MARKET DATA

11 Nama Tempat di Dunia yang Sulit Diucapkan, Ini Cara Bacanya

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
23 September 2026 15:05
11 Nama Tempat di Dunia yang Sulit Diucapkan, Ini Cara Bacanya
Foto: Islandia (Photo by -/AFP via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama sebuah tempat biasanya terlihat sederhana ketika ditulis. Namun, cara membacanya bisa menjadi persoalan lain ketika nama tersebut berasal dari bahasa dengan aturan bunyi yang berbeda.

Beberapa nama tempat memiliki kombinasi huruf yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia. Ada pula ejaan yang tidak bisa dibaca secara harfiah karena aturan bunyi dalam bahasa asalnya berbeda.

Pelafalan dan transkripsi fonetik mengacu pada sumber bahasa masing-masing, termasuk Cambridge Dictionary untuk pelafalan bahasa Inggris serta rekaman penutur di Forvo dan rujukan bahasa terkait.

Bentuk seperti "Ed-in-bra" atau "Wa-ha-ka" merupakan pendekatan untuk pembaca Indonesia, bukan transkripsi fonetik resmi.

Berikut 11 nama tempat di dunia yang cukup sering membuat orang salah mengucapkannya.

1. Edinburgh, Skotlandia

Edinburgh merupakan ibu kota Skotlandia. Kota ini dikenal antara lain dengan Edinburgh Castle dan Royal Mile. Edinburgh Castle sendiri berada di pusat ibu kota Skotlandia dan terletak di ujung Royal Mile.

Nama Edinburgh menjadi menjebak karena bagian akhir "-burgh" tidak dibaca seperti "burg". Dalam pelafalan bahasa Inggris Britania, bunyinya lebih pendek dan berakhir dengan bunyi lemah.

Cara mengucapnya kira-kira: "Ed-in-bra".

Forvo mencatat pelafalan bahasa Inggris Britania /ˈedɪnbrə/, sedangkan Oxford juga mencatat bentuk /ˈedɪnbrə/.

Karena itu, membaca Edinburgh sebagai "Edin-burg" tidak sesuai dengan pelafalan bahasa Inggris yang umum digunakan.

2. Reykjavík, Islandia

Reykjavík merupakan ibu kota Islandia. Nama ini menjadi sulit bagi penutur bahasa Indonesia karena kombinasi huruf "Reykja-" tidak mengikuti pola pembacaan huruf yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia.

Cara mengucapnya kira-kira: "Reik-kya-vik".

Dalam bahasa Inggris, Cambridge Dictionary mencatat pelafalan /ˈreɪk.jə.vɪk/. Sementara itu, sumber pelafalan bahasa dan rekaman penutur menunjukkan bunyi lokal yang melibatkan kombinasi pada bagian "kj", sehingga pendekatan "Reik-kya-vik" lebih mendekati pola bunyi tersebut.

Jadi, nama Reykjavík tidak cukup dibaca dengan mengeja setiap hurufnya satu per satu.

3. Gloucestershire, Inggris

Gloucestershire bukan nama kota, melainkan sebuah county di barat daya Inggris yang mencakup sejumlah wilayah dan permukiman.

Nama ini menjadi contoh klasik bagaimana ejaan bahasa Inggris dapat berbeda jauh dari cara membacanya. Bagian "cester" tidak dibaca seperti "chester".

Cara mengucapnya kira-kira: "Glos-tuh-shuh".

Cambridge Dictionary mencatat pelafalan bahasa Inggris Britania /ˈɡlɒs.tə.ʃə/, sementara varian Amerika tercatat /ˈɡlɑː.stɚ.ʃɚ/. Untuk pembaca Indonesia, "Glos-tuh-shuh" lebih mendekati pelafalan Britania.

Nama seperti Gloucestershire menunjukkan bahwa susunan huruf dalam nama tempat Inggris tidak selalu dapat dibaca menggunakan pola ejaan bahasa Indonesia.

4. Marseille, Prancis

Marseille merupakan salah satu kota besar di Prancis dan memiliki sejarah panjang sejak masa Yunani Kuno. Kota ini berkembang dari Massalia, koloni Yunani yang didirikan sekitar 600 SM.

