MARKET DATA

Survei Terbaru: Anak Perempuan Lebih Jago Membaca Dibanding Laki-Laki

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
21 September 2026 14:25
Ilustrasi buku
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemampuan membaca siswa perempuan kembali menunjukkan keunggulan dibandingkan siswa laki-laki. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan perempuan mencatat skor membaca lebih tinggi di 89 dari 90 sistem pendidikan yang mengikuti asesmen.

PISA merupakan penilaian yang digelar Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan membaca, matematika, serta sains dalam menghadapi persoalan kehidupan nyata.

Hasil terbaru PISA menunjukkan kesenjangan kemampuan membaca antara siswa perempuan dan laki-laki masih lebar, bahkan semakin melebar dibandingkan hasil asesmen sebelumnya.

Perempuan Unggul di 89 Negara

Dari 90 sistem pendidikan yang mengikuti PISA 2025, hanya Rwanda yang mencatat skor membaca laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Selisihnya mencapai enam poin.

Sementara itu, perbedaan di Kenya dan Zambia tidak signifikan secara statistik.

 

Kesenjangan terbesar terlihat di Finlandia, di mana skor membaca perempuan mencapai 498 poin, sedangkan laki-laki hanya 452 poin. Artinya, terdapat gap 46 poin.

Gap besar juga tercatat di Lithuania 44 poin, Swedia 41 poin, Chinese Taipei 39 poin, Polandia 37 poin, dan Selandia Baru 33 poin.

Di negara-negara OECD secara keseluruhan, skor membaca perempuan mencapai rata-rata 476 poin, sedangkan laki-laki hanya 446 poin. Dengan demikian, terdapat selisih 30 poin.

Yang lebih menarik, gap tersebut melebar lima poin dibandingkan PISA 2022.

Laki-Laki Lebih Banyak Tertinggal di Level Dasar

Kesenjangan tidak hanya terlihat pada skor rata-rata, tetapi juga pada kemampuan membaca dasar.

OECD menetapkan Level 2 sebagai batas minimum kemampuan membaca. Pada level ini, siswa sudah mampu menemukan ide utama dalam teks yang sedikit panjang, mencari informasi yang disampaikan secara jelas, serta memahami tujuan dan bentuk teks ketika diberikan arahan.

Di negara-negara OECD, 37% siswa laki-laki belum mencapai Level 2, jauh lebih tinggi dibandingkan 25% siswa perempuan.

Sebaliknya, pada kelompok dengan kemampuan membaca tertinggi, 7% siswa perempuan mencapai Level 5 atau lebih, dibandingkan 5% siswa laki-laki.

Pada Level 5-6, siswa mampu memahami teks panjang dan kompleks, termasuk konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk tersirat dalam teks atau sumber informasi.

Mengapa Kesenjangan Membaca Ini Muncul?

Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan perbedaan kemampuan bawaan.

Salah satu faktor yang disebut dalam materi OECD dan UNESCO adalah keterlibatan siswa terhadap aktivitas membaca.

UNESCO mencatat bahwa anak laki-laki cenderung melaporkan tingkat kesenangan dan kepercayaan diri dalam membaca yang lebih rendah.

 

Perubahan skor dalam beberapa tahun terakhir juga memperlebar jarak tersebut. Di antara negara-negara OECD dengan data yang dapat dibandingkan, skor membaca siswa laki-laki turun 17 poin dari 2022 ke 2025, sementara skor perempuan turun 12 poin.

OECD mencatat bahwa kesenjangan gender dalam membaca melebar lima poin dalam periode tersebut.

Kesenjangan membaca ini penting karena kemampuan tersebut tidak berhenti di ruang kelas.

Kemampuan memahami teks, menemukan informasi, dan mengevaluasi isi bacaan merupakan bagian dari kompetensi yang digunakan siswa untuk belajar di jenjang berikutnya.

Dalam jangka lebih panjang, perbedaan capaian pendidikan juga berkaitan dengan pola partisipasi di pendidikan tinggi dan peluang di pasar kerja.

(mae/mae)



Most Popular