MARKET DATA

Data Center Jadi Ladang Emas Baru, Investasi Asing Tembus Rp 2.300 T

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
18 September 2026 11:35
Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels/Panumas Nik)
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels/Panumas Nik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arus investasi global pada semester I 2026 menunjukkan pergeseran kuat menuju infrastruktur digital dan AI.

Investasi asing langsung (FDI) greenfield yakni investasi untuk membangun proyek atau fasilitas baru secara global mencapai sekitar US$538 miliar pada paruh pertama 2026 atau sekitar Rp 9.549  triliun (US$ 1= Rp 17.750).

Sektor komunikasi menjadi magnet utama investasi asing dengan nilai mencapai US$139,3 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Lebih dari US$131 miliar (Rp 2.325,25 triliun) di antaranya mengalir ke proyek data center, atau lebih dari 94% dari total investasi di sektor tersebut.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 24,5% dari seluruh rencana belanja modal FDI greenfield global pada periode tersebut.

Menurut fDi Intelligence, proporsi ini merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam data fDi Markets, baik untuk periode satu tahun penuh maupun semester.

Mengutip fDi Intelligence, berikut 10 sektor dengan nilai FDI greenfield terbesar di dunia berdasarkan belanja modal pada paruh pertama 2026.


Besarnya investasi data center tercermin dari sejumlah proyek berskala jumbo. Pada Mei 2026, SoftBank mengumumkan komitmen investasi €45 miliar, atau sekitar Rp919,6 triliun dengan asumsi €1 = Rp20.435, selama lima tahun untuk membangun infrastruktur AI di Prancis.

Proyek tersebut akan memiliki kapasitas data center sebesar 3,1 gigawatt yang tersebar di tiga lokasi. Nilai investasi itu berpotensi diperluas menjadi €75 miliar. Reuters menyebut proyek awal tersebut sebagai salah satu investasi terbesar di Eropa untuk infrastruktur AI.

Sektor Lain Ikut Terseret Investasi AI

Energi terbarukan menjadi sektor dengan investasi FDI greenfield terbesar kedua pada semester I 2026. Sektor ini menarik sekitar US$73,3 miliar, atau sekitar US$28,6 miliar lebih tinggi dibandingkan investasi pada batu bara, minyak, dan gas yang mencapai US$44,7 miliar.

Investasi energi terbarukan terutama mengalir ke proyek tenaga surya, disusul hidrogen, teknologi bersih, dan tenaga angin.

 

Dampak ledakan investasi AI juga terlihat pada sektor semikonduktor.

Investasi di sektor ini mencapai US$38,8 miliar pada enam bulan pertama 2026, termasuk komitmen Micron sebesar US$24 miliar untuk membangun fasilitas produksi NAND flash di Singapura. Chip tersebut merupakan salah satu komponen penting dalam infrastruktur AI.

Sektor transportasi dan pergudangan menarik US$24,9 miliar, sedangkan peralatan industri mencapai US$14,6 miliar. Sementara itu, komponen elektronik serta perangkat lunak dan layanan TI masing-masing mencatat investasi US$13,7 miliar.

Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels) Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)

 

Kebutuhan listrik untuk menopang AI juga mendorong investasi pada energi fosil.

Sekitar US$33 miliar dari investasi sektor batu bara, minyak, dan gas berasal dari rencana anak usaha SoftBank, SB Energy Corp, untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas 9,2 gigawatt di Ohio, Ameriksa Serikat (AS). Pembangkit tersebut dirancang untuk memasok listrik ke kompleks data center yang sedang dikembangkan.

Modal Jumbo Memacu Pembangunan Infrastruktur AI

Besarnya aliran modal menjadi salah satu faktor yang membuat pembangunan ekosistem AI berlangsung sangat cepat. Perusahaan teknologi tidak hanya menggelontorkan dana untuk mengembangkan model AI, tetapi juga membangun kapasitas komputasi yang dibutuhkan agar teknologi tersebut dapat dilatih dan digunakan dalam skala besar.

Skalanya bahkan jauh melampaui pembangunan data center konvensional. PwC memperkirakan belanja modal data center global mencapai sekitar US$800 miliar per tahun pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi US$1,8 triliun per tahun pada 2050.

Secara kumulatif, PwC memperkirakan investasi infrastruktur AI global dapat mencapai US$31,6 triliun hingga 2050.

 

Di balik setiap model AI yang semakin besar, terdapat investasi dalam jumlah jumbo untuk membangun data center, chip, jaringan listrik, dan berbagai infrastruktur pendukung.

Dengan demikian, lonjakan investasi AI tidak hanya mengubah industri teknologi, tetapi juga mulai membentuk arah aliran modal global dan mendorong pembangunan infrastruktur energi serta digital dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

(mae/mae)



Most Popular