MARKET DATA
Newsletter

Perang-Minyak Memanas, Penjualan Mobil RI Malah Ngegas: RI Sudah Aman?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 September 2026 06:40
Markets Wall Street. (AP/Courtney Crow)
Foto: Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)

Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 628,18 poin atau 1,18% menjadi 52.786,07. Indeks yang berisi 30 saham tersebut mencatat penurunan untuk sesi kedua berturut-turut, setelah pada Jumat lalu terkoreksi 272 poin.

S&P 500 turun 0,58% menjadi 7.673,52, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,32% menjadi 26.421,41. Keduanya juga mencatat penurunan selama dua sesi perdagangan berturut-turut.

Pasar saham AS tutup pada Senin karena libur Labor Day.

Tekanan terhadap saham meningkat seiring harga minyak yang terus menanjak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik untuk hari keenam berturut-turut, reli terpanjang sejak kenaikan selama tujuh hari pada Maret, setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan pada akhir pekan.

 

Kontrak minyak mentah Brent ditutup naik hampir 1% menjadi US$97,92 per barel, tetapi kemudian kembali menanjak hingga menyentuh US$99 per barel setelah perdagangan berakhir.

Lonjakan harga energi membuat perhatian investor semakin tertuju pada data inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini.

Data tersebut diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter menjelang rapat Federal Reserve (The Fed) pekan depan. Data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) untuk Agustus masing-masing akan dirilis pada Kamis dan Jumat.

Kontrak berjangka suku bunga The Fed terakhir menunjukkan peluang sebesar 59% bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah rapat 15-16 September, berdasarkan CME Group FedWatch.

"Jika data CPI menunjukkan kejutan kenaikan, akan sangat sulit bagi mereka untuk tidak menaikkan suku bunga," kata Mark Hackett, kepala strategi pasar di Nationwide, kepada CNBC International.

 

Sektor semikonduktor menjadi titik terang dalam perdagangan Selasa dan membantu mengimbangi tekanan akibat kenaikan harga minyak. VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik 1,2%. Saham Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melonjak 9,1% dan 5,9%. Sementara itu, Broadcom menguat 3%.

Lonjakan harga energi juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury naik. Imbal hasil surat utang AS bertenor 10 tahun pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak November 2023. Sementara imbal hasil Treasury bertenor dua tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Pelaku pasar juga harus menghadapi kembali ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada. Tarif balasan Kanada terhadap produk AS senilai sekitar US$20 miliar mulai berlaku pada Selasa.

Presiden Donald Trump pada Senin mengatakan, menjelang pemberlakuan tarif baru tersebut, produsen pesawat Kanada Bombardier tidak dapat menjual produknya di AS kecuali Kanada mulai memproduksi produk tersebut di Amerika Serikat.

(gls/gls)


Most Popular
Features