedesaan.
4. Job Opening AS
AS akan merilis data lowongan kerja (JOLTS) Agustus pada Selasa (29/9/2026) pukul 21.00 WIB.
Pada Juli, lowongan kerja AS naik menjadi 7,271 juta dari 7,182 juta, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar 7,30 juta. Sementara itu, perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil.
Data ini akan menjadi sorotan untuk mengukur ketahanan pasar tenaga kerja AS. Lowongan yang melemah dapat memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sedangkan angka yang solid berpotensi membuat bank sentral lebih berhati-hati.
5. PMI Manufaktur China
China akan merilis data RatingDog Manufacturing PMI September pada Rabu (30/9/2026) pukul 08.45 WIB.
Pada Agustus, PMI manufaktur China naik menjadi 51,5 dari 50,9 pada Juli, melampaui ekspektasi pasar 51,0. Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi, ditopang penguatan produksi dan pesanan baru.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah momentum manufaktur China dapat bertahan. PMI yang tetap berada di atas 50 dapat memperkuat sinyal pemulihan aktivitas industri dan permintaan China, yang penting bagi Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama. Sebaliknya, penurunan kembali mendekati atau di bawah 50 dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan permintaan komoditas global.
6. Inflasi PCE AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) periode Agustus pada Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB. Data ini menjadi salah satu indikator utama yang dicermati Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pada Juli 2026, inflasi PCE tercatat 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), tidak berubah dari bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada di 3,3% yoy, sesuai ekspektasi pasar tetapi masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tingginya inflasi PCE menunjukkan tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda. Inflasi inti bahkan masih berada di atas 3%, sehingga pasar akan mencermati apakah data Agustus mulai menunjukkan tren penurunan atau justru tekanan harga tetap persisten.
Rilis Agustus akan menjadi penting bagi ekspektasi arah suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter, sementara inflasi yang tetap tinggi atau kembali meningkat dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, yield US Treasury, serta arus modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
7. Pertumbuhan Ekonomi AS
AS akan merilis estimasi lanjutan PDB kuartal II-2026 pada Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada estimasi sebelumnya, ekonomi AS tumbuh 1,5% secara tahunan (annualized), melambat dari 2,1% pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang, sementara lonjakan impor menekan pertumbuhan.
Revisi PDB akan dicermati untuk mengukur ketahanan ekonomi AS. Pertumbuhan yang lebih kuat dapat membuat The Fed lebih berhati-hati memangkas suku bunga, sedangkan revisi turun berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter.
8. PMI Manufaktur RI
Indonesia akan merilis PMI Manufaktur September pada Kamis (1/10/2026) pukul 07.30 WIB.
Pada Agustus, PMI manufaktur turun ke 49,8 dari 50,2 pada Juli, kembali ke zona kontraksi.
Data September akan menjadi penentu arah industri domestik memasuki kuartal IV-2026. PMI di atas 50 mengindikasikan ekspansi, sedangkan pelemahan lebih lanjut dapat menambah kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi.
9. Ekspor, Impor, Neraca Dagang RI Agustus 2026
Indonesia akan merilis data ekspor, impor, dan neraca perdagangan Agustus pada Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB.
Pada Juli, neraca dagang Indonesia mencatat surplus US$0,13 miliar, dengan ekspor US$26,22 miliar dan impor US$26,09 miliar. Ekspor tumbuh 6,05% secara tahunan, sementara impor melonjak 27,02%.
Rilis Agustus akan menjadi perhatian pasar untuk melihat ketahanan surplus perdagangan di tengah lonjakan impor. Surplus yang terjaga dapat menopang rupiah, sedangkan kenaikan impor yang lebih cepat atau pelemahan ekspor berpotensi mempersempit surplus.
10. Inflasi RI September 2026
Indonesia akan merilis data inflasi September pada Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB, mencakup inflasi tahunan, inti, dan bulanan.
Pada Agustus, inflasi tahunan naik menjadi 3,19% dari 2,28% pada Juli, melampaui ekspektasi pasar 3,13%. Inflasi inti turut meningkat menjadi 2,92%, tertinggi sejak Maret 2023, sementara inflasi bulanan mencapai 0,21%.
Rilis September akan menjadi perhatian pasar untuk mengukur tekanan harga dan ruang pelonggaran moneter BI. Inflasi yang terkendali dalam sasaran 1,5%-3,5% dapat memberi ruang bagi kebijakan akomodatif, sedangkan kenaikan inflasi inti berpotensi membatasi pelonggaran suku bunga.
11. Tingkat Pengangguran Jepang
Jepang akan merilis data pengangguran Agustus pada Jumat (2/10/2026) pukul 06.30 WIB.
Pada Juli, tingkat pengangguran turun menjadi 2,4% dari 2,5%, terendah sejak Juli 2025. Jumlah pengangguran juga menyusut 80.000 menjadi 1,67 juta orang, meski jumlah pekerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja ikut menurun.
Rilis Agustus akan dicermati untuk mengukur ketatnya pasar tenaga kerja Jepang. Pengangguran rendah berpotensi memperkuat tekanan upah dan menjadi pertimbangan Bank of Japan (BoJ) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
12. Inflasi Euro Area
Zona Euro akan merilis estimasi awal inflasi September pada Jumat (2/10/2026) pukul 16.00 WIB.
Pada Agustus, inflasi tahunan naik menjadi 3,2% dari 2,9% pada Juli, masih di atas target ECB sebesar 2%. Kenaikan terutama didorong inflasi energi yang mencapai 14,3%, sementara inflasi inti turun menjadi 2,4% dari 2,5%.
Rilis September akan menjadi perhatian pasar untuk melihat arah tekanan harga dan prospek suku bunga ECB. Inflasi yang bertahan tinggi dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan, sedangkan penurunan inflasi dapat membuka ruang pelonggaran suku bunga.
13. Tingkat Pengangguran AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data pengangguran September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus, tingkat pengangguran bertahan di 4,1%, sesuai ekspektasi pasar.
Jumlah pengangguran naik 115.000 menjadi 7,03 juta orang, tetapi jumlah pekerja bertambah 569.000 menjadi 162,75 juta orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja naik menjadi 61,6%, sementara pengangguran U-6 turun menjadi 7,7%.
Data September akan dicermati untuk mengukur ketahanan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan The Fed.
Kenaikan pengangguran dapat memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga, sedangkan pasar tenaga kerja yang tetap solid berpotensi membuat bank sentral lebih berhati-hati.
14. Nonfarm Payroll AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data Nonfarm Payrolls (NFP) September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus, ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi pasar 56.000 dan tertinggi dalam lima bulan. Data Juli juga direvisi naik menjadi 23.000 pekerjaan, dengan revisi gabungan Juni dan Juli menambah 55.000 pekerjaan.
Penambahan tenaga kerja terutama terjadi di sektor makanan dan minuman, pendidikan pemerintah daerah, manufaktur, serta layanan kesehatan. Sebaliknya, sektor informasi mencatat penurunan pekerjaan.
NFP September akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan The Fed.
Pertumbuhan pekerjaan yang kuat dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati memangkas suku bunga, sementara perlambatan tajam berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter dan memengaruhi dolar AS, yield US Treasury, serta aset berisiko global.
..
(mae/mae)