RAPBN 2027 Hari Ini Disahkan, Mampukah Bangkitkan IHSG & Rupiah?
- Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan Senin kemarin, bursa saham dan rupiah jatuh
- Wall Street ambruk dipicu kenaikan imbal hasil US Treasury
- Perkembangan perang, data ekonomi dan pengesahan RAPBNÂ 2027 akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 1%, rupiah mendekati Rp18.000/US$, sementara harga Surat Berharga Negara (SBN) ikut tertekan seiring kenaikan yield tenor 10 tahun ke 7,196%.
Memasuki perdagangan Selasa (29/9/2026), pelaku pasar akan mencermati kelanjutan tekanan global, arah kebijakan bank sentral, serta sentimen domestik setelah perubahan ketentuan harga minimum saham mulai berlaku di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSGÂ pada perdagangan kemarin, Senin (28/9/2029) ditutup anjlok 1,51% atau terkoreksi sekitar 94 poin ke level 6.147,86.
Pelemahan terjadi secara luas, dengan 532 saham turun, hanya 180 saham menguat dan 81 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp12,58 triliun, melibatkan 37,37 miliar saham dalam 1,66 juta kali transaksi.
Asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,13 triliun pada perdagangan kemarin.
Mengutip Refinitiv, seluruh sektor perdagangan ditutup melemah. Koreksi terdalam terjadi pada sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi, sementara sektor energi mencatat pelemahan paling terbatas.
Sejumlah saham yang menjadi pemberat indeks antara lain PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Tekanan terhadap IHSG terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai mulai Senin (28/9/2026).
Perubahan tersebut juga disertai penyesuaian batas auto rejection. Untuk saham dengan harga Rp1-Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1, sementara ARB asimetris 15% masih berlaku untuk saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.
BEI menyebut perubahan harga minimum tersebut ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan saham, meningkatkan kualitas price discovery, mendorong likuiditas, serta memberi fleksibilitas lebih besar bagi investor dalam mengelola portofolio.
Di saat bersamaan, tekanan eksternal masih membayangi pasar domestik. Kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta tingginya suku bunga global masih berpotensi mendorong volatilitas pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,53% ke posisi Rp17.965/US$, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan ketika rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.920/US$. Pelemahan kemudian berlanjut hingga dolar AS sempat menyentuh Rp17.985/US$, sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang perdagangan kemarin.
Menjelang penutupan, rupiah hanya mampu memangkas pelemahannya sebesar 20 poin dari posisi terendah tersebut dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.965/US$.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,16% ke posisi 101,135. Penguatan dolar terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%, sementara Bank Indonesia masih memperkirakan adanya satu kali kenaikan tambahan pada kuartal IV-2026.
Gubernur BI Destry Damayanti menilai fenomena strong dollar dan tingginya suku bunga global terus menekan aliran modal serta mata uang negara berkembang. Tekanan juga datang dari kenaikan harga energi di tengah konflik global, dengan harga minyak pada 24 September 2026 tercatat mencapai US$125,53 per barel, jauh di atas rata-rata Agustus sebesar US$90,88 per barel.
"Kebijakan moneter akan lebih pro-stability, lainnya kita arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,196% dari penutupan sebelumnya di 7,083%. Kenaikan yield sebesar 11,3 basis poin tersebut mencerminkan pelemahan harga SBN tenor 10 tahun.
Saham-saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perd
agangan Senin (28/9/2026) atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham tertekan oleh lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury pada awal pekan.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,67% ke level 51.481,51.
Saham Boeing menjadi pemberat utama indeks, dengan penurunan hampir 7% setelah Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan belum akan memberikan sertifikasi untuk pesawat 737 Max 10 milik raksasa kedirgantaraan tersebut hingga lembaga itu menyelesaikan penilaian terhadap gangguan perangkat lunak baru.
Indeks S&P 500 merosot 0,77% ke level 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,92% ke posisi 26.820,38.
Pada titik terendah perdagangan, Dow Jones sempat terkoreksi lebih dari 400 poin, sementara S&P 500 melemah sekitar 1%.
