Harga Batu Bara Anjlok 3 Hari Beruntun, Bantuan China Sia-Sia
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah lagi.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (17/9/2026) ditutup di posisi US$ 145,3 per ton atau melemah 0,55%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan turun tiga hari beruntun.
Harga batu bara melemah meski ada kabar baik dari China.
Pasar batu bara termal di pelabuhan China bagian utara mulai menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan.
Sentimen pasar ditopang oleh restocking menjelang libur, kenaikan harga batu bara di mulut tambang, serta pasokan fisik yang masih ketat. Kondisi ini membuat posisi tawar penjual menguat.
Di pelabuhan, persediaan batu bara Qinhuangdao mencapai 6,25 juta ton pada awal 17 September, naik 1,13% secara harian dan 2,46% dibandingkan sepekan sebelumnya.
Persediaan di Jingtang Port mencapai 5,46 juta ton, naik 2,44% secara harian dan relatif stabil dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, proyeksi terbaru ExxonMobil memperkirakan batu bara akan menyumbang 15% dari bauran energi dunia pada 2050, turun dari 25% pada 2025. Namun, angka tersebut naik 1 poin persentase dibandingkan proyeksi perusahaan sebelumnya.
Menurut Prasanna Joshi, Direktur Ekonomi dan Energi Exxon, hal ini terjadi karena batu bara masih menjadi sumber energi penting di China dan negara-negara Asia lainnya serta dianggap penting bagi ketahanan energi.
Dalam paparan kepada media, Joshi mengatakan kondisi tersebut membuat penurunan penggunaan batu bara berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Permintaan Batu Bara Global Diperkirakan Cetak Rekor
Pekan lalu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan meningkat ke rekor 8,94 miliar ton metrik pada tahun ini.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah perang AS-Israel dengan Iran yang menghambat ekspor minyak mentah dan pengiriman gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz.
Namun, prospek energi Exxon belum memperhitungkan dampak konflik Timur Tengah tersebut karena dinilai masih terlalu dini untuk mengetahui dampak jangka panjangnya.
"Kita membutuhkan beberapa tahun lagi untuk benar-benar memahami dampaknya terhadap fundamental jangka panjang," ujar Joshi, dikutip dari Reuters,