Harga CPO Ambruk 2%, Stok Malaysia Tembus 3 Juta Ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia kembali tertekan pada perdagangan Jumat (25/9/2026), setelah ditutup relatif stagnan pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, pada Jumat pukul 11.32 WIB, harga CPO ada di MYR 4675 per ton atau jatuh 2,03%. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 0,08% di MYR 4772 per ton pada penutupan Kamis (24/9/2026)..
Pada perdagangan Kamis, kontrak acuan CPO pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives ditutup nyaris datar. Reuters mencatat kontrak tersebut menguat tipis 3 ringgit atau 0,06% menjadi MYR4.772 per ton. Meski demikian, harga telah melemah sekitar 3,4% dalam empat sesi perdagangan sebelumnya.
Tekanan dari Soyoil, Minyak Mentah, dan Ringgit
Pelemahan harga minyak kedelai dan minyak mentah menjadi salah satu sentimen negatif bagi CPO. Harga soyoil di Chicago Board of Trade turun 0,83%, sementara pelemahan minyak mentah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati lainnya karena bersaing memperebutkan pangsa pasar global. Pada saat yang sama, ringgit Malaysia menguat 0,22% terhadap dolar AS, sehingga membuat CPO relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Stok Malaysia Jadi Tekanan Utama
Tekanan terhadap harga CPO juga datang dari membengkaknya persediaan di Malaysia. Pelaku industri memperkirakan stok minyak sawit negara produsen terbesar kedua dunia tersebut berpotensi menembus 3 juta ton pada akhir September, naik dari 2,82 juta ton pada Agustus yang merupakan level tertinggi dalam delapan bulan.
Kenaikan persediaan terjadi akibat kombinasi ekspor yang mela
mbat dan produksi yang meningkat pada September, salah satu periode puncak produksi minyak sawit Malaysia.
Data cargo surveyor menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada 1-20 September turun hingga sekitar 25% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Level stok 3 juta ton juga menjadi perhatian pasar. Persediaan bulanan Malaysia tercatat hanya lima kali menembus level tersebut. Ketika stok terakhir kali berada di atas 3 juta ton pada Desember 2025, harga CPO Malaysia sempat turun ke kisaran MYR4.000 per ton.
Persediaan diperkirakan mulai turun sekitar Oktober seiring produksi yang memasuki fase penurunan. Namun, kecepatan penurunan stok akan sangat bergantung pada permintaan dari pasar utama, terutama India dan China.
Permintaan India bahkan berpotensi melambat mulai Oktober setelah negara importir minyak nabati terbesar dunia tersebut melakukan pembelian agresif pada Agustus dan September.
Selain itu, selisih harga atau discount CPO terhadap minyak kedelai dan minyak bunga matahari semakin menyempit. Kondisi tersebut mendorong sebagian pembeli India mengurangi pembelian minyak sawit dan beralih ke minyak nabati alternatif.
El Niño Belum Terasa, Risiko Muncul di 2027
Di tengah peningkatan stok, pasar juga memantau dampak El Niño terhadap produksi. Malaysia mulai mengalami curah hujan di bawah normal, tetapi dampak cuaca kering terhadap hasil panen sawit sejauh ini belum terlihat.
Produktivitas kelapa sawit umumnya merespons perubahan cuaca dengan jeda waktu. Pelaku industri memperkirakan dampak El Niño terhadap produksi dapat mulai terlihat lebih jelas pada pertengahan 2027.
Artinya, dalam jangka pendek, kenaikan produksi dan persediaan masih menjadi faktor yang lebih dominan menekan harga dibandingkan potensi gangguan pasokan akibat El Niño.
Meski demikian, Tajgir Rahman dari IFFCO menilai risiko penurunan harga dalam jangka pendek relatif terbatas. Harga CPO berpotensi kembali menguat ketika penurunan produksi mulai terlihat dan ekspor kembali meningkat.
Dari sisi teknikal, analis Reuters Wang Tao sebelumnya memperkirakan CPO berpotensi menguji area MYR4.677-MYR4.711 per ton apabila menembus support MYR4.732 per ton. Harga pada Jumat pagi telah menyentuh batas bawah rentang tersebut. Jika tekanan berlanjut, area MYR4.622 per ton menjadi level berikutnya yang perlu diperhatikan.
(slm/slm)