Bagi penutur Indonesia, Marseille mungkin terlihat seperti dibaca "Mar-sel" atau "Mar-sail". Dalam bahasa Prancis, bunyinya berbeda.

Cara mengucapnya kira-kira: "Mar-sey".

Pelafalan bahasa Prancisnya tercatat /maʁ.sɛj/. Forvo juga menyediakan rekaman dari penutur bahasa Prancis.

Bunyi /ʁ/ dalam bahasa Prancis tidak memiliki padanan yang persis sama dalam bahasa Indonesia. Karena itu, "Mar-sey" merupakan penyederhanaan untuk membantu pembaca Indonesia.

5. München, Jerman

Munich dikenal sebagai salah satu kota utama di Jerman dan ibu kota negara bagian Bavaria. Dalam bahasa Jerman, kota ini disebut München, sedangkan bentuk bahasa Inggrisnya adalah Munich.

Cara mengucapkan München kira-kira: "Mün-khen".

Pelafalan bahasa Jerman tercatat /ˈmʏnçn̩/. Bunyi "ü" tidak sama dengan "u" dalam bahasa Indonesia, sedangkan "ch" di dalam nama tersebut juga mempunyai karakteristik bunyi bahasa Jerman.

Dalam bahasa Inggris, Cambridge Dictionary mencatat Munich dengan pelafalan /ˈmjuː.nɪk/, kira-kira "Myu-nik".

Munich juga menjadi tuan rumah Oktoberfest, yang secara resmi disebut sebagai festival rakyat terbesar di dunia.

6. Ljubljana, Slovenia

Ljubljana merupakan ibu kota Slovenia. Kota ini dikenal antara lain dengan kawasan kota tua, Sungai Ljubljanica dan Ljubljana Castle.

Kesulitannya langsung terlihat dari kombinasi huruf "Lj" dan "blj". Dalam bahasa Slovenia, huruf "j" memiliki bunyi seperti "y" dalam bahasa Inggris. Pelafalan bahasa Slovenia yang dicatat sumber bahasa tersebut adalah [ljuˈbljaːna].

Cara mengucapnya kira-kira: "Lyu-blya-na".

Forvo juga menyediakan sejumlah rekaman dari penutur bahasa Slovenia untuk nama Ljubljana.

Dengan demikian, membacanya sekadar "Lu-bla-na" menghilangkan bunyi penting dalam nama aslinya.

7. Ptuj, Slovenia

Masih dari Slovenia, ada Ptuj, kota yang secara resmi dikenal sebagai kota tertua di Slovenia. Kota ini memiliki kawasan bersejarah, kastil dan tradisi pembuatan anggur yang panjang.

Sekilas, nama "Ptuj" terlihat seperti rangkaian konsonan. Namun, kombinasi tersebut memang dapat muncul dalam sistem bunyi bahasa Slovenia.

Cara mengucapnya kira-kira: "Ptuy".

Wiktionary mencatat pelafalan bahasa Slovenia /ptùːj/, sementara Forvo menyediakan rekaman dari penutur Slovenia.

Bagi penutur Indonesia, nama sesingkat empat huruf ini justru menjadi sulit karena kombinasi bunyinya tidak lazim dalam bahasa Indonesia.

8. Oaxaca, Meksiko

Oaxaca merupakan salah satu kota penting di Meksiko dengan warisan budaya yang kuat. Kota ini berada di Central Valley dan dikenal antara lain karena arsitektur, kuliner serta tradisi budayanya.

Kesulitan namanya terletak pada huruf "x". Dalam bahasa Spanyol Meksiko, huruf tersebut dalam nama Oaxaca menghasilkan bunyi yang mendekati "h".

Cara mengucapnya kira-kira: "Wa-ha-ka".

Forvo mencatat pelafalan bahasa Spanyol /waˈxa.ka/ dan menyediakan sejumlah rekaman dari penutur Meksiko.

Nama Oaxaca juga memiliki sejarah bahasa yang menarik. Menurut Instituto Nacional de Antropología e Historia (INAH), nama tersebut berasal dari kata Nahuatl "huaxyacac", yang berarti "gourds at the tip of the nose".

Karena itu, cara membaca Oaxaca tidak cukup ditebak hanya berdasarkan aturan ejaan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

9. Gstaad, Swiss

Gstaad merupakan sebuah town dan resor ski di kanton Bern, Swiss. Tempat ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata pegunungan di Swiss.

Bagi orang yang membaca berdasarkan ejaan bahasa Indonesia, kombinasi "Gst-" di awal kata terasa tidak lazim.

Dalam pelafalan bahasa Jerman, nama tersebut tercatat /kʃtaːt/.

Cara mengucapnya kira-kira: "K-shtaat".

Sementara dalam bahasa Inggris Amerika, Cambridge Dictionary mencatat bentuk pelafalan yang berbeda, yakni /ɡəˈʃtɑːt/, kira-kira "Guh-shtaat". Forvo juga menyediakan rekaman Gstaad dalam bahasa Jerman, Inggris, Prancis dan Swiss German.

Untuk artikel ini, bentuk "K-shtaat" dipakai karena lebih mendekati pelafalan bahasa Jerman daripada varian bahasa Inggris Amerika.

10. Wytrzyszczka, Polandia

Nama Wytrzyszczka bahkan lebih ekstrem karena memiliki beberapa kombinasi konsonan yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia.

Wytrzyszczka merupakan sebuah desa di Polandia yang berada di wilayah Lesser Poland dan dikenal antara lain karena Tropsztyn Castle di sekitarnya.

Cara mengucapnya kurang lebih: "Vi-trish-chka".

Bentuk tersebut merupakan pendekatan agar mudah dibaca dalam bahasa Indonesia, bukan transkripsi IPA resmi. Sejumlah panduan pelafalan populer juga menggunakan pendekatan "Vi-trish-chka" untuk nama ini.

Bahasa Polandia memiliki kombinasi huruf seperti "rz", "sz" dan "cz" yang masing-masing mempunyai nilai bunyi tersendiri. Hal inilah yang membuat nama Wytrzyszczka sulit ditebak berdasarkan ejaannya bagi penutur Indonesia.

11. Qeqertarsuatsiaat, Greenland

Kalau panjang nama menjadi ukuran, Qeqertarsuatsiaat merupakan salah satu nama permukiman yang sangat sulit ditebak cara bacanya bagi penutur Indonesia.

Qeqertarsuatsiaat merupakan sebuah desa di pesisir barat daya Greenland. Dokumen pemerintah Greenland menyebut tempat ini sebagai sebuah desa dan menjelaskan bahwa namanya berarti "the rather large islands" atau "pulau-pulau yang agak besar".

Cara mengucapnya kira-kira: "Kek-er-tar-su-at-si-at".

Pendekatan tersebut juga digunakan dalam catatan perjalanan Aurora Expeditions yang secara khusus menuliskan pelafalan Qeqertarsuatsiaat sebagai "Ke-ker-tar-su-at-si-at".

Forvo juga menyediakan rekaman pelafalan Qeqertarsuatsiaat dalam bahasa Kalaallisut, bahasa Greenland.

Karena struktur bunyi bahasa Greenland berbeda dari bahasa Indonesia, nama tersebut akan terdengar jauh lebih sulit ketika dibaca hanya berdasarkan ejaannya.

Jika dirangkum, berikut 11 tempat dengan nama yang sulit diucapkan bagi penutur yang tidak menggunakan bahasa asalnya:

Bukan Salah Eja, Tapi Beda Aturan Bahasa

Nama tempat yang sulit diucapkan sebenarnya menunjukkan bagaimana bahasa membentuk cara manusia membaca sebuah nama.

Satu nama dapat terlihat sederhana dalam bahasa asalnya, tetapi menjadi sulit ketika dibaca menggunakan aturan bahasa lain.

Edinburgh memiliki pelafalan bahasa Inggris yang tidak mengikuti pembacaan huruf secara harfiah. Ljubljana dan Ptuj mengikuti sistem bunyi bahasa Slovenia, sementara Oaxaca mempertahankan jejak asal-usul Nahuatl dalam namanya.

Bahkan nama pendek seperti Ptuj bisa terasa sulit karena kombinasi bunyinya tidak umum dalam bahasa Indonesia.

Jadi, masalahnya bukan semata-mata nama tempat tersebut "sulit". Yang berbeda adalah aturan ejaan, kombinasi huruf dan bunyi yang digunakan dalam masing-masing bahasa.

(dag/dag)



Most Popular