Tok! The Fed Menaikkan Suku Bunga 25 Bps, Isyaratkan Naik Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) ke di 3,75-4,00%.
The Fed juga mengisyaratkan masih terbuka peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.
Kenaikan suku bunga ini adalah yang pertama sejak Juli 2203 atau tiga tahun lebih.
The Fed menegaskan kenaikan in merupakan bagian dari upaya menekan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dan sejumlah faktor lainnya.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (17/9/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Seperti diketahui, The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%. Pada Januari - Juli 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
Keputusan kenaikan ini diambil dengan suara bulat 12-0 oleh anggota FOMC.
"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam rilis resminya.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga menjadi fokus utama dalam mandat The Fed. Ia menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.
Warsh juga menekankan bahwa stabilitas harga merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi AS.
"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Sebagai catatan, inflasi umum AS mencapai 3,4% (year on year/YoY) pada Agustus 2026.
Dot Plot Buka Kmeungkinan Kenaikan Lagi
Proyeksi kebijakan terbaru The Fed yang terekam dalam dot plot menunjukkan potensi kenaikan suku bunga lagi.
Dot plot menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir tahun ini. Empat di antaranya bahkan melihat kemungkinan dua kenaikan tambahan.
Sementara itu, dua pejabat memperkirakan The Fed akan berhenti setelah satu kenaikan.
Warsh sendiri tidak memasukkan proyeksi suku bunga sejak menjabat sebagai ketua The Fed.
Proyeksi suku bunga dot plot Foto: The Fed |
Untuk tahun-tahun berikutnya, tidak ada kenaikan tambahan yang diproyeksikan. Namun, dot plot menunjukkan satu kali pemangkasan suku bunga pada 2028 dan setidaknya satu kali pemangkasan pada 2029.
Proyeksi Inflasi Naik
Dalam proyeksi ekonomi kuartalan terbaru, The Fed menaikkan perkiraan inflasi yang diukur melalui Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index menjadi 3,7%, dari proyeksi 3,6% pada pertemuan Juni. Inflasi PCE merupakan acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan.
The Fed kini memperkirakan inflasi baru akan kembali ke target 2% pada 2029, atau setahun lebih lambat dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sedikit dinaikkan menjadi 2,3%, dari sebelumnya 2,2%.
Tingkat pengangguran diperkirakan berada di 4,1% pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,3%.
Secara historis, The Fed jarang hanya menaikkan suku bunga satu kali. Para pembuat kebijakan biasanya tidak mengambil keputusan secara bertahap ketika menilai inflasi terlalu tinggi dan membutuhkan suku bunga tinggi, atau ketika pertumbuhan ekonomi terlalu lemah sehingga suku bunga perlu diturunkan untuk mendorong permintaan.
Meski kenaikan kali ini telah diperkirakan, alasan di balik keputusan tersebut terbilang tidak biasa.
The Fed biasanya cenderung mengabaikan sementara inflasi yang disebabkan oleh faktor pasokan seperti kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran dan dampak tarif yang masih berlangsung.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, para pejabat mulai mempertimbangkan biaya dari terus mengabaikan kenaikan harga tersebut, terutama karena kondisi pasar tenaga kerja mulai stabil.
Komite bahkan menurunkan proyeksi tingkat pengangguran menjadi 4,1%, atau 0,2 poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi Juni.
Kekhawatiran utama kini adalah tingginya harga energi yang berlangsung terlalu lama dapat meningkatkan ekspektasi inflasi dan menyebar ke berbagai sektor ekonomi.
Reaksi Pasar
Pasar langsung merespons keputusan tersebut. Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan anjlok 631,21 poin atau 1,21% ke level 51.461,90. Saham Goldman Sachs menjadi salah satu pemberat utama indeks.
Sementara itu, S&P 500 turun 0,45% dan ditutup di level 7.551,81.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS melonjak sekitar 0,65% setelah keputusan The Fed. Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun juga naik 6 bps karena pasar memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga berikutnya sebelum akhir tahun.
Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,01%, sedangkan harga emas berjangka turun 1,2%. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
Biaya pinjaman juga meningkat. Suku bunga hipotek tetap 30 tahun sempat melonjak menjadi 7,19%, naik sekitar 38 bps sejak pidato Warsh di Jackson Hole dan lebih dari 1 poin persentase dibandingkan setahun sebelumnya.
Namun setelah keputusan The Fed, imbal hasil Treasury justru turun, yang menunjukkan investor merespons positif upaya bank sentral menekan inflasi. Perlu diketahui, harga obligasi dan imbal hasil bergerak berlawanan arah.
Brad Conger, Chief Investment Officer Hirtle & Co., menilai keputusan tersebut menunjukkan perubahan sikap The Fed dalam menghadapi inflasi.
"Inflasi merupakan kekhawatiran yang meluas dan ketidakpastiannya menghambat pengambilan keputusan di berbagai perusahaan," ujarnya, dikutip dari CNBC International.
(mae/mae)