MARKET DATA

Bukan Iran, Pendidikan Jadi Senjata Penghancur Israel dari Dalam

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
10 September 2026 21:20
Foto kolase bendera Israel dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (CNBC Indonesia)
Foto: Foto kolase bendera Israel dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel menghadapi perubahan ekonomi dan demografi yang berlangsung cepat.

Di satu sisi, Israel berhasil bertransformasi dari ekonomi berbasis pertanian menjadi salah satu pusat teknologi dunia. Namun, di sisi lain, rendahnya produktivitas sebagian besar tenaga kerja dan perubahan demografi membuat sistem pendidikan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi masa depan Israel.

Setahun setelah kemerdekaan pada 1949, sektor pertanian menyumbang 64% ekspor Israel. Kini, porsinya tinggal 0,6%, sementara sektor teknologi tinggi (high-tech) menjadi mesin utama pertumbuhan dan menyumbang sekitar setengah dari total ekspor.

Transformasi tersebut didukung pembangunan universitas riset sejak awal berdirinya Israel. Dalam 25 tahun pertama, jumlah dosen universitas dibandingkan populasi meningkat lebih dari sembilan kali lipat.

Saat ini, Tel Aviv University dan Technion masuk 10 besar dunia dalam menghasilkan pendiri perusahaan rintisan (startup founders), menurut PitchBook.

Investasi juga mengalir deras ke sektor tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi modal ventura (venture capital) Israel terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai lebih dari dua kali lipat Amerika Serikat dan lebih dari 15 kali rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Porsi penelitian dan pengembangan (R&D) yang dibiayai asing juga mencapai 13 kali rata-rata OECD.

Ekonomi Maju, tapi Produktivitas Tertinggal

Namun, di balik keunggulan tersebut terdapat persoalan besar. Produktivitas tenaga kerja Israel secara keseluruhan masih berada di paruh bawah negara-negara OECD.

Pada 2022, PDB per jam kerja di sektor high-tech tercatat 22% di atas rata-rata OECD. Namun di sektor ekonomi lainnya, tempat sekitar 90% warga Israel bekerja, produktivitasnya justru 24% di bawah rata-rata OECD.

Basis tenaga kerja di sektor teknologi tinggi juga relatif kecil. Dari populasi sekitar 10 juta orang, hanya sekitar 300.000 orang yang bekerja di sektor teknologi tinggi, menjadi dokter, atau menjadi dosen senior di universitas riset.

Ketimpangan tersebut juga tercermin dalam penerimaan pajak. Pada 2024, sekitar 20% tenaga kerja Israel menyumbang 93% penerimaan pajak penghasilan, naik dari 83% pada 2000. Sementara itu, separuh tenaga kerja lainnya memiliki penghasilan yang terlalu rendah untuk mencapai batas pengenaan pajak penghasilan.

Salah satu akar masalahnya adalah pendidikan. Israel berada di kelompok terbawah OECD dalam ujian matematika, sains, dan membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Nilai PISANilai PISA Foto: Economist

Sekitar separuh anak Israel mendapatkan pendidikan inti (core education) di bawah standar yang ditemukan di banyak negara berkembang. Masalah ini semakin serius karena kelompok dengan tingkat pendidikan rendah justru tumbuh paling cepat.

Ledakan Penduduk Haredi Ubah Wajah Israel

Kelompok yang paling menonjol dalam perubahan tersebut adalah Haredim, komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Sebagian besar kelompok ini mempertahankan sistem pendidikan terpisah dan, khususnya bagi anak laki-laki, memberikan porsi sangat besar untuk pendidikan agama.

Setelah usia 13 tahun, anak laki-laki Haredi pada umumnya diarahkan untuk fokus pada studi Taurat, dengan pendidikan sekuler yang sangat terbatas.