Ketiga indeks utama berhasil bangkit dari level terendahnya sekitar tengah hari setelah laporan Presiden Donald Trump terbuka untuk memberikan pelonggaran sanksi kepada Iran terkait masalah nuklir.
Laporan tersebut membuat harga minyak mentah turun cukup jauh dari level tertingginya pada hari itu.
Yield US Treasury Melonjak
Meski demikian, imbal hasil US Treasury melanjutkan kenaikan tajam yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik menembus 5,2%. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun melampaui 5,5%. Keduanya diperdagangkan di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
"Yield tersebut kembali naik secara signifikan hari ini, dan hal itu menyebabkan pelemahan pasar saham yang dapat dipahami," ujar Justin Bergner, manajer portofolio di Gabelli Funds, kepada CNBC.
Ia menambahkan, persaingan mendapatkan modal akibat belanja perusahaan hyperscaler AI juga memberikan tekanan kepada konsumen melalui suku bunga yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap pasar saham menjadi semakin berat.
Saham AI Berguguran, Nvidia Melawan Arus
Sejumlah saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi pemberat utama indeks saham AS pada Senin.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) dan Micron Technology masing-masing anjlok 3,6% dan 2,6%.
Amazon dan Microsoft juga terkoreksi sekitar 1%, sedangkan Meta Platforms merosot 4,8%.
Namun, Nvidia bergerak berlawanan dengan tren pelemahan saham hyperscaler dan perusahaan AI lainnya.
Saham Nvidia melonjak 1,7% setelah perusahaan tersebut mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) tambahan senilai US$150 miliar.
Dengan tambahan tersebut, total nilai program pembelian kembali saham Nvidia mencapai US$235 miliar.
Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, pengesahan RAPBN 2027 akan menjadi agenda penting hari ini sementara perkembangan perang akan membayangi sentimen dari eksternal.
1. Perkembangan Perang: AS-Iran Kembali Kontak, Upaya Akhiri Perang 7 Bulan Berlanjut
Pejabat Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berkomunikasi secara terpisah dengan mediator pada Senin (28/9/2026), dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Menurut sumber Reuters, pembicaraan lanjutan diperkirakan membahas revisi proposal gencatan senjata tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum PBB.
Proposal Iran mencakup penghentian permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, serta penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia. Kedua pihak juga akan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal tersebut, tetapi menyatakan bahwa negosiasi lanjutan kemungkinan berlangsung pekan ini.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran masih menunggu sikap resmi Washington.
Ia menegaskan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan persyaratan Iran dan menyebut solusi melalui negosiasi sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri kebuntuan.
Sebelumnya, dua kesepakatan gencatan senjata pada April dan Juni gagal bertahan, sementara perang sejak akhir Februari telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar global.
2. Inflasi AS Diprediksi Naik, The Fed Buka Peluang Kenaikan Bunga
Gubernur Federal Reserve (The Fed) Lisa Cook memperkirakan inflasi Amerika Serikat (AS) masih meningkat dalam beberapa bulan ke depan, didorong kenaikan harga minyak, investasi infrastruktur AI, dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah.
Inflasi AS mencapai 3,8% secara tahunan pada Agustus, hampir dua kali lipat dari target The Fed sebesar 2%.
Meski mendukung kenaikan suku bunga bulan ini, Cook belum memastikan perlunya kenaikan lanjutan. Keputusan akan bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan.
Lisa D. Cook. (Dok. lisadcook.net) Foto: Lisa D. Cook. (Dok. lisadcook.net) |
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan depan mencapai 75%, dengan kenaikan lanjutan pada Desember.
Cook menilai AI berpotensi menekan inflasi melalui peningkatan produktivitas dalam jangka menengah. Namun, risiko kenaikan pengangguran akibat perkembangan teknologi juga menjadi perhatian The Fed.
Pada hari ini, Selasa (29/9/2026), sejumlah pejabat The Fed juga akan menyampaikan pidato dan menjadi nara sumber acara.
