Harga Batu Bara Jatuh, Permintaan dari China Loyo
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara turun sejalan dengan melemahnya permintaan.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (23/9/2026) ditutup di posisi US$ 142,77 per ton. Harganya jatuh 0,9%.
Harga batu bara di China mulai kehilangan tenaga untuk naik, tetapi permintaan pembangkit listrik membantu menahan harga agar tidak jatuh terlalu dalam.
Kenaikan harga batu bara termal di mulut tambang mulai kehilangan momentum karena pembeli downstream semakin berhati-hati.
Setelah sebelumnya terjadi kenaikan harga, pembangkit listrik mulai membatasi pembelian dan lebih mengandalkan batu bara dari kontrak jangka panjang.
Aktivitas perdagangan spot juga melambat karena pembeli tidak bersedia mengikuti kenaikan harga lebih lanjut.
Pasokan domestik China mulai meningkat setelah aktivitas tambang kembali normal, sehingga tekanan terhadap harga semakin besar.
Kondisi ini menciptakan pasar yang cenderung sideways tetapi penurunan juga tertahan oleh kebutuhan pembangkit.
Sejumlah tambang di Shaanxi dan Inner Mongolia sebenarnya mulai menaikkan harga setelah sebelumnya turun.
Namun, permintaan belum benar-benar kuat. Konsumsi batu bara enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama China turun menjadi 820 ribu ton per hari pada 15 September, turun 3,91% secara mingguan dan 11,41% secara bulanan. Persediaan pembangkit justru sedikit meningkat dan berada di atas level tahun sebelumnya.
Artinya, pembangkit belum punya kebutuhan mendesak untuk mengejar harga spot, terutama karena masih mengandalkan pasokan melalui kontrak jangka panjang.
(mae/mae)