Harga Minyak US$107, Eropa Kerek Bunga, AS Beri Kabar Genting Hari Ini
- Pasar keuangan RI ditutup kompak pada zona pelemahan
- Wall Street ambruk karena kekhawatiran harga minyak
- Lonjakan harga minyak, dampak inflasi AS dan PPIÂ Jepang menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak melemah baik di pasar saham, mata uang ataupun obligasi.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan bergerak melemah lagi karena data inflasi Amerika Serikat (AS) sehingga akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya serta potensi supply chain yang terganggu akibat bencana alam yang melanda Indonesia dari berbagai macam spektrum.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). IHSG ditutup anjlok 1,29% atau 86,30 poin ke level 6.591,90.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG bergerak dalam rentang cukup lebar sepanjang perdagangan. Indeks dibuka di level 6.688,18 dan sempat menguat hingga 6.712,50. Namun, tekanan jual kemudian membawa IHSG jatuh ke level terendah 6.585,56 sebelum ditutup di 6.591,90.
Â
Dengan penutupan di 6.591,90, IHSG kembali berada di bawah level psikologis 6.600 setelah sempat menguji area 6.700 pada awal perdagangan.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume mencapai 51,1 miliar saham. Nilai transaksi tercatat Rp21,6 triliun dengan frekuensi 2,67 juta kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 150 saham menguat, 516 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup merata di pasar.
Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign outflow sebesar Rp 1,95 triliun di all market dan mencatatkan net foreign outflow pula di pasar reguler sebesar Rp 747,51 miliar
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 70,16 triliun di all market dan Rp 97,69 triliun di reguler market.
Tekanan paling besar datang dari sektor energi yang anjlok 2,21%. Selanjutnya, sektor kesehatan melemah 1,69%, industri koreksi 1,53%, bahan baku -1,22%, dan finansial -1,18%.
Sementara itu, sektor properti menjadi sektor dengan koreksi paling terbatas, yakni 0,07%, disusul utilitas yang turun 0,17%.
Dari jajaran saham pemberat IHSG, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 15,52 poin. Diikuti PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 10,40 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 7,04 poin.
Â
Saham lain yang turut menekan indeks yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,02 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 3,58 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,47 poin, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) 3,27 poin.
Sebaliknya, sejumlah saham masih mampu menjadi penahan laju koreksi IHSG. PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) memberikan kontribusi positif terbesar, yakni 3,72 poin. Disusul PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 2,55 poin, PT Astra International Tbk (ASII) 1,73 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 1,65 poin, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 1,23 poin.
Dari sisi sentimen, pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan bursa global akibat lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Harga Brent telah menembus US$101 per barel.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarinkemarin.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,17% dan menutup perdagangan Kamis (10/9/2026) di posisi Rp17.530/US$. Berbalik dibandingkan posisi pembukaan di Rp17.495/US$ atau menguat 0,03%.
Pelemahan tersebut juga membalikkan penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya Rabu (9/9/2026), pada saat rupiah ditutup melesat 0,71% ke level Rp17.500/US$. Meski terkoreksi, rupiah masih berada di sekitar posisi terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,10% ke posisi 98,721.
Pergerakan rupiah kemarinkemarin terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Harga minyak Brent masih bertahan di atas US$100 per barel setelah menembus level tersebut pada perdagangan Rabu kemarin. Kenaikan terjadi ketika Iran dan AS tengah melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap jalur pelayaran di selat Hormuz sejak perang dimulai.
Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Â
Kenaikan harga energi juga mendorong kekhawatiran terhadap inflasi sehingga imbal hasil obligasi global kembali meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan menyentuh posisi tertinggi sejak 2023.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan hal ini mengindikasikan investor didominasi oleh penjual dibandingkan dengan pembeli di pasar.
SBN bergerak melemah ke level 7,096% pada perdagangan Rabu kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau ditutup pada level 7,095%
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham AS turun setelah harga minyak mentah AS menembus US$100 per barel. Investor semakin khawatir perang berkepanjangan di Timur Tengah akan memicu lonjakan inflasi.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 316,56 poin atau 0,6% ke level 52.064,10. S&P 500 melemah 0,58% menjadi 7.591,70, sementara Nasdaq Composite melandai 0,65% ke 26.081,72.
Penurunan tersebut menjadi hari keempat berturut-turut bagi ketiga indeks utama Wall Street.
Kenaikan harga minyak kembali menekan sentimen pasar, seiring perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki bulan ketujuh.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup melonjak 6,7% menjadi US$102,48 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 5,9% menjadi US$107,63 per barel.
Kedua harga acuan tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga WTI telah melonjak 52,9%. Sepanjang tahun berjalan, WTI bahkan sudah melesat 78,5%.
Lonjakan harga minyak pada Kamis juga mendorong imbal hasil Treasury AS 10 tahun menembus 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Saham-saham teknologi semikonduktor dengan beta tinggi yang sebelumnya menjadi motor reli pasar ikut tertekan. Investor khawatir kenaikan suku bunga dan harga minyak dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Intel anjlok 5,6%, sedangkan Micron Technology turun 4,7%.
Di sisi lain, perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler seperti Alphabet dan Microsoft masih mencatat kenaikan kurang dari 1%.
Saham Apple justru melonjak 3,6% setelah perusahaan sukses meluncurkan smartphone lipat pertamanya.
Inflasi AS Masih Jadi Perhatian
Laporan inflasi tingkat produsen atau Producer Price Index (PPI) Agustus yang relatif moderat belum mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga dan harga minyak.
PPI Agustus naik 0,4% secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman, sesuai dengan konsensus Dow Jones.
Secara tahunan, PPI mencapai 5,4%, masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%.
Data tersebut dirilis sehari sebelum investor menantikan laporan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.
Kedua indikator tersebut menjadi bagian penting dalam melihat arah inflasi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap indikator inflasi utama The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index. Data PCE baru akan dirilis setelah keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.
Stephen Coltman, Head of Macro di 21shares, mengatakan data PPI belum memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan depan.
Namun, lonjakan harga WTI kembali menembus US$100 dan imbal hasil Treasury yang mencapai level tertinggi baru membuat risiko bagi investor semakin besar menjelang rilis CPI.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak futures Fed Funds terakhir menunjukkan peluang 73% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah rapat pekan depan.
Sentimen pasar hari ini diperkirakan bergerak hati-hati setelah data ekonomi kemarin memberikan sinyal beragam. Penjualan ritel Indonesia kembali tumbuh dan Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi.
Sementara itu, inflasi produsen AS menguat dan pasar tenaga kerjanya tetap solid. Perhatian investor hari ini akan beralih kepada inflasi produsen Jepang, inflasi konsumen AS, serta sentimen konsumen AS yang berpotensi menentukan arah pasar menjelang akhir pekan.
Pergerakan harga minyak dan imbal hasil US Treasury juga menjadi perhatian pasar.
Berikut pergerakan sentimen hari ini:
1. Perang Memanas, Harga Minyak Tembus US$107
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Kamis (10/9/2026). Brent naik 6,34% menjadi US$107,63 per barel, sementara WTI melonjak 6,69% ke US$102,48. Keduanya mencatat level tertinggi sejak 19 Mei.
Lonjakan terjadi setelah serangan terhadap kapal meningkat sejak perang Iran dimulai. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran juga mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman, meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah.
Gangguan di Selat Hormuz turut memperketat pasokan minyak global. Iran mengklaim menyerang 10 kapal di sekitar selat tersebut setelah AS menyerang lima kapal tanker Iran.
China kini menjadi penentu arah harga minyak. Jika pembelian minyak China terus meningkat, harga berpotensi semakin tinggi. Sebaliknya, pelemahan impor China dapat menahan reli.
Di sisi lain, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2026 menjadi 380.000 barel per hari, menjadi revisi penurunan kelima berturut-turut.
2. Imbal Hasil US Treasury Melonjak
Aksi jual di pasar obligasi AS semakin menguat pada Kamis (10/9/2026). Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, sementara Departemen Keuangan AS membeli obligasi lebih sedikit dari perkiraan dalam operasi buyback yang diperluas untuk pertama kalinya.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke 4,98% atau hampir mendekati 5%, level yang tak pernah terlihat sejak Oktober 2023.
Pergerakan di pasar obligasi memberikan gambaran mengenai sentimen investor terhadap kondisi ekonomi AS, bahkan bisa lebih mencerminkan kondisi tersebut dibandingkan pasar saham. Pasalnya, pasar saham dapat terdongkrak secara berlebihan oleh industri yang sedang tumbuh pesat, seperti AI dan teknologi, meskipun sektor ekonomi lainnya justru mengalami pelemahan.
Kenaikan imbal hasil di pasar obligasi menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Inflasi telah meningkat signifikan sejak perang Iran dimulai.
Investor kini bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS tersebut diperkirakan setidaknya menaikkan suku bunga sekali sebelum akhir tahun.
Kenaikan suku bunga juga akan membuat biaya pinjaman semakin mahal, bahkan jika kondisi di pasar obligasi nantinya kembali tenang.
3. Penjualan Eceran Indonesia Juli 2026
Bank Indonesia mengumumkan penjualan eceran Indonesia tumbuh 1,1% secara tahunan pada Juli, berbalik dari kontraksi 3% pada Juni dan jauh lebih kuat dibandingkan proyeksi penurunan 3,3%.
Pertumbuhan tersebut sekaligus mengakhiri penurunan yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.
Pemulihan terutama ditopang penjualan makanan, minuman dan tembakau yang tumbuh 2,4%, serta pakaian yang meningkat 2,8%. Namun, penjualan bahan bakar, perangkat informasi dan komunikasi, barang rekreasi, serta perlengkapan rumah tangga masih mengalami kontraksi. Secara bulanan, penjualan turun tipis 0,1% setelah sebelumnya naik 0,7%.
Kembalinya pertumbuhan penjualan ritel menjadi sentimen positif bagi konsumsi domestik dan saham sektor ritel. Hasil tersebut juga sejalan dengan peningkatan keyakinan konsumen, meskipun pemulihannya belum merata di seluruh kelompok barang.
4. Keputusan Suku Bunga Zona Euro September 2026
Masih dari perkembangan kemarin, Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,65%, dari 2,4%, sesuai konsensus. Suku bunga fasilitas deposito dinaikkan menjadi 2,5%, sedangkan fasilitas pinjaman marjinal meningkat menjadi 2,9%.
Kenaikan tersebut merupakan pengetatan kedua sejak konflik AS-Iran dimulai. Bank sentral menilai ketegangan di Timur Tengah masih mendorong tekanan harga dan membuat inflasi berpotensi bertahan di atas target 2% dalam waktu yang lebih lama.
Proyeksi inflasi 2026 dipertahankan di 3%, sedangkan perkiraan inflasi 2027 dan 2028 dinaikkan masing-masing menjadi 2,5% dan 2,1%.
Keputusan tersebut cenderung mendukung euro, tetapi menjadi sentimen negatif bagi obligasi dan saham karena biaya pendanaan meningkat. Pasar selanjutnya akan mencermati apakah kenaikan tambahan masih diperlukan.
5. Inflasi Produsen AS Agustus 2026
Inflasi produsen Amerika Serikat naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, sesuai konsensus tetapi lebih tinggi dari kenaikan 0,1% pada periode sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4%, melampaui konsensus 5,3% dan posisi sebelumnya sebesar 4,8%.
Inflasi inti secara bulanan tumbuh 0,2%, lebih rendah dari konsensus 0,3%.
Namun, secara tahunan inflasi inti meningkat menjadi 4,6% dari 4,3% dan sesuai dengan perkiraan pasar. Kombinasi tersebut menunjukkan tekanan harga pada tingkat produsen masih cukup kuat meskipun komponen inti bulanan sedikit lebih rendah.
Data ini menjadi sentimen positif bagi dolar AS dan mendorong tekanan pada emas serta aset berisiko.
Inflasi produsen yang tinggi dapat memperkecil peluang Federal Reserve menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
6. Klaim Pengangguran AS September 2026
AS mengumumkan klaim awal pengangguran sebanyak 206.000 untuk pekan yang berakhir pada 4 September 2026.
Jumlah ini sedikit lebih tinggi dibandingkan konsensus 205.000 tetapi turun dari angka sebelumnya yang direvisi menjadi 207.000. Klaim lanjutan juga turun tipis menjadi 1,774 juta, dari 1,775 juta, serta berada di bawah konsensus 1,78 juta.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat dan belum mengalami peningkatan pemutusan hubungan kerja secara berarti. Kondisi ketenagakerjaan yang solid, bersamaan dengan inflasi produsen yang lebih tinggi, dapat membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama.
Bagi pasar Indonesia, penguatan ekspektasi suku bunga tinggi di AS berpotensi menekan rupiah dan membatasi aliran modal menuju aset negara berkembang.
7. Inflasi Produsen Jepang Agustus 2026
Hari ini, Jepang akan mengumumkan data inflasi produsen untuk Agustus 2026. Secara tahunan, harga produsen diperkirakan naik 7,4%, meningkat dari 7,2% pada Juli, sedangkan proyeksi berada pada level 7,8%.
Secara bulanan, harga produsen diperkirakan stagnan setelah sebelumnya naik 0,1%, meskipun proyeksi menunjukkan kemungkinan kenaikan 0,3%. Perbedaan antara perkiraan bulanan dan tahunan menunjukkan tekanan harga masih tinggi dibandingkan tahun lalu, tetapi momentumnya dalam jangka pendek berpotensi melambat.
Realisasi di atas konsensus dapat memperkuat yen karena meningkatkan peluang Bank of Japan melanjutkan normalisasi kebijakan. Sebaliknya, hasil yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk segera menaikkan suku bunga.
8. Inflasi Konsumen AS Agustus 2026
Fokus utama pasar hari ini akan ditutup dan tertuju pada inflasi konsumen AS periode Agustus yang dijadwalkan dirilis pukul 19.30 WIB.
Inflasi utama diperkirakan bertahan di level 3,4% secara tahunan di Agustus 2026, sedangkan secara bulanan diproyeksikan naik 0,4%, lebih tinggi dari 0,1% pada Juli.
Inflasi inti diperkirakan melambat menjadi 2,4% secara tahunan, dari 2,5%, sementara secara bulanan diperkirakan tetap tumbuh 0,2%. Dengan demikian, pasar menghadapi kemungkinan inflasi utama yang tetap tinggi tetapi tekanan harga inti yang sedikit mereda.
Angka di atas konsensus dapat memperkuat dolar AS dan menaikkan imbal hasil obligasi karena mengurangi peluang pelonggaran kebijakan Federal Reserve.
9. LPS Siapkan Penjaminan Polis Asuransi
LPS mengusulkan batas penjaminan polis sebesar Rp500 juta secara kumulatif bagi setiap tertanggung. Nilai tersebut diperkirakan sudah mencakup sekitar 97%-99% polis atau tertanggung.
Penjaminan dapat berbentuk pembayaran klaim yang jatuh tempo, pembayaran nilai polis ketika kontrak tidak dapat dilanjutkan, atau pemindahan polis kepada perusahaan asuransi lain.
Sebelumnya, pemegang polis tetap dilindungi melalui kewajiban perusahaan asuransi, pengawasan OJK, dan dana jaminan yang dibentuk masing-masing perusahaan.
Namun, belum ada skema penjaminan terpusat yang beroperasi seperti penjaminan simpanan bank. Mandat program ini sebenarnya sudah muncul dalam UU Perasuransian 2014, kemudian dipertegas melalui UU P2SK dengan menunjuk LPS sebagai pelaksananya.
Perusahaan asuransi peserta diusulkan membayar iuran awal sebesar 0,1% dari ekuitas dan iuran berkala setiap semester. Program ditargetkan mulai berjalan paling cepat April 2027. Kebijakan tersebut positif bagi kepercayaan terhadap industri asuransi, meskipun tambahan iuran berpotensi meningkatkan beban perusahaan.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Konferensi Pers Pra Peluncuran Produk Baru GMW Indonesia di Hall 7 ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
-
Diskusi Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia di Auditorium Politeknik Statistika STIS, Jatinegara, Jakarta Timur
-
Pembukaan Indonesia Sports Summit 2026 di Cendrawasih Room, Jakarta International Convention Center. Turut hadir Menteri Pemuda dan Olahraga.
- Inflasi Argentina Agustus 2026
- PPI Jepang Agustus 2026
- Pertumbuhan PDB Inggris YoY Juli 2026
- Suku Bunga Bank Sentral Rusia September 2026
- Inflasi Amerika Serikat Agustus 2026
- Inflasi Rusia Agustus 2026
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI)
- Pemberitahuan RUPS Rencana Lippo Cikarang Tbk (LPCK)
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sriwahana Adityakarta Tbk. (SWAT)
- Pemberitahuan RUPS Rencana Lippo Karawaci Tbk (LPKR)
- tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk. (BPII)
- tanggal DPS Dividen Tunai Interim Trisula International Tbk (TRIS)
- tanggal cum Dividen Tunai Interim Central Omega Resources Tbk (DKFT)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Next Article Adu Kuat Sentimen Rebalancing MSCI-Inflasi AS: IHSG-Rupiah Terguncang?