Pria Yahudi Ultra-Ortodoks membaca teks di dekat Jembatan Chords selama protes Pria Yahudi Ultra-Ortodoks membaca teks di dekat Jembatan Chords selama protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, 30 Oktober 2025. (REUTERS/Ammar Awad) Foto: Pria Yahudi Ultra-Ortodoks membaca teks di dekat Jembatan Chords selama protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, 30 Oktober 2025. (REUTERS/Ammar Awad)

Pertumbuhan demografinya juga jauh lebih cepat. Jika sebagian besar kelompok penduduk Israel memiliki tingkat kesuburan sekitar dua anak per perempuan, kelompok Haredi mencapai hampir tujuh anak per perempuan.

Akibatnya, proporsi Haredim dalam populasi meningkat dua kali lipat setiap 25 tahun.

Data Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan bahwa pada 2023 Haredim hanya mencakup 6% penduduk berusia 50-54 tahun, tetapi sudah mencapai 26% anak berusia di bawah lima tahun.

Perubahan ini mulai terlihat jelas di sejumlah kota. Empat pemerintah kota dengan penurunan kondisi sosial ekonomi terbesar sejak 1995 seluruhnya mengalami perubahan demografi yang cepat.

Kondisi tersebut didorong tingginya angka kelahiran kelompok berpendidikan rendah serta perpindahan penduduk yang lebih berpendidikan dan terampil.

Di Yerusalem, misalnya, proporsi siswa Yahudi sekuler turun dari sekitar sepertiga seluruh siswa 35 tahun lalu menjadi hanya 9% saat ini.

Kota Arad memberikan gambaran yang lebih tajam. Pada 2000, 75% siswa sekolah dasar di kota tersebut berada dalam sistem pendidikan Yahudi sekuler dan 21% dalam sistem Haredi. Pada 2026, kondisinya berbalik yakni 75% siswa Haredi, sementara siswa sekuler tinggal 20%.

Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan jumlah penduduk. Jika semakin banyak penduduk memasuki usia kerja tanpa pendidikan dasar yang memadai untuk ekonomi modern, sementara sebagian kecil tenaga kerja berpendidikan tinggi menopang produktivitas dan penerimaan pajak, beban ekonomi negara berpotensi semakin berat.

Pendidikan dan Anggaran Jadi Kunci

Persoalan utama Israel bukan sekadar meningkatkan anggaran pendidikan, tetapi memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan inti yang dibutuhkan untuk bekerja dan memahami hak-hak dasar dalam demokrasi.

Salah satu solusi yang didorong adalah memperbarui kurikulum nasional sekaligus menjadikannya wajib bagi seluruh anak. Pendidikan dasar yang dibutuhkan tidak seharusnya dapat dikesampingkan, meskipun kurikulum tambahan masih dapat disesuaikan dengan preferensi orang tua dan komunitas.

Perubahan tersebut juga menyangkut anggaran negara. Pemerintah didorong menghentikan pendanaan bagi sekolah yang tidak menjalankan kurikulum inti secara penuh, sekaligus meninjau subsidi langsung maupun tidak langsung kepada kelompok Haredi.

Besarnya dukungan tersebut menjadi sorotan karena total subsidi untuk Haredim disebut lebih besar daripada seluruh pendanaan publik untuk rumah sakit dan universitas Israel jika digabungkan.

Salah satu dampaknya terlihat di pasar kerja. Tingkat pekerjaan pria Haredi pada usia produktif utama kini 25% lebih rendah dibandingkan akhir 1970-an.

Dengan perubahan demografi yang berlangsung cepat, persoalan pendidikan akhirnya bukan lagi sekadar isu sekolah. Bagi Israel, kualitas pendidikan akan menentukan seberapa besar penduduk yang mampu masuk ke pasar kerja modern, membayar pajak, dan menopang perekonomian ketika proporsi kelompok berpendidikan rendah terus meningkat.

Pemilu parlemen Israel atau Knesset pada 27 Oktober 2026 menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan arah kebijakan tersebut. Tantangannya adalah membenahi sistem pendidikan dan mengubah prioritas anggaran sebelum perubahan demografi membuat pilihan kebijakan semakin sulit.

(mae/mae)



Most Popular