Wakil Ketua Pengawasan The Fed Michelle W. Bowman akan menyampaikan pidato pembukaan melalui video rekaman dalam Federal Reserve System Community Bank Cyber Workshop secara virtual.
Gubernur The Fed Michael S. Barr akan membahas prospek ekonomi dalam acara A Conversation with Michael S. Barr on the State of the Economy di Detroit, Michigan.
Gubernur The Fed Christopher J. Waller akan menyampaikan pidato mengenai sistem pembayaran dalam konferensi Sibos 2026 di Miami Beach, Florida.
3. Destry Beberkan Arah Kebijakan BI
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026). Dalam rapat tersebut, BI memaparkan kondisi ekonomi global dan domestik, alasan mempertahankan BI Rate, strategi menjaga rupiah, penguatan likuiditas, hingga arah kebijakan bank sentral ke depan.
"Tidak bisa dimungkiri bahwa Bank Indonesia sekarang memang seolah-olah menghadapi dua mandat, seperti yang terjadi sentral di Amerika Serikat [mandat ganda The Fed]. Tapi, tetap anchor kami ini adalah di stabilitas," tegas Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).
BI menerapkan bauran kebijakan yang mencakup moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan moneter difokuskan untuk menjaga stabilitas (pro-stability), sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth).
Sejumlah poin utama yang disampaikan BI antara lain:
-
Ekonomi global masih penuh tekanan. BI melihat kondisi ekonomi dunia pada 2026 masih cenderung gloomy akibat konflik geopolitik, tingginya harga energi, dan inflasi global yang diperkirakan mencapai 4,6%. Kondisi ini mendorong era higher for longer dan meningkatkan tekanan terhadap aliran modal ke negara berkembang.
-
Prospek 2027 diperkirakan membaik. BI menilai ekonomi global berpotensi pulih pada 2027 apabila tekanan geopolitik mereda. IMF memproyeksikan pertumbuhan global naik menjadi 3,4% pada 2027 dari 3% pada 2026.
-
BI Rate tetap 5,75%. BI belum menaikkan suku bunga karena menilai inflasi masih terkendali. Inflasi inti berada di sekitar 2%, sementara inflasi umum mencapai 3,19% dan terutama didorong komponen volatile food.
-
Likuiditas pasar uang mulai membaik. IndONIA turun dari puncak 6,61% pada Juni menjadi 5,91%, sementara yield SRBI tenor 12 bulan turun dari 7,7% menjadi sekitar 6,7%. Outstanding SRBI juga menyusut dari Rp1.096 triliun menjadi Rp1.013 triliun.
-
BI dorong kredit perbankan. Insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) telah mencapai Rp461 triliun hingga pekan pertama September 2026. Bank yang lebih aktif menyalurkan kredit dan memiliki porsi surat berharga di bawah 19% dapat memperoleh total insentif hingga 6%.
-
Intervensi rupiah di pasar spot dikurangi. Porsi intervensi spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi, karena penjualan dolar secara langsung dinilai lebih banyak menggerus cadangan devisa. BI semakin mengandalkan DNDF dan NDF yang dinilai lebih efektif.
-
BI memperkuat ketahanan eksternal. Strateginya mencakup peningkatan ekspor dan investasi, penguatan Local Currency Transaction (LCT), diversifikasi penggunaan valas, serta perluasan instrumen hedging bagi investor dan pelaku pasar.
-
Arah kebijakan ke depan tetap pro-stability. BI akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, operasi repo, kebijakan makroprudensial, digitalisasi sistem pembayaran, cross-border payment, hingga penguatan kerja sama dengan bank sentral lain.
4. RAPBN 2027 Akan Disahkan Hari Ini
DPR RI dijadwalkan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna, Selasa (29/9/2026).
Sebelumnya, dari Pembicaraan Tingkat I ini, DPR dan pemerintah menyepakati indikator ekonomi makro disepakati untuk pertumbuhan ekonomi 6,0%, laju inflasi 2,5%, nilai tukar rupiah Rp17.500/USD, tingkat suku bunga SBN 10 tahun 6,9%, harga minyak mentah Indonesia USD75/barel, lifting minyak bumi 612,5 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi 954 ribu barel setara minyak per hari.
Pemerintah dan Badan Anggaran DPR juga telah menyepakati postur RAPBN 2027 dengan pendapatan negara Rp3.435,10 triliun dan belanja negara Rp4.106,26 triliun. Defisit anggaran tetap dipertahankan sebesar Rp671,16 triliun atau 2,4% terhadap PDB. Target penerimaan perpajakan ditetapkan Rp2.911,95 triliun, sementara Transfer ke Daerah sebesar Rp735 triliun.
Pemerintah menegaskan kebijakan fiskal 2027 akan tetap dijaga prudent, tetapi tetap ekspansif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, melindungi masyarakat, dan membuka ruang investasi.
5. Job Opening AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) periode Agustus pada hari ini, Selasa (29/9/2026) pukul 21.00 WIB.
Pada Juli 2026, jumlah lowongan pekerjaan di AS tercatat 7,271 juta, naik dari 7,182 juta pada Juni yang direvisi turun. Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta. Kenaikan terutama terjadi pada sektor manufaktur barang tahan lama, layanan kesehatan dan bantuan sosial, perdagangan grosir, serta konstruksi.
Sementara itu, jumlah perekrutan dan total pemisahan tenaga kerja relatif stabil di sekitar 5,1 juta. Jumlah pekerja yang mengundurkan diri secara sukarela atau quits juga relatif tidak berubah di 3,1 juta, sedangkan PHK dan pemberhentian berada di sekitar 1,7 juta.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat seberapa kuat permintaan tenaga kerja AS menjelang rilis data ketenagakerjaan utama lainnya.
Penurunan lowongan pekerjaan dapat menjadi sinyal pasar tenaga kerja mulai mendingin dan memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed). Sebaliknya, kenaikan yang kuat dapat menunjukkan permintaan tenaga kerja masih solid dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
6. Gencatan Senjata Perang Dagang: China vs AS Sepakat Pangkas Tarif Dagang
China dan Amerika Serikat sepakat mengusulkan pemangkasan tarif atas produk perdagangan senilai masing-masing US$30 miliar. Namun, besaran penurunan tarif dan waktu penerapannya belum diumumkan.
China juga berencana memangkas tarif sejumlah komoditas pertanian AS, termasuk jagung, gandum, daging, dan produk susu. Sebaliknya, AS mengusulkan pemangkasan tarif atas produk konsumen China, seperti peralatan rumah tangga dan mainan.
Kedua negara turut memperpanjang gencatan dagang hingga 10 Januari 2027 untuk memberikan ruang bagi negosiasi lanjutan.
Meski demikian, minyak dan gas alam cair (LNG) tidak masuk dalam daftar komoditas yang menjadi bagian dari kesepakatan impor
Berikut agenda ekonomi hari ini:
-
Komisi V DPR menggelar RDP Panja SPM Jalan Tol dengan Dirjen Bina Marga Kementerian PU di ruang rapat Komisi V DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat. Turut menghadirkan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta para pimpinan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Seluruh Indonesia
-
Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat dengan agenda pengesahan RUU APBN TA 2027 di ruang rapat paripurna DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
-
Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin menyampaikan pidato terkait prospek ekonomi dan kebijakan moneter AS.
-
European Central Bank (ECB) Executive Board Member Piero Cipollone dan Presiden Bundesbank Joachim Nagel dijadwalkan menyampaikan pidato pada pukul 14.00 WIB
- Amerika Serikat akan merilis data JOLTS Job Openings periode Agustus, yang menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur permintaan tenaga kerja dan kondisi pasar tenaga kerja AS, pada pukul 21:00 WIB
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS PT Indosat Tbk
RUPS PT OBM Drilchem Tbk
RUPS PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim J RESOURCES ASIA PASIFIK Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk
Tanggal DPS HMETD Saranacentral Bajatama Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Hexindo Adiperkasa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai PT Victoria Investama Tbk
Berikut indikator ekonomi terbaru:
(evw/evw) Next Article Dunia Cemas, RI Bisa Ikut Bergetar Menunggu Pidato Super Penting Fed
