Mayoritas Asia Keok Lawan Dolar, Rupiah Justru Tampil Perkasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS. Sementara tiga mata uang menguat dan satu lainnya stagnan.
Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda menguat 0,12% ke posisi Rp17.829/US$. Penguatan rupiah terjadi menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada hari ini.
Won Korea Selatan menyusul dengan kenaikan 0,10%, sementara ringgit Malaysia menguat tipis 0,02%.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,24%. Yen Jepang juga terkoreksi cukup dalam sebesar 0,15%.
Peso Filipina melemah 0,09%, disusul dolar Singapura yang turun 0,07%. Yuan China dan dolar Taiwan masing-masing terkoreksi 0,04% dan 0,03%.
Sementara dong Vietnam bergerak stagnan terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih banyak dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.25 WIB terpantau menguat 0,06% ke posisi 100,662.
DXY berada di sekitar level terkuat dalam dua bulan terakhir. Dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dapat kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum juga mereda.
Sejumlah pejabat The Fed telah membuka kemungkinan pengetatan lanjutan setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga pada pekan lalu.
"Dukungan terhadap dolar dari sisi suku bunga terlihat cukup bertahan. Namun, pasar berjangka sudah memperhitungkan pengetatan lebih besar dibandingkan proyeksi The Fed sendiri, sehingga dolar kini membutuhkan konfirmasi dari data," ujar Kieran Williams, head of Asia FX Intouch Capital Markets, dikutip dari Reuters.
Harga minyak juga masih menjadi perhatian pasar. Brent berada di kisaran US$99,22 per barel setelah sebelumnya sempat menembus US$100. Harapan muncul bahwa diplomasi dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Penurunan harga minyak dari level puncaknya sedikit meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, arah konflik masih belum pasti sehingga pasar belum sepenuhnya meninggalkan risiko kenaikan harga energi.
"Kabar baiknya adalah harga minyak sudah sedikit turun dari level tertingginya, tetapi arah selanjutnya masih belum jelas karena belum ada kepastian mengenai kemungkinan penyelesaian konflik," ujar Michael Wan, analis mata uang MUFG, dikutip dari Reuters.
Yen Jepang juga kembali menjadi perhatian. Pasar masih berhati-hati terhadap kemungkinan intervensi setelah kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada pekan lalu dinilai belum cukup hawkish.
BOJ memang telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, dua suara berbeda dan tidak adanya sinyal yang tegas mengenai kecepatan kenaikan bunga berikutnya membuat pasar masih meragukan seberapa agresif BOJ akan mengetatkan kebijakan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw)