Bersiaplah! Harga Emas Akan Terguncang-Guncang Jelang Putusan The Fed

mae, CNBC Indonesia
Rabu, 16/09/2026 06:54 WIB
Foto: Pexels/Elias Tigiser

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas turun pada perdagangan Selasa (15/9/2026).  Investor dan trader khawatir dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil (yield) Treasury. Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (15/9/202) ditutup di posisi US$ 4283,97 per troy ons atau melandai 0,12%.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemah dua hari beruntun.

Pada hari ini, Rabu (16/9/2026) pukul 06.45 WIB, harga emas ada di US$ 4283,97 per troy ons atau melandai 0,20%.

"Harga energi yang lebih tinggi memicu inflasi. Inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong suku bunga naik. Ini tidak baik bagi emas," kata Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist StoneX, kepada Reuters.

Pasar kini menanti keputusan The Fed pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%-4% dan memberi sinyal pengetatan lebih lanjut.

Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, yield Treasury AS 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007.

 

Emas memang dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kenaikan yield aset bebas risiko seperti Treasury mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

"Sebagian besar risiko The Fed yang hawkish tampaknya sudah diperhitungkan. Namun, emas tetap rentan jika pembuat kebijakan mengisyaratkan suku bunga akan bertahan lebih tinggi dalam waktu lama," tulis analis ING.


(mae/mae)
Pages