Semua Mata Tertuju ke BI: Investor Was-Was, IHSG - Rupiah Bikin Cemas
Dari bursa saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Nasdaq Composite mencatat rekor tertinggi intraday baru pada Selasa, sementara S&P 500 relatif tidak berubah ketika investor terus memantau perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,45% ke rekor penutupan 27.244,28, didukung lonjakan hampir 7% saham Sandisk setelah mendapat rekomendasi positif dari Rosenblatt.
Sementara itu, S&P 500 turun tipis ke 7.764,64. Dow Jones Industrial Average melemah 185,14 poin atau 0,36% menjadi 51.863,69.
Harga minyak turun setelah Presiden Donald Trump mengatakan pejabat AS telah menggelar pertemuan yang sangat baik dengan delegasi Iran selama sekitar tiga jam.
Minyak mentah Brent, patokan global, turun 1,09% menjadi US$99,25 per barel. Minyak mentah AS turun 1,24% menjadi US$94,59 per barel. Penurunan tersebut menjadi yang kelima secara beruntun bagi kedua kontrak minyak.
Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait apakah akan mengejar kesepakatan dengan Iran atau "memusnahkan" negara tersebut.
Trump juga mengatakan ia meyakini kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu karena menurutnya tidak masuk akal bagi Iran untuk tidak membuat kesepakatan. Ia menambahkan bahwa Iran masih menunggu untuk melihat hasil yang diraihnya dalam pemilu paruh waktu AS.
Harga minyak sebelumnya juga tertekan setelah Iran dilaporkan menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Namun, laporan tersebut belum diverifikasi. Arab Saudi juga dilaporkan berencana mengaktifkan kembali jaringan pipa East-West paling cepat pekan ini.
Pergerakan pasar pada Selasa terjadi setelah Wall Street mencatat penguatan besar pada sesi sebelumnya. S&P 500 membukukan kenaikan harian terbaik sejak 4 Agustus, sedangkan Nasdaq mencetak rekor penutupan pertamanya sejak Juni.
Penurunan harga minyak turut menopang pasar saham, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS ikut turun.
Bahkan sebelum Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pekan lalu, imbal hasil Treasury telah bergerak naik seiring ekonomi menghadapi meningkatnya utang, harga minyak yang tinggi, dan inflasi yang masih bertahan.
Imbal hasil Treasury 10 tahun terakhir turun tipis pada Selasa ke sekitar 4,959%.
Tom Garretson, senior portfolio strategist fixed income di RBC Wealth Management, mengatakan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dari siklus kenaikan suku bunga dalam lingkungan imbal hasil yang lebih tinggi.
Menurutnya, masih terdapat tingkat keyakinan berlebihan di pasar bahwa imbal hasil Treasury 10 tahun akan menembus 5%, sementara terdapat risiko yang cukup besar bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi dan berpotensi kembali mendekati 5% pada awal 2027.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, D.C. pekan ini.
Sejumlah isu diperkirakan menjadi agenda utama, termasuk kecerdasan buatan (AI), perang Iran, tarif perdagangan, dan logam tanah jarang (rare earth).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang kunjungan Xi ke AS.a
(evw/evw)