MARKET DATA
Newsletter

Harga Minyak US$107, Eropa Kerek Bunga, AS Beri Kabar Genting Hari Ini

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
11 September 2026 06:15
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: Infografis/10 Negara dengan Konsumsi Minyak Mentah Terbesar di Dunia, AS Terboros/Ilham

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham AS turun setelah harga minyak mentah AS menembus US$100 per barel. Investor semakin khawatir perang berkepanjangan di Timur Tengah akan memicu lonjakan inflasi.

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 316,56 poin atau 0,6% ke level 52.064,10. S&P 500 melemah 0,58% menjadi 7.591,70, sementara Nasdaq Composite melandai 0,65% ke 26.081,72.

Penurunan tersebut menjadi hari keempat berturut-turut bagi ketiga indeks utama Wall Street.

 

Kenaikan harga minyak kembali menekan sentimen pasar, seiring perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki bulan ketujuh.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup melonjak 6,7% menjadi US$102,48 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 5,9% menjadi US$107,63 per barel.

Kedua harga acuan tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.

Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga WTI telah melonjak 52,9%. Sepanjang tahun berjalan, WTI bahkan sudah melesat 78,5%.

Lonjakan harga minyak pada Kamis juga mendorong imbal hasil Treasury AS 10 tahun menembus 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023.

Saham-saham teknologi semikonduktor dengan beta tinggi yang sebelumnya menjadi motor reli pasar ikut tertekan. Investor khawatir kenaikan suku bunga dan harga minyak dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

 

Intel anjlok 5,6%, sedangkan Micron Technology turun 4,7%.

Di sisi lain, perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler seperti Alphabet dan Microsoft masih mencatat kenaikan kurang dari 1%.

Saham Apple justru melonjak 3,6% setelah perusahaan sukses meluncurkan smartphone lipat pertamanya.

Inflasi AS Masih Jadi Perhatian

Laporan inflasi tingkat produsen atau Producer Price Index (PPI) Agustus yang relatif moderat belum mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga dan harga minyak.

PPI Agustus naik 0,4% secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman, sesuai dengan konsensus Dow Jones.

Secara tahunan, PPI mencapai 5,4%, masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%.

Data tersebut dirilis sehari sebelum investor menantikan laporan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

Kedua indikator tersebut menjadi bagian penting dalam melihat arah inflasi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap indikator inflasi utama The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index. Data PCE baru akan dirilis setelah keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.

 

Stephen Coltman, Head of Macro di 21shares, mengatakan data PPI belum memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan depan.

Namun, lonjakan harga WTI kembali menembus US$100 dan imbal hasil Treasury yang mencapai level tertinggi baru membuat risiko bagi investor semakin besar menjelang rilis CPI.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak futures Fed Funds terakhir menunjukkan peluang 73% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah rapat pekan depan.

(gls/gls)


Most Popular